Kamis, 10 Mei 2012

Renungan Harian: Senin 14 Mei 2012

Renungan Harian: Senin 14 Mei 2012

Yoh 15:9-17

Pada waktu itu berdirilah Petrus di tengah  saudara-saudara yang sedang berkumpul, kira-kira seratus dua puluh orang banyaknya. Ia berkata,"Hai, Saudara-saudara, harus digenapi nas Kitab Suci, yang disampaikan Roh Kudus dengan perantaraan Daud, tentang Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus itu. Dahulu ia termasuk bilangan kami, dan mengambil bagian di dalam pelayanan ini. Sebab ada tertulis dalam Kitab Mazmur: Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah tidak ada penghuni di dalamnya. Dan lagi: Biarlah jabatannya diambil orang lain. Jadi harus ditambahkan kepada kami satu orang yang dipilih dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke surga meninggalkan kami. Bersama kami ia harus menjadi saksi tentang kebangkitan Yesus." Lalu mereka mengusulkan dua orang: Yusuf yang disebut Barabas dan juga bernama Yustus, dan Matias. Mereka semua lalu berdoa, "Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang! Tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini, untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan....

 

KASIH LEWAT PERBUATAN

Pada hari ini kita merayakan Pesta St. Matias. Ia seorang rasul yang telah mempersembahkan dirinya mewartakan kabar gembira dengan menjadi murid Yesus. Ia yang hidup bersama dengan sang Guru, telah mengalami banyak tantangan dan perjuangan, bukan hanya dalam pewartaan, tetapi juga bagaimana ia harus menjadi pengikut sejati Yesus Kristus. Tuntutan dan perjuangan yang sangat berat kerap mewarnai perjalanannya bersama Yesus. Ia menyadari betul pesan Yesus bahwa dengan menjadi murid, ia harus meninggalkan semuanya, bahkan ia akan dibenci oleh dunia.

Namun, St. Matias, mengabaikan ini semua. Cinta-Nya yang besar akan sang Guru dan semangatnya untuk mewartakan kasih, menjadi kekuatan luar biasa yang mampu menggerakkan hatinya untuk menghadapi setiap tantangan. Teladan Yesus menjadi inspirasi yang tak terkira baginya.

Kasih St. Matias adalah "harta" terindah baginya dalam tugas kerasulannya. Ia mengasihi Allah, mengasihi Yesus yang memanggilnya, dan juga mengasihi tugas panggilannya. Kasih itu yang menjadi dasar utama baginya untuk pergi mewartakan kabar gembira. Kasih yang ia lihat dan alami dalam hidup bersama dengan Yesus menjadi inti hidup dan panggilannya.

Sebagai orang Kristen yang hidup dalam suatu komunitas, tentu kita juga mengalami banyak kebahagiaan, kegembiraan, dan kedamaian. Itu adalah buah kasih yang kita terima dari Allah lewat sesama. Maka mari kita mewartakan kasih  itu dengan perkataan dan terutama lewat perbuatan (YIS).

 

Pelita Hati: Buah kasih Allah pada kita adalah kebahagiaan, kegembiraan, dan kedamaian.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Minggu 13 Mei 2012

Renungan Harian: Minggu 13 Mei 2012

Yoh 15:9-17

Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Seperti Bapa mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh." Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya. Tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu, segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku ....

 

MODEL KASIH

Injil hari ini sudah kita dengar dan renungkan pada beberapa hari yang lalu. Temanya ialah kasih adalah sebuah perintah dan harapan. Dalam Yohanes 3:16 dikatakan, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Putra-Nya yang Tunggal, sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa tetapi akan memperoleh hidup yang kekal."

Sebagai utusan Bapa, Yesus sungguh taat dan Ia datang ke dunia untuk mewartakan kasih lewat: mengajar, berkhotbah, menyembuhkan, dan mengampuni. Maka rangkaian ketaatan Yesus kepada Bapa, diwujudkan dengan kasih-Nya kepada dunia dan umat manusia. Karena kasih-Nya yang dalam begitu besar Ia rela berkorban demi hidup baru yang telah dijanjikan Allah bagi kita.

