Selasa, 03 April 2012

Renungan Harian: Jumat 6 April 2012

Renungan Harian: Jumat 6 April 2012

Yoh 18:1-19:42

Seusai perjamuan Paskah, keluarlah Yesus dari ruang perjamuan bersama dengan murid-murid-Nya, dan mereka pergi ke seberang sungai Kidron. Di situ ada suatu taman. Yesus masuk ke taman itu bersama dengan murid-murid-Nya. Maka datanglah juga Yudas ke situ bersama sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi. Mereka datang lengkap dengan lentera, suluh dan senjata. Yesus tahu semua yang akan menimpa diri-Nya. Maka Ia maju ke depan dan berkata kepada mereka, "Siapakah yang kamu cari?" Jawab mereka, "Yesus dari Nazaret!" Kata Yesus kepada mereka, "Akulah Dia." Yudas yang mengkhianati  Yesus berdiri juga di situ bersama-sama mereka. Ketika Yesus berkata kepada mereka 'Akulah Dia', mundurlah mereka, dan jatuh ke tanah. Maka Yesus bertanya pula, "Siapakah yang kamu cari?" Jawab mereka, "Yesus dari Nazaret!" Jawab Yesus, "Telah Kukatakan kepadamu, Akulah Dia. Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi." Demikianlah terjadi supaya genaplah firman yang telah dikatakan-Nya: Dari mereka yang Engkau serahkan kepada-Ku, tidak seorang pun yang Kubiarkan hilang. Lalu Simon Petrus, yang membawa pedang, menghunus pedang ....

SENGSARA MEMBAWA NIKMAT

Bagaimana mungkin sengsara membawa nikmat? Apa mungkin dari pengalaman orang yang kita cintai meninggal dengan tiba-tiba dapat menguatkan iman kita? Mungkinkah sakit yang tak tersembuhkan oleh dokter dikatakan sebagai berkat?

Benar bahwa hal itu tidak mudah dipahami. Yesus sebagai Hamba Tuhan harus menderita sengsara, wafat di salib. Kematian dan penderitaan-Nya menjadi berkat bagi banyak orang. Model ketaatan Yesus sebagai Anak Allah dan Imam Agung kepada Bapa jadi contoh bagi kita. Kerelaan-Nya dan perbuatan untuk memilih jalan derita menjadi bukti yang tidak dapat disangkal. Kristus taat sampai wafat-Nya di salib. Sebab itu Allah mengagungkan Dia. Nama luhur dianugerahkan kepada-Nya.

Kisah sengsara dan kematian Yesus dalam Injil mau menjelaskan kasih Allah yang begitu besar. Salib yang menjadi tanda kebencian telah diubah oleh Yesus menjadi tanda kasih. Berkat salib maka kematian diubah jadi kehidupan. Sungguh, melalui sengsara-Nya kita dibawa kepada yang nikmat yaitu keselamatan.

Sampai zaman sekarang penderitaan dahsyat belum berhenti. Tsunami terus menjadi kekuatan alam yang menakutkan. Gempa bumi menjadi "hantu" yang menakutkan. Orang saling membunuh, saling mengusir dan menggusur, saling mencaci maki. Masihkah ada hati untuk memberikan perhatian bagi yang menderita? Marilah hari ini kita belajar pada Yesus yang sengsara dan wafat bagi kita semua (BTK).

 

Pelita Hati: Salib bukan untuk dibenci namun untuk dicintai.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar