Senin, 29 Juli 2013

Renungan Harian: Rabu, 31 Juli 2013

Renungan Harian: Rabu, 31 Juli 2013

Kel 34; 29-35; Mat. 13:44-46 - Pw Santo Ignatius Loyola

 

Demi Mutiara yang Indah

 

Perumpamaan tentang harta yang terpendam di ladang dan mutiara yang indah mau menjelaskan betapa pentingnya Kerajaan Surga yang adalah tujuan hidup setiap orang. Kerajaan Surga itu adalah Tuhan sendiri yang hadir dalam diri Yesus. Yesus mau menunjukkan hal utama yang harus dicari dan ditemukan yang menjadi tujuan hidup manusia.

Untuk mendapatkan Kerajaan Surga, setiap orang harus berani melepaskan semua yang dia miliki. Hal ini menyadarkan kita bahwa memang Kerajaan Surga itu adalah satu-satunya kekayaan hidup kita dan bukan yang lainnya. Namun demikian, tidak semua orang mampu untuk mendapatkannya karena tidak mampu untuk melihat kehadiran-Nya di dalam hidupnya atau ditutupi oleh hal-hal lain yang kurang penting atau yang kita anggap penting tetapi sebenarnya kurang penting.

Ada orang yang membuat hidupnya berorientasi kepada harta duniawi, jabatan, pangkat, dan kenikmatan dunia. Namun, Injil hari ini mengingatkan kita untuk mencari dan menemukan yang utama dalam hidup kita, yakni Kerajaan Surga, Tuhan sendiri. Kerajaan surga harus menjadi yang utama dalam kehidupan kita. Kita harus berusaha untuk bersatu dengan-Nya.

Maka hal-hal yang menghalangi kesatuan itu harus kita singkirkan. Kita harus menjadikan Tuhan sebagai pusat dan orientasi kehidupan kita. Santo Ignatius dari Loyola telah menemukan harta berharga dan mutiara yang indah itu sehingga dia mengakhiri karier militernya dan memilih tugas untuk kemuliaan Tuhan (AP).

 

Pelita Hati: Kerajaan surga harus menjadi yang utama dalam kehidupan kita.  

Renungan Harian: Selasa, 30 Juli 2013

Renungan Harian: Selasa, 30 Juli 2013

Kel 33:7-11a;34:5b-9.28; Mat 13:36-43

 

Mengenali Gerak-gerik Kejahatan

 

Dalam penjelasan mengenai perumpamaan tentang lalang dan gandum Yesus mengatakan bahwa orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia, ladang ialah dunia dan musuh yang menaburkan bibit lalang adalah iblis.

Setiap kebaikan adalah berasal dari Allah, sedangkan yang jahat berasal dari iblis. Kadang-kadang kita sulit membedakan mana yang baik dan mana yang jahat karena kejahatan sering menyamar seperti kebaikan. Sama seperti lalang di tengah gandum sekilas jenisnya sama, tetapi pada hakikatnya berbeda. Hal itu termasuk kelicikan iblis. Tentu iblis tidak menaburkan benih pohon Jati ke tengah-tengah benih gandum. Maka melalui bacaan hari ini kita diajak untuk semakin mampu  memilah-milah mana dari Allah dan mana dari iblis, mana yang baik dan mana yang jahat.

Kekuatan jahat akan terus mengancam. Dan tidak dapat disangkal adanya. Manusia kiranya juga tak bakal mampu meniadakannya dengan kekuatan sendiri. Yang bisa dilakukan ialah belajar mengenali gerak-geriknya. Sehingga dengan demikian kita  semakin mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat (AP).

Pelita Hati: Setiap kebaikan berasal dari Allah, sedangkan yang jahat berasal dari iblis

Renungan Harian: Senin, 29 Juli 2013

Renungan Harian: Senin, 29 Juli 2013

Kel 32:15-24.30-34; Mat 13:31-35 - Pw Santa Marta

 

Menjadi Berkat bagi Sesama

 

Biji sesawi adalah benih terkecil di antara segala jenis benih. Setelah bertumbuh dengan baik sesawi itu menjadi lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.

Biji sesawi yang bertumbuh menjadi pohon dan menjadi tempat burung-burung bersarang dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk bertanya bagaimana pertumbuhan iman kita. Iman adalah anugerah Tuhan bagi kita. Tugas kita adalah berusaha supaya iman tersebut semakin hari semakin berakar, berkembang, dan berbuah. Iman tanpa perbuatan adalah mati kata rasul Yakobus. Pertumbuhan dan buah iman dapat diukur melalui sejauh mana kedalaman hubungan kita dengan Tuhan dan dengan sesama. Iman yang bertumbuh diwujudkan dalam penyerahan diri kepada Tuhan. Semakin dalam penyerahan diri kita kepada Allah maka semakin teguh dan berkembanglah iman kita. Iman yang berkembang itu tentu harus menjiwai dan mewarnai kehidupan kita sehari-hari. Penyerahan diri kepada Allah akan menjiwai relasi kita dengan sesama.

Biji sesawi yang bertumbuh menjadi pohon dan menjadi tempat burung-burung di udara bersarang, mengajak kita untuk menjadikan diri sebagai berkat dan keselamatan bagi sesama.  Menjadi berkat berarti kita mau melayani dan memperhatikan serta berkorban demi sesama seperti Marta yang siap melayani Yesus dengan tulus hati (AP).

 

Pelita Hati: Semakin dalam penyerahan diri kita kepada Allah maka semakin teguh dan berkembanglah iman kita.

Rabu, 24 Juli 2013

Renungan Harian: Minggu, 28 Juli 2013

Renungan Harian: Minggu, 28 Juli 2013

Kel 18: 20-32; Kol 2:12-14; Luk 11:1-13

 

Berjuang untuk Diri Sendiri dan Sesama

 

Hati setiap manusia penuh dengan kebutuhan dan keinginan. Sebagai orang beriman kebutuhan dan keinginan itu dapat kita sampaikan ke hadapan Bapa di surga. Kita tentu sering berdoa dan menyampaikan kebutuhan dan keinginan kita ke hadirat Tuhan dengan harapan akan dikabulkan.

Kisah tentang orang yang datang mengetuk pintu dan meminta roti karena sahabatnya singgah di rumahnya di tengah malam dan Abraham yang melakukan tawar-menawar dengan Tuhan untuk keselamatan Sodom adalah dua cerita yang mengajak kita untuk berdoa sungguh-sungguh dan tanpa henti-henti serta memotivasi kita untuk prihatin terhadap kebutuhan dan keinginan orang lain. Jadi, mereka berjuang bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga demi sesama.

Hal serupa tampak dalam doa Bapa Kami. Dalam doa itu kita tidak menyebut saya tetapi kami. Dalam doa itu tampak bahwa kita memuliakan Allah bersama dengan sesama. Bermohon supaya semua orang mendapat rezeki, dosa semua orang diampuni, bermohon supaya hati setiap orang juga terbuka kepada pengampunan dan meminta kepada Tuhan supaya semua orang dibebaskan dari yang jahat. Yang kita minta dalam doa Bapa Kami adalah untuk kita serta sesama. Bacaan-bacaan dari Kitab Suci hari ini mengajak kita untuk tidak henti-hentinya bermohon kepada Tuhan baik bagi keinginan dan kebutuhan diri kita sendiri maupun kebutuhan dan keinginan sesama (AP).

 

Pelita Hati: Orang beriman selalu mengandalkan doa dalam hidupnya.