Yesus mengatakan, "Seperti Bapa mengasihi Aku, demikianlah Aku mengasihi kalian. Hendaklah kalian tetap hidup sebagai orang yang Kukasihi. Kalau kalian menjalankan perintah-perintah-Ku, kalian tetap setia kepada kasih-Ku, sama seperti Aku tetap setia kepada kasih Bapa karena menjalankan perintah-perintah-Nya."

Hal ini sejalan dengan hukum terbesar dalam Iman kita, mengasihi Allah dan mengasihi Manusia.  Ini adalah panggilan dan perintah bagi kita umat Kristen. Hendaknya kita melaksanakan dan menghayati perintah ini dengan tulus ikhlas. Kita rela mengasihi satu sama lain karena Allah sendiri telah mengasihi kita dengan mengutus Putra Tunggal-Nya untuk menyelamatkan kita. Karena itu, model kasih kita ialah kasih Yesus dengan Bapa-Nya. Ketaatan akan perintah-Nya dapat diwujudkan dengan saling mengasihi satu sama lain (YIS).

 

Pelita Hati: Seperti Bapa mengasihi Aku, demikianlah Aku mengasihi kalian.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Sabtu 12 Mei 2012

Renungan Harian: Sabtu 12 Mei 2012

Yoh 15:18-21

Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,

"Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, sebab Aku telah memilih kamu dari dunia; maka dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu ; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku."

 

SATU DALAM PERJUANGAN

Yesus adalah sang Guru yang sangat dekat dengan para murid-Nya. Ia sungguh menjadi motivator, dan penasihat ulung bagi mereka. Seperti dalam Injil hari ini, Yesus memberi kata-kata peneguhan bagi para murid, "Kalian akan dibenci oleh dunia, tetapi ingatlah bahwa Aku lebih dahulu dibenci oleh dunia." Ini adalah semacam "konsekuensi" menjadi pengikut dan murid Yesus. Yesus mengatakan bahwa tantangan, perjuangan, dan bahkan penderitaan yang akan dialami oleh mereka, itu juga menjadi perjuangan hidup Yesus sendiri. Itulah risiko dalam kesatuan dan persaudaraan.

Kita adalah murid dan pengikut Yesus. Baptisan yang kita terima dan status yang kita sandang, sebagai orang Kristen, menegaskan hal itu. Maka tantangan hidup yang kita alami juga tidaklah ringan walau beda dengan perjuangan yang dihadapi dan dialami oleh Yesus dengan murid-murid-Nya. Tantangan kita sekarang lebih dari dalam diri kita sendiri. Bagaimana kita hidup dan menjadi orang Kristen yang bermutu dan militan. Bagaimana kita mempertanggungjawabkan iman kita sebagai orang Kristen yang baik.   

Maka, pertanyaan sederhana pada kita ialah, apakah kita bangga menjadi murid dan pengikut Yesus? Apakah kita gembira menjadi orang Kristen? Atau apakah kita berani menunjukkan identitas kita sebagai orang Kristen di mana saja, kapan dan dalam situasi apa pun? (YIS)

 

Pelita Hati: Baptisan yang kita terima dan status yang kita sandang, sebagai orang Kristen, menegaskan kita sebagai murid dan pengikut Kristus.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Minggu, 06 Mei 2012

Renungan Harian: Jumat 11 Mei 2012

Renungan Harian: Jumat 11 Mei 2012

Yoh 15:12-17

Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,

"Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya. Tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah kudengar dari Bapa-Ku. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah, dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu : Kasihilah seorang akan yang lain."

 

PENGORBANAN  ADALAH  KASIH SEJATI

Injil hari ini kembali memaparkan tentang kasih. Yesus menegaskan sebuah nilai dari kasih, yakni pengorbanan. Dia sendiri mengatakan, "Orang yang mengasihi sahabat-sahabatnya adalah orang yang memberi hidupnya untuk mereka." Atau dengan bahasa lain, tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang memberi hidupnya demi sahabat-sahabatnya.

Kita tahu dan mengimani bahwa Yesus bukan hanya mengatakan, tetapi Ia lebih dahulu mengasihi kita. Ia telah berkorban di kayu salib karena Ia sangat mengasihi kita. Pengorbanan hidup-Nya adalah bukti yang tidak perlu diragukan. Ia taat kepada Bapa-Nya dan ketaatan itu telah dibuktikan dengan Hidup-Nya sendiri.

