Selasa, 05 Maret 2013

Renungan Harian: Jumat, 08 Maret 2013

Renungan Harian: Jumat,  08 Maret 2013

Hos 14:2-10; Mrk 12:28b-34

Menjadi Pelaku Kasih

 

            Sebagai seorang Kristiani, apakah yang dapat kita banggakan? Barangkali akan beragam jawaban kita. Namun, salah satu jawaban yang sungguh membanggakan hati ialah bahwa kita dibimbing menjadi pelaku Kasih bagi sesama.

                Jika ditanya mengapa mesti mengasihi? Mungkin pula akan beragam rumusan kata untuk menjawab ini. Namun, yang pasti mengasihi orang lain selalu menjadi pilihan terbaik bagi kita dalam hidup. Mari kita coba melihat keunggulan mengasihi dalam kehidupan nyata. Hati yang mengasihi adalah hati yang sungguh bebas bahagia, ringan tanpa ada beban perasaan yang menghimpit. Bandingkan dengan hati yang gerakannya cenderung membenci, menaruh dendam, dan cemburu. Sungguh hidup seolah-olah selalu berada dalam ancaman, mencekam sepi, dan tanpa kehangatan.

Sikap mengasihi Allah dan sesama yang ditekankan kepada kita lewat Injil hari ini menunjukkan sesuatu yang menarik: mengasihi bukan hal yang terjadi dengan sendirinya, melainkan timbul dari niat dan kemauan dari dalam hati. Itu berarti kita semua sebenarnya bisa bersikap mengasihi satu sama lain, jika memang ingin. Dan Injil hari ini mengajak kita untuk (ingin) mengasihi.

                Marilah memandang semua sebagai rahmat, pemberian Allah yang terindah bagi kita. Perihal mengasihi sesama, perbedaan karakter mesti kita mengerti sebagai keunikan tiap orang yang dengannya kita bisa saling melengkapi. Selama perbedaan dipandang sebagai ancaman, selama itulah kebahagiaan dalam hidup bersama tak dapat kita raih. Sebab memang, kebahagiaan itu sendiri adalah buah dari sikap mengasihi (HS).

 

Pelita Hati: Kebahagiaan adalah buah dari sikap mengasihi

Minggu, 03 Maret 2013

Renungan Harian: Kamis, 07 Maret 2013

Renungan Harian: Kamis, 07 Maret 2013

Yer 7:23-28; Luk 11:14-23 – Pw. St. Perpetua dan Felisitas, Martir

 

Lepas dari Belenggu

 

Kita patut bersyukur atas anugerah Allah dalam bentuk hati yang bisa merasa gembira, sedih, gelisah, bahagia, dan tenang. Dari perasaan-perasaan ini, pernahkah kita mengalami bahwa perasaan tertentu menguasai diri kita? Pernahkah amarah, benci, cemburu, atau dendam yang hebat meraja di hati kita?

Injil hari ini berkisah tentang pengusiran setan yang dilakukan oleh Yesus. Dengan tegas Yesus mengatakan bahwa Ia mengusir setan tidak dengan kuasa Beelzebul. Dalam konteks sekarang, marilah kita coba mengerti 'setan' lepas dari bayang-bayang sosok mengerikan, penampilan horor dan suasana mencekam. Setan dapat kita mengerti bila suatu saat perasaan negatif bergejolak di hati kita hingga kita tidak lagi mampu menguasai diri. Saat itulah setan meraja di hati. Lantas bagaimana cara mengatasinya? Yesus sendirilah jawabannya. Kepada Yesuslah kita mengadu atas segala perkara berat yang mempersulit hidup kita.

Saat 'setan menguasai' kita, harus selalu kita awaskan agar jangan sampai kita mencari jawaban selain Dia. Berbagai macam pelarian buruk perlu dihindari. Yesus sendiri pun telah berkata," Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku!" (HS)

 

Pelita Hati: "Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku!"

Renungan Harian: Rabu, 06 Maret 2013

Renungan Harian: Rabu, 06 Maret 2013

Ul 4:1.5-9; Mat 5:17-19

Tindakan Nyata, Bukan hanya Kata

 

Suatu hari seorang kakek bertanya pada cucunya kelas 3 sekolah dasar," Cucuku, berapakah tiga kali tujuh?" Setelah berpikir sejenak, si cucu menjawab dengan semangat," Duapuluh satu, Kek!". "Bagus. Nah, kalau tujuh kali tiga?" si kakek kembali bertanya. Si cucu pun tanpa ragu menjawab, "Maaf, Kek! Perkalian tujuh belum kami pelajari!"

