Selasa, 21 Agustus 2012

Renungan Harian: Sabtu 25 Agustus 2012

Renungan Harian:  Sabtu 25 Agustus 2012

Mat 23:1-12

Sekali peristiwa berkatalah Yesus  kepada orang banyak dan murid-murid-Nya, "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kalian turuti perbuatan mereka, karena mereka mengajarkan, tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang. Mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang. Mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; Mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kalian, janganlah suka disebut Rabi; Karena hanya satulah Rabimu, dan kalian semua adalah saudara. Dan janganlah kalian menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah pula kalian disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Kristus. Siapa pun yang terbesar di antaramu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan  diri akan ditinggikan."

 

Kemunafikan

 Orang munafik yang dimaksud di sini ialah seorang yang beriman. Ia terlihat secara pribadi dalam perkembangan iman dan dalam pengamalan hukum Taurat. Akan tetapi, ia takut tersesat di jalan kebajikan yang dilakukannya. Ia khuwatir, jangan-jangan terjadi sesuatu pada waktu ia akan menghadap Allah dengan tangan hampa. Oleh karena itu, ia mencari suatu jaminan dalam kehidupan imannya. Sangat mudah menemukannya. Tinggal membatasi kesetiaan iman pada pengamalan hukum secara lahiriah saja!

Akibatnya mudah diduga sebelumnya: Orang munafik itu secara otomatis menganggap dirinya lebih baik daripada orang-orang lain. Ia begitu licik dalam pertimbangan legalistis, sehingga semakin kuat keyakinannya, bahwa ia melebihi orang-orang lain.

 Kemunafikan termasuk sikap, yang tidak dapat disembunyikan. Orang munafik menipu dirinya sendiri dan membingungkan orang lain. Ia tampaknya sungguh setia kepada Allah. Namun, sebenarnya agama yang ditampakkannya itu, sama sekali tidak mempunyai dasar iman. Orang munafik hanya berusaha mengarahkan perhatian orang-orang lain pada dirinya sendiri saja. Ia selalu berusaha menonjolkan dirinya, biarpun tidak ada yang memperhatikannya. Kemunafikan merupakan semacam godaan yang amat licik. Kedoknya perlu dibuka, sebab mengancam Gereja sepanjang masa (HN).

 

Pelita Hati: Kemunafikan hanya merugikan kita sebagai orang beriman. Lebih baik kita berendah hati di hadapan Tuhan dan berbuat yang benar.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Minggu, 19 Agustus 2012

Renungan Harian: Jumat 24 Agustus 2012

Renungan Harian:  Jumat 24 Agustus 2012

Yoh 1:45-51

Sekali peristiwa Yesus memutuskan untuk pergi ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya,"Ikutlah Aku!" Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. Lalu Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya,"Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret. Kata Natanael kepadanya,"Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Kata Filipus kepadanya,"Mari dan lihatlah!" Melihat Natanael datang kepada-Nya, Yesus berkata tentang dia,"Lihat, inilah orang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Kata Natanael kepada Yesus,"Bagaimanakah Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya,"Sebelum Filipus memanggil Engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Kata Natanael kepada-Nya,"Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" Yesus menjawab, kata-Nya,"Karena Aku berkata kepadamu, 'Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat….

 

Israel Sejati

 Hari ini kita merayakan pesta Santo Bartolomeus, rasul. Dalam Injil Sinoptik, kemungkinan nama lengkapnya adalah Natanael Bar-Tolmai. Orangnya serius dan hati-hati, tak mudah terpengaruh kasak-kusuk. Ketika Yesus berpengaruh luas di tengah rakyat, ia tak begitu saja terbawa arus. Ia waspada dan memutuskan sendiri. Tetapi ketika ternyata Yesus mengenal dia seutuhnya, maka barulah ia mengikuti Yesus dan secara total pula. Segalanya pun ditinggalkannya. Konon Natanael berkarya di India, Mesopotamia, dan terutama di Armenia, di mana ia gugur sebagai martir.

Pada saat perjumpaan dengan Yesus, Natanael menjadi "seorang Israel yang sejati". Sebab pada saat itulah ia memandang Allah, yang dengan sia-sia dicari bapa Yakub dalam penglihatan tangga yang dinaiki dan dituruni para malaikat. Apa syaratnya agar dapat digelari "orang Israel sejati"? Cukupkah diliputi rasa haru terhadap Yesus saja? Cukupkah melekat pada ajaran-Nya secara humanistis saja? Kiranya sesuatu yang lebih mendalam yang ditubuhkan, yaitu iman akan misteri kehadiran dan penebusan Yesus, yang setiap hari dihayati kembali (HN)

 

Pelita Hati: Kesejatian seorang Kristen tampak dalam penghayatannya akan penebusan Tuhan dan penghayatan itu diwujudkan dalam perbuatan-perbuatan baik.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Kamis 23 Agustus 2012