Hal yang sama Yesus minta dari kita. Yesus mengatakan, "Kalian adalah sahabat-sahabat-Ku, kalau kalian melakukan apa yang Kuperintahkan kepadamu." Perintah-Nya ialah saling mengasihi sebagaimana Ia telah mengasihi kita.

Dalam pelaksanaan dan penghayatan kasih, kita tidak perlu seperti Yesus yang telah menumpahkan darah dan mengorbankan diri-Nya di kayu salib. Kita bisa mewujudkannya dalam konteks dan cara yang sederhana, namun bermakna bagi sesama kita. Memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan merupakan cara indah menunjukkan kasih itu. Kendati sedikit, namun itu sangat bermakna bagi mereka. Semoga (YIS).

 

Pelita Hati: Memberi bantuan kepada orang yang membutuhkan merupakan cara indah menunjukkan kasih.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Kamis 10 Mei 2012

Renungan Harian: Kamis 10 Mei 2012

Yoh 15:9-11

Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu ; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, sama seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh."

 

HIDUP DALAM KASIH

Pada suatu hari suami bertanya kepada istrinya yang sedang memasak di dapur, "Apakah kamu masih mencintaiku?" Istrinya hanya diam dan terus memasak. Suaminya bertanya untuk kedua kalinya dengan hal yang sama, "Apakah kamu masih mencintaiku?" Sang istri tetap tak bergeming. Dengan suara yang lebih kuat, suaminya bertanya lagi, "Apakah kamu masih tetap mencintaiku?" Istrinya menoleh dan mengatakan, "Setiap hari saya memasak untukmu. Saya selalu menyediakan kopimu waktu sarapan, menyetrika pakaianmu. Saya juga tidak pernah lupa mendoakanmu. Sekarang kamu bertanya, "Apakah saya masih mencintaimu? Saya pikir apa yang telah saya perbuat adalah jawabannya."

Injil hari ini merupakan kelanjutan dari Injil kemarin, tentang Yesus adalah pokok anggur yang benar. Fokus utama hari ini ialah kasih. Yesus mengatakan, "Seperti Bapa mengasihi Aku, demikianlah Aku mengasihi kamu. Hendaklah kalian tetap hidup sebagai orang yang Kukasihi." Sungguh sangat dalam makna sapaan Yesus itu. Kita harus saling mengasihi dan kasih Yesus dengan Bapa-Nya sebagai model kasih kita. Ketaatan yang penuh cinta adalah bukti kasih sejati. Karena ketaatan Kepada Bapalah Yesus relah berkorban demi Kasih itu kepada kita. Maka Yesus adalah kasih sejati.

Kita dipanggil untuk saling mengasihi. Mengasihi bukan hanya dalam perkataan dan ungkapan manis, tetapi lewat perbuatan konkret. Yesus telah menunjukkan ini semua. Semoga karena ketaatan kita kepada perintah-perintah-Nya, kita juga mampu hidup dalam kasih dan berbuat kasih bagi sesama (YIS).

 

Pelita Hati: Ketaatan yang penuh cinta adalah bukti kasih sejati.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Rabu 9 Mei 2012

Renungan Harian: Rabu 9 Mei 2012

Yoh 15:1-8

Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,

"Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya, dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya supaya berbuah lebih banyak.

Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.

Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku,  ia dibuang keluar seperti ranting yang menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, ....

 

BERBUAH DALAM KESATUAN DENGAN YESUS

Injil hari ini berbicara tentang Yesus adalah pohon anggur sejati.  Dari judul ini saja kita bisa mengurai banyak pesan dan makna. Kesatuan dengan sang pohon anggur sejati akan menghasilkan buah, sebaliknya terpisah akan mengakibatkan kegersangan, tidak berbuah, dan akhirnya akan mati. Karena itu, ada dua hal penting untuk kita: bersatu maka akan berbuah, terpisah tidak berbuah dan akan dibuang.

Yesus sendiri mengatakan, "Akulah pohon anggur sejati, dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap  cabang pada-Ku yang tidak  berbuah, dipotong-Nya, dan setiap cabang yang berbuah akan dibersihkan supaya berbuah lebih banyak. Cabang sendiri tidak akan dapat  berbuah, kecuali kalau ia tetap pada pohonnya."