Pemahaman cucu itu pada perkalian hanyalah atas hapalan saja, bukan pemahaman dan konsep yang jelas. Hari ini, Yesus dalam tulisan Penginjil Matius mengingatkan kita untuk mengerti peraturan hidup yang ada bukan hanya atas teori dan ingatan saja, tetapi perlu ditanamkan dalam hati dan akhirnya dapat dipraktikkan dalam keseharian. Tidak cukup hanya dengan mengetahuinya, lalu banyak berbicara tanpa ada perbuatan nyata. Menarik apa yang diungkapkan peribahasa Latin ini, Verba movent, exempla trahunt. Kata-kata menggerakkan semangat, teladan menarik (orang untuk berbuat). Kita harus berbuat baik, agar orang lain turut meneladani perbuatan baik kita. Itulah yang dilakukan oleh Yesus dan itu pula yang diharapkan dari diri kita.

Lalu, tindakan apa yang dapat kita perbuat? Ini tidak melulu tentang perbuatan besar nan heroik. Kebaikan-kebaikan besar berangkat dari hal-hal kecil, kata si bijak. Lihat sekelilingmu, siapa di sana? Perbuatan baik apa yang dapat dibuat untuk anak, istri, suami, saudara, dan sahabat kenalan kita? Mulai dari yang sederhana, itulah kebaikan besar itu (HS).

 

Pelita Hati: Kita harus berbuat baik, agar orang lain turut meneladani perbuatan baik kita 

Renungan Harian: Selasa, 05 Maret 2013

Renungan Harian: Selasa, 05 Maret 2013

Dan 13:25.34-43; Mat 18:21-35

Mengampuni demi Kebahagiaan

 

Sejenak marilah kita mencoba melihat kembali pengalaman masa lalu kita. Adakah di antara pengalaman itu berupa perselisihan dengan orang lain dan hingga kini masih menyisakan perasaan tidak enak dan terasa sangat sulit untuk dimaafkan? Sekarang marilah kita coba melihat persoalan ini dalam terang perikop Injil hari ini.

Pernyataan' mengampuni hingga tujuh puluh kali tujuh kali'(bdk. Mat 18:22) dalam Injil hari ini menunjukkan bahwa sikap mengampuni adalah sungguh penting dalam hidup. Dalam perumpamaan, Yesus menunjukkan betapa berartinya pengampunan yang diberikan oleh raja kepada hambanya yang berutang itu. Sikap mengampuni sejatinya adalah tindakan yang membebaskan dan membahagiakan. Orang yang diampuni akan terbebas dari beban dan perasaan bersalah. Sementara di sisi lain, orang yang mengampuni akan lepas dari kekangan amarah, benci, kesal, dan dendam yang selama ini mengekang kemerdekaan hatinya untuk mencintai sesama. Ya, cinta adalah alasan terkuat kita untuk mengampuni dan diampuni seseorang.

Kita kembali ke perkara kita masing-masing. Dapatkah kita mempraktikkan sikap mengampuni ini? Ini semua kita lakukan demi kebahagiaan kita juga dan kebahagiaan bersama dalam Allah. "Ah…sungguh sulit melakukannya!" Jika demikian, marilah kita meminta pertolongan dari Tuhan. Semoga Ia menyertai kita dalam perjuangan kita untuk mengampuni sesama (HS).

 

Pelita Hati: Cinta adalah alasan terkuat kita untuk mengampuni dan diampuni seseorang  

Kamis, 28 Februari 2013

Renungan Harian: Senin, 04 Maret 2013

Renungan Harian: Senin, 04 Maret 2013

2 Raj 5:1-5a; Luk 4:24-30

Bertahan Setia dalam Kebaikan

 

            Penolakan bisa saja dialami oleh siapa saja, mungkin karena perbedaan pandangan, karakter yang berseberangan atau kepentingan yang berbeda. Dalam Injil hari ini kita menemukan Yesus yang ditolak oleh orang-orang Nazaret. Kenyataan bahwa Dia adalah Sang Mesias yang mampu berkhotbah dengan indah tak mudah diterima oleh orang-orang sekampung-Nya. Bukan bersyukur karena Mesias tinggal sekampung dengan mereka, orang Nazaret malah mencoba menghentikan karya dan perjalanan Yesus. Namun apalah daya mereka, maut sekalipun tak pernah sanggup menghentikan Yesus untuk mewartakan kabar bahagia dari Allah.

                Tindakan membawa kebaikan memang tidak selalu dibalas dengan kebaikan. Adakalanya kita malah dicemooh atas niat-niat baik yang kita miliki. Mundur dari kebaikan itu bukanlah pilihan yang ditawarkan. Harus ada perjuangan untuk tetap bertahan pada cita-cita yang benar. Yesus mengambil keputusan untuk meninggalkan kota asal-Nya demi kelangsungan karya-Nya. Belajar dari Yesus, kita mesti tetap bertahan pada kebaikan demi akhir yang membahagiakan.

                Halangan untuk berbuat baik barangkali akan datang dari lingkungan sekitar atau bahkan dari teman dekat sendiri. Tentu ini sebuah tantangan berat yang harus kita hadapi. Sekali lagi, kita mesti berjuang untuk tetap bertahan setia pada cita-cita dan niat yang benar (HS).

