Kamis, 07 Februari 2013

Renungan harian: Senin, 11 Februari 2013

Renungan harian: Senin, 11 Februari 2013

Kej : 1 : 1-19; Mrk : 6 : 53-56 -  Hari orang sakit sedunia                  

 

Sungguh Besar Karya Allah

            Liturgi Sabda dalam dua hari ini, sebelum memasuki masa persiapan Paska, mengajak kita untuk mengagumi keindahan ciptaan sebagaimana telah keluar dari tangan Sang Pencipta, sebelum dirusak manusia pertama. Sungguh elok karya agung Allah menciptakan dan mengatur semuanya. Kekaguman ini semakin menyentuh manusia modern karena ilmu dan teknologi telah memperluas pengetahuan, misalnya manusia meneliti bentuk-bentuk bintang, jarak mereka dan jutaan planet serta kekayaan alam yang tak terbatas sekaligus melampaui jangkauan manusia sendiri.

                Dalam kutipan Injil terdapat wajah yang berbeda: "mereka mengusung orang-orang sakit... ke mana pun Yesus pergi... orang meletakkan orang-orang sakit dan ... semua yang menjamah-Nya menjadi sembuh". Betapa besar pengaruh dan kasih Yesus! Yesus ingin meneruskan karya penyembuhan-Nya. Yesus ingin kita menjadi alat-Nya untuk memberikan kesembuhan kepada sesama melalui kasih sayang-Nya. Melalui kasih sayang ini kita hendaknya menyebarkan kekuatan ini kepada sesama di sekitar kita. Bersediakah dan mampukah kita?

                Beato Yohanes Paulus ke-2, sejak tahun 1993 menetapkan hari ini,  11 Februari,  sebagai hari orang sakit sedunia. Jadi, tidak heran jika di Lourdes tempat penampakan Bunda Maria, setiap tahun jutaan manusia berziarah sambil mengarahkan orang sakit ke gua penampakan itu setelah diberkati dengan Ekaristi Kudus. Di kota kecil ini setiap hari ribuan orang sakit sembuh atas kemurahan hati Bunda tersuci melalui mukjizat-mukjizat (SS).

 

Pelita Hati: Yesus ingin kita menjadi alat-Nya untuk memberikan kesembuhan kepada sesama melalui kasih sayang-Nya 

Renungan harian: Minggu, 10 Februari 2013

Renungan harian: Minggu, 10 Februari 2013 – hari minggu ke-5 masa biasa

Yes: 6 : 1-2a.3-8; 1Kor : 15 : 1-11; Lk : 5 : 1-11

Panggilan dan Perutusan

            Wejangan atau pesan dari ketiga bacaan pada hari Minggu ini berkaitan dengan panggilan dan perutusan: Yesaya, Paulus, dan para rasul. Untuk mewartakan Kerajaan Allah pewarta itu harus mengenal-Nya, melalui panggilan, karena yang diwartakan bukan ajaran manusia melainkan perwahyuan. Allah menyatakan diri kepada Yesaya sebagai "Yang Kudus".  Di hadapan "Yang Kudus" manusia mengenal dirinya sebagai orang berdosa. Yesaya, Paulus, dan Petrus diutus untuk mewartakan kekudusan ilahi dan kemuliaan-Nya atas segalanya melalui pertobatan.

Panggilan ini bertujuan untuk membangun Kerajaan Allah bersama dengan dukungan umat. Kesatuan ini sebagai kriteria panggilan dari  Tuhan dan bukan pilihan sendiri. Untuk itu dibutuhkan kebebasan dari kedua pihak: Allah bebas memanggil dan manusia bebas menjawab. Oleh sebab itu, panggilan dan perutusan merupakan karunia sesuai dengan tugas atau peranan masing-masing. Dalam menghayati Tahun Iman ini, misi apostolik/kerasulan merupakan Misi Kristus yang diserahkan kepada Gereja. Tanggung jawab ini dipikul oleh seluruh umat yang telah dibaptis.

                Pelaksanaan pewartaan kabar keselamatan ini di beberapa daerah tertentu sungguh mendesak. Untuk itu perlu melibatkan umat mengingat jumlah imam yang sungguh terbatas, misalnya, dalam keluarga, masyarakat, dan lain-lain. Santo Krispinus, seorang bruder Kapusin,  yang selama 40 tahun mencari nafkah bagi para saudara di tengah umat, berkata iman kita akan bersinar apabila kita membuka dua pintu: satu kepada Penyelenggaraan ilahi dan satu kesaksian hidup baik (SS).

 

Pelita Hati: Panggilan dan perutusan merupakan karunia sesuai dengan tugas atau peranan masing-masing  

Renungan harian: Sabtu, 09 Februari 2013

Renungan harian: Sabtu, 09 Februari 2013

Ibr : 13 : 15-17.20-21; Mrk : 6 : 30-34

 

Pentingnya Istirahat Rohani

 

             Jiwa dan sikap doa kita hendaknya berciri syukur dan pujian atas karunia yang berlimpah dari Allah. Sebagaimana pada akhir Doa syukur agung,  imam berkata: "dengan pengantaraan Kristus, bersama Dia  dalam  Dia bagi-Mu Allah Bapa... dalam persekutuan dengan Roh Kudus, segala hormat dan kemuliaan...". Kita gemakan dengan Amin. Dengan penghayatan sikap ini kita rela memikul derita dan percobaan sebagaimana disarankan dalam bacaan hari ini, meneruskan pengorbanan kasih Yesus yang tak terbatas.

                Injil hari ini dapat dikaitkan dengan kebutuhan orang beriman agar berhenti sejenak dari kesibukan untuk mencari ketenangan, suasana "sabat" istirahat rohani: ora et labora – dalam kesibukan sehari-hari penting waktu untuk berefleksi dan bermeditasi serta menemukan nilai perutusan. Pentingnya waktu untuk istirahat bagi Yesus tampak ketika perutusan pertama para murid-Nya setelah berhasil mengusir setan, menyembuhkan orang sakit tidak begitu menarik perhatian Yesus sebab Dia ingin istirahat: " marilah ke tempat yang sunyi supaya kita sendirian dan beristirahat seketika".

Kita juga sering seperti murid-murid itu membanggakan hasil pekerjaan dan keuntungan serta sukses yang kita raih. Kita tidak sadar kalau kita membutuhkan pemulihan tenaga fisik dan rohani: makan dan berdoa. Jadi, kita membutuhkan suasana hening, mengasingkan diri dari  kekhawatiran, dari apa saja yang mengeringkan hidup kita sehingga kita tetap prima. Dengan suasana demikian kita akan dapat lebih dekat pada Tuhan (SS).

 

Pelita Hati: Ora et labora  

Senin, 04 Februari 2013

Renungan harian: Jumat, 08 Februari 2013

Renungan harian: Jumat, 08 Februari 2013

Ibr : 13 : 1-8; Mrk : 6 : 14-29

Jati Diri Orang Kristen

Dalam kutipan bacaan pertama dilukiskan bagaimana jati diri seorang kristiani: menghayati cintakasih, kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan. Setiap pengikuti Kristus harus mewujudkannya sesuai dengan panggilan mereka. Cintakasih sebagai hukum Tuhan dapat terwujud dalam persaudaraan dengan saling mengasihi dan memperhatikan.

                Kebesaran Yohanes Pembaptis terletak pada keberanian dan kesetiaan pada Hukum Tuhan. Dia tidak gentar sedikit pun ketika membela kebenaran di hadapan penguasa. Dia merupakan suara Tuhan dan saksi-Nya untuk membela kebenaran bahkan mengorbankan hidupnya untuk itu. Kehidupan dan kemartiran Yohanes merupakan cermin orang beriman yang tulen.