Injil ini memberi gambaran konkret hidup kita sebagai umat Kristen. Kita tidak akan mampu menjalankan segala rencana hidup kalau kita terpisah dari Yesus. Kita tidak akan mampu mencapai hidup bahagia kalau kita hanya mengandalkan kekuatan diri. Kita harus menimba kekuatan, kebijaksanaan yang kita dapat dari sang pohon anggur sejati, Yesus Kristus. Maka kesatuan dengan Dia, itu mutlak bagi semua orang Kristen yang mendambakan hidupnya berbuah banyak.

Bagaimana cara sederhana dan konkret bersatu dengan Yesus? Kita tidak usah berpikir muluk dan jauh-jauh. Doa yang penuh percaya dan tulus, adalah cara yang indah. Pergi ke Gereja juga merupakan jalan yang kita imani akan mempersatukan diri kita. Intinya mengimani ajaran cinta kasih. Kesatuan akan Yesus akan memberi buah berlimpah seperti; damai, kebaikan, kebahagiaan, dan kehidupan kekal. Bersatulah dengan Dia, maka kita akan berbuah. Semoga (YIS).

 

Pelita Hati: Kesatuan dengan sang pohon anggur sejati akan menghasilkan buah, sebaliknya terpisah akan mengakibatkan kegersangan, tidak berbuah, dan akhirnya mati.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Selasa 8 Mei 2012

Renungan Harian: Selasa 8 Mei 2012

Yoh 14:27-31a

Dalam amanat perpisahan-Nya Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,

"Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu! Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu. Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar daripada Aku. Sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya apabila hal itu terjadi, kamu percaya. Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa....

 

DAMAI SEJAHTERA AKAN MENJADI MILIK KITA

Injil hari ini berbicara dalam konteks kasih. Kasih yang tidak pernah berkesudahan ialah Yesus yang telah memberi diri-Nya sebagai tebusan dosa manusia.  Maka untuk menjadi lingkaran kasih itu, Yesus juga meminta kita untuk saling mengasihi. Model kasih kita tentu kasih-Nya yang sejati dan tidak pernah berubah, kendati dalam situasi apa pun. Kasih sejati itu tidak mengenal waktu dan tempat, maka Yesus mengatakan, "Aku akan pergi, tetapi Aku akan datang kembali. Kalau kalian mengasihi Aku, kalian akan senang Aku pergi  kepada Bapa, sebab Bapa lebih besar daripada-Ku." Dengan ini Yesus juga menegaskan bahwa Ia harus kembali kepada Bapa, yang Ia taati. Yesus mengasihi Bapa-Nya dan melakukan segala yang diperintahkan Bapa kepada-Nya.

Kasih adalah lem perekat yang mempersatukan  relasi hidup kita satu sama lain. Kasih juga merupakan dasar hidup kita sebagai umat Kristen. Maka Yesus dalam pewartaan-Nya sering mendorong dan menganjurkan kita untuk hidup dalam kasih, berbuah dalam kasih.

Namun, kalau kita meneropong realitas hidup saat ini, barangkali kita "sedih" karena umat manusia hidup jauh dari kasih. Atau barangkali erat dengan pengalaman kita sendiri, di mana masih ada rasa benci, sakit hati, dan dendam.  Kenyataan lain, banyak orang berbicara tentang kasih, namun sangat kurang dalam tindakan dan perbuatan.  Karena itu, kasih bukan sebatas kata indah. Kasih juga bukan hanya di mulut, namun harus diwujudkan dalam perbuatan konkret. Kasih sejati akan melenyapkan ketakutan, kebencian, dan balas dendam.

Kalau ini nyata dalam diri kita maka damai sejahtera yang dijanjikan Yesus sebagaimana Injil  katakan, akan bergema dalam diri dan hidup kita. Damai itu akan menjadi milik kita kalau kita saling mengasihi dan menunjukkan kasih itu, walau dalam situasi apa pun. Semoga (YIS).

 

Pelita Hati: Kasih adalah lem perekat yang mempersatukan  relasi hidup kita satu sama lain.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.