 

Pelita Hati: Kita mesti berjuang untuk tetap bertahan setia pada cita-cita dan niat yang benar

Renungan Harian: Minggu, 03 Maret 2013

Renungan Harian: Minggu, 03 Maret  2013

Kel 3:1-8a.13-15; 1 Kor 10:1-6.10-12; Luk 13:1-9 – Prapaska III

 

Sebelum Semuanya Terlambat

 

Seorang tuan ladang yang kaya memberi sebuah tantangan kepada seorang miskin sedesanya. "Kamu boleh mengambil tiga tongkol jagung yang terbesar dari ladangku ini. Tapi syaratnya, kamu harus terus berjalan lurus ke depan untuk mengambilnya. Dan kamu tidak boleh berbalik untuk memilih dan memetiknya!" Si miskin pun menyusuri ladang jagung si tuan itu. Saat ia hendak memetik setongkol jagung, ia berpikir," Ah nanti saja. Barangkali akan ada yang lebih besar lagi di depan sana". Ia terus menyisir dan asyik melihat kiri-kanan mencari yang terbesar. Tanpa sadar rupanya ia telah berada di ujung ladang. Alhasil, ia pun tak beroleh apa-apa.

Pertobatan, yang kembali ditekankan oleh bacaan-bacaan hari ini, adalah tindakan yang mesti dilakukan tanpa penundaan. Patut kita bersyukur bahwa kita diberi waktu untuk mengaku dosa dan lalu memperbaiki kesalahan-kesalahan  kita. Hanya saja, kita tidak pernah tahu akhir hidup kita, saat kita tidak bisa lagi membuat perbaikan. Hanya Tuhan yang tahu. Karena itu, pertobatan adalah sebuah tindakan kesiagaan menunggu hari Tuhan tiba di dalam hidup kita. Si miskin dalam kisah di atas nyatanya menyia-nyiakan kesempatan hanya karena keasyikan mengulur waktu. Penyesalan yang kemudian hadir di hatinya sungguh tidak lagi dapat merubah apa-apa.

Maka kini, sebelum penyesalan tiba, kesempatan yang kini kita miliki adalah peluang terhebat untuk bertobat. Pembenahan diri adalah sebuah proses yang mesti kita lakukan terus-menerus. Mari kita coba lihat, perubahan apakah yang perlu kita lakukan kini? Sikap mana yang perlu kita benahi? Selagi masih ada waktu kita, mari membuat sesuatu menjadi lebih baik (HS).

 

Pelita Hati: Sebelum penyesalan tiba, kesempatan yang kini kita miliki adalah peluang terhebat untuk bertobat 

Renungan Harian: Sabtu, 02 Maret 2013

Renungan Harian: Sabtu, 02 Maret 2013

Mi 7:14-15.18-20; Luk 15:1-3.11-32

Kembali ke Rumah Bapa

 

            Sudah seharusnya kita bersyukur bahwa Allah kita adalah Allah yang Mahapengasih. Ia berkenan menerima kita kembali pada-Nya meskipun kerap kita berpaling dari-Nya dan hanyut dalam kedosaan. Kasih-Nya memungkinkan kita dapat terus berusaha untuk membenahi diri untuk kembali berada di jalan-Nya selama hayat di kandung badan.

                Karena Allah sungguh mengasihi kita, pantaslah kita menyikapi Kasih Allah itu dengan pertobatan. Betapa indah kisah anak yang hilang yang disajikan oleh Injil hari ini kepada kita. Tak ada lagi yang lebih indah dari pengampunan seorang ayah kepada anaknya yang mulanya sungguh mengecewakan. Lebih dari sekadar mengampuni, sang ayah bahkan menggelar pesta meriah – pesta perjamuan besar – sebagai tanda gembira atas kepulangan si anak (bdk. Luk 15:22-24). Seandainya si anak tidak bersedia kembali, tak akan ada kisah indah ini. Itu berarti kemurahan hati si ayah untuk menerima kembali si anak ibarat gayung bersambut ketika si anak mau pulang kepada ayahnya. Sungguh indah!

                Keindahan yang sama pun kini sedang ditawarkan kepada kita. Allah selalu penuh Kasih, itu tidak perlu diragukan lagi, dari dahulu hingga sekarang sampai selamanya. Kitalah yang perlu berjuang untuk kembali kepada-Nya. Pertanyaannya, maukah kita?

                Pertobatan adalah sebuah perjuangan untuk kembali mencintai Allah, bukan hanya dengan kata-kata hampa tetapi juga dengan kegiatan nyata. Kita bisa melihat dari mana kita semestinya beranjak pergi, apa yang mesti kita tinggalkan. Yang perlu kini ialah tindakan nyata untuk pergi meninggalkan apa yang sekarang mesti kita tinggalkan (HS).

 

Pelita Hati: Pertobatan adalah sebuah perjuangan untuk kembali mencintai Allah, bukan hanya dengan kata-kata hampa tetapi juga dengan kegiatan nyata.