                Belum lama ini Sri Paus memberi gelar orang kudus kepada seorang wanita bernama Josephina Bakhita yang dalam usia 7 tahun diculik dari daerah Afrika, Sudan, dan dijual sebagai budak. Selama bertahun-tahun ia berganti majikan dan menjadi baby-sister di Italia. Kemudian ia minta dibaptis dan masuk biara. Setelah sekian tahun melaksanakan pekerjaan yang sederhana dan rendah, ia ditanya: "Apabila Josephina bertemu dengan orang yang menculikmu, bagaimana sikapmu?" Ia menjawab: "Aku akan berlutut dan mencium kaki orang itu, karena bila tidak terjadi perbuatan mereka, saya tidak akan bertemu dengan Tuhan Yesus".

Perjalanan hidup setiap orang telah ditentukan oleh Tuhan seperti Yohanes dan Josephina misalnya. Maka kita sebagai orang kristiani hendaknya mampu menyucikan dunia, menerangi ciptaan dengan cahaya Kristus. Bukan itu saja bahkan lebih baik lagi apabila kita mampu menjadi Yohanes Pembaptis dalam masyarakat kita (SS).

 

Pelita Hati: Perjalanan hidup setiap orang telah ditentukan oleh Tuhan

Renungan harian: Kamis, 07 Februari 2013

Renungan harian: Kamis, 07 Februari 2013

Ibr: 12 : 18-19.21-24; Mrk : 6 : 7 -13

Hidup dalam Yesus

            Bacaan pertama membandingkan Perjanjian Lama melalui Musa dan Perjanjian Baru melalui Yesus Kritus. Bersama Yesus kita masuk ke dalam keintiman, kesatuan dengan Allah dan lebih-lebih dekat dengan Pengantara Perjanjian Baru, Yesus Kristus. Perjanjian Lama menimbulkan ketakutan atas penampakan Allah. Yang kedua terjadi karena darah Yesus dalam keadaan gembira menyatukan sebagai anggota Kerajaan-Nya.

                Dari kutipan Injil hari ini, Penginjil Markus dalam penentuan oleh Yesus tentang kelompok 12 rasul ditulis: "dipanggil untuk tinggal bersama-Nya" dan "untuk diutus".  Mereka dipanggil untuk hidup dalam persatuan dengan Yesus dan mewartakan ajaran-Nya: inilah dinamika Yesus, bersatu dengan Bapa dan Pewarta kabar gembira.

Gereja zaman modern ini memiliki sejumlah besar martir yang melampaui para martir  di zaman romawi dan mereka telah mewujudkan kedua realitas Injil hari ini: dipanggil untuk tinggal bersama-Nya dan diutus khususnya melalui kesaksian hidup sampai penumpahan darah. Kesaksian hidup kristiani yang dituntut kini bukanlah lagi dengan penumpahan darah melainkan menjauhi segala pegangan berupa harta benda, jaminan hidup. Kita, walaupun tidak memilih gaya hidup seperti para martir tersebut, hendaklah melepaskan diri dari segala kekhawatiran dan pengaruh hidup yang berasal dari keterikatan pada yang fana dan beralih ke Kebebasan rohani kekuatan Injil! Semoga kita dapat menghidupi hidup dalam Kristus penuh dengan keceriaan dan rela memberi diri untuk sesama (SS).

 

Pelita Hati: Kita hendaknya melepaskan diri dari segala kekhawatiran dan pengaruh hidup yang berasal dari keterikatan pada yang fana

Renungan harian: Rabu, 06 Februari 2013

Renungan harian: Rabu, 06 Februari 2013

Ibr : 12 : 4-7.11-15; Mrk : 6 : 1-6 – Pw St. Paulus Miki, dkk

 

Berkarya dengan Iman

 

            Di kota asal-Nya, Nazaret, Yesus menunjukkan jati diri melalui Sabda yang mengagungkan, kebijaksanaan yang dimiliki, dan kuasa dengan mukjizat. Tetapi, ketidakpercayaan dan ketidakpahaman penduduk akan karya Yesus membuat mereka memperlakukan Yesus sama dengan para nabi. Sikap tidak percaya ini menghalangi Yesus dapat diterima sebagai utusan ilahi. Mengapa penduduk Nazareth menolak-Nya setelah mereka sendiri mengagumi perbuatan ajaib yang telah dilaksanakan di tempat lain?