Renungan Harian: Kamis 23 Agustus 2012
Mat 22:1-14
Pada suatu ketika Yesus berbicara kepada para imam kepala dan pemuda rakyat dengan memakai perumpamaan. Ia bersabda,"Hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan nikah untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan nikah itu tetapi mereka tidak mau datang.
Raja itu menyuruh pula hamba-hamba lain dengan pesan, 'Katakanlah kepada para undangan; Hidanganku sudah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih. Semuanya telah tersedia.
Datanglah ke perjamuan nikah ini.' Tetapi para undangan itu tidak mengindahkannya. Ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap para hamba itu, menyiksa dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu. Ia lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Kemudian ia berkata kepada para hamba,
'Perjamuan nikah telah tersedia, tetapi yang diundang tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kalian jumpai di sana ke perjamuan nikah ini. Maka pergilah para hamba dan mereka mengumpulkan semua ....

Pakaian Pesta
 Perjamuan kemesiasan merupakan sebuah tema, yang amat lazim dalam tradisi kenabian. Yesus memanfaatkannya secara spontan untuk menggambarkan kerajaan yang diberitakan-Nya. Namun, perumpamaan tentang perjamuan pernikahan, sebagaimana diceritakan dalam Injil Matius ini, juga menggambarkan apa yang menjadi pusat perhatian penyusun Injil itu sendiri.
 Kedua kelompok utusan sang majikan, baik para nabi (golongan pertama para hamba), maupun para rasul (golongan kedua) mengalami nasib yang serupa. Sebab para undangan perjamuan (yaitu Yudaisme yang resmi) menuduh atau malahan membunuh mereka. Hukuman pun segera datang: Yerusalem dihancurkan (ay. 7). Setelah itu, perjamuan dapat dimulai dengan tenang. Perjamuan itu akan dihadiri oleh sebanyak mungkin manusia, oleh mereka yang baik maupun yang jahat (ay 10).
 Akan tetapi, mengingat ketelitian Matius dalam menegaskan, bahwa keanggotaan Kerajaan Allah secara lahiriah saja tidak mencukupi, maka perjamuan yang bercorak kemesiasan ini, diubah Matius menjadi sebuah perjamuan pernikahan. Dengan perubahan ini Matius lebih leluasa dalam mengemukakan tema mengenai pakaian pesta. Untuk mengikuti pesta Kerajaan Allah, perlu berpakaian yang pantas. Artinya, perlu memenuhi tuntutan-tuntutan moral iman. Tanpa memenuhinya, orang akan dikeluarkan dari ruang pesta. Dengan demikian, kita layak diundang mengikuti perjamuan Tuhan (HN).

Pelita Hati: Pakaian pesta adalah kebajikan iman yang nyata dalam hidup kita, seperti kasih, damai, pengampunan, dan keadilan.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Jumat, 17 Agustus 2012

Renungan Harian: Rabu 22 Agustus 2012

Renungan Harian: Rabu 22 Agustus 2012

Mat 20:1-16a

Sekali peristiwa Yesus mengemukakan perumpamaan berikut kepada murid-murid-Nya, "Hal Kerajaan Surga itu seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah sepakat dengan para pekerja mengenai upah sedinar sehari ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula, dan dilihatnya ada orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka, 'Pergi jugalah kalian ke kebun anggurku, dan aku akan memberimu apa yang pantas.' Dan mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga sore ia keluar pula, dan berbuat seperti tadi.  Kira-kira pukul lima sore ia keluar lagi dan mendapati orang lain pula; lalu katanya kepada mereka, 'Mengapa kalian menganggur saja di sini sepanjang hari?' Jawab mereka, 'Tidak ada orang yang mengupah kami.' Kata orang itu, 'Pergilah kalian juga ke kebun anggurku.' Ketika hari sudah malam berkatalah tuan itu kepada mandornya, 'Panggillah sekalian pekerja dan bayarlah upahnya, mulai dari yang masuk terakhir sampai kepada yang masuk terdahulu.' Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima sore, dan mereka masing-masing menerima satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu. Mereka mengira akan mendapat upah yang lebih besar. Tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya, 'Mereka yang masuk paling akhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau...

 

Kemurahan Hati Allah

Para pekerja yang dipanggil pemilik kebun anggur pada pukul lima sore, menerima upah yang sama seperti para pekerja yang dipanggil pagi-pagi. Para pekerja yang pertama-tama dipekerjakan, merasa dirugikan oleh tuan kebun. Sama seperti anak sulung merasa dirugikan ayahnya, setelah adiknya yang hilang pulang ke rumah. Sama seperti Yunus merasa dirugikan Allah, karena Allah mengampuni penduduk kota Ninive yang kafir itu!

Allah memanggil semua manusia. Ia