Sebenarnya kita juga tidak beda dengan penduduk Nazareth. Karena itu, kita juga perlu mengatakan kepada Tuhan: ampunilah karena aku sombong, angkuh karena membaca dengan dangkal kejadian-kejadian dalam hidupku dan dalam masyarakat. Tuhan, Engkau tidak berbuat banyak karena ketidakpercayaanku. Engkau tidak jauh dari padaku, akulah yang jauh daripada-Mu.

Hari ini Gereja memperingati St. Paulus Miki, Dkk. Paulus Miki dkk. merupakan para misionaris dan martir pertama yang dipenjarakan bersama dengan 26 orang kristiani, sebagian katekis awam, misdinar di Jepang. Tuduhan utama kepada mereka karena percaya kepada Yesus. Paulus Miki, dieksekusi di bukit Nagasaki, sebagian mati ketika menyanyikan mazmur, yang lain sedang berdoa dalam keheningan, kemudian mereka bersama-sama memohon pengampunan bagi yang membunuhnya. Kiranya kita dapat meneladan iman mereka dalam memberi pengampunan pada orang yang bersalah pada kita (SS).

 

Pelita Hati: Tuhan, Engkau tidak berbuat banyak karena ketidakpercayaanku

Renungan harian: Selasa, 05 Februari 2013

Renungan harian: Selasa, 05 Februari 2013

Ibr :  12 : 1-4; Mrk : 5 : 21-43 – Peringatan St Agata, perawan dan martir

 

Perjuangan Tiada Batas

 

            Bacaan pertama menggambarkan keadaan orang beriman sebagai suatu pertandingan olahraga. Suatu pertandingan yang penuh dengan semangat agar sampai ke finis – tujuan – kemuliaan di surga. Dalam perjuangan ini hati, pikiran, dan segalanya harus terarah kepada Kristus, yang akan menyempurnakan iman.

                Memandang wajah Yesus dalam perjuangan hidup berarti juga berbicara, memohon, mengungkapkan kebingungan, ketidaksanggupan seperti Yairus mengenai putrinya: "datanglah Tuhan karena putriku sakit, mau disembuhkan dan hidup".  Ia memandang wajah Yesus seperti wanita yang ingin menyentuh jubah-Nya. Wanita yang sakit itu malu mengungkapkan permintaannya sehingga dia mengikuti Yesus dari belakang, tapi imannya menyembuhkan dia: "Anakku, imanmu telah menyelamatkan engkau". Itulah arti memandang Yesus karena iman, berbicara dengan-Nya karena iman, memohon karena iman.

Dalam Tahun Iman, Gereja, umat beriman mewujudkan kehadiran dan sentuhan Yesus melalui Sabda yang selalu  hidup dan setiap saat memberi inspirasi dalam  Sakramen Ekaristi: " mereka bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam persekutuan dan selalu berkumpul untuk memecahkan roti (Ekaristi) dan berdoa" (Kis : 2 : 42). Dalam Tahun iman, bila kita ingin berbicara tentang Allah, hendaknya kita lebih dulu memandang Allah dalam diri Yesus. Dunia ini  sangat memerlukan orang yang tahu berbicara tentang Injil sehingga sanggup berbicara dengan Yesus.

Hari ini Gereja memperingati seorang pejuang, Santa Agata (arti namanya yang paling kudus), yang menjadi martir karena setia pada Sang Pengantin, Yesus Kristus. Kesetiaan St. Agata pada Sang Pengantin membuatnya menjadi pemenang jaya dalam perjuangan ini. Kiranya kita dapat meneladan perjuangan orang kudus ini (SS).

 

Pelita Hati: Bila kita ingin berbicara tentang Allah, hendaknya kita lebih dulu memandang Allah dalam diri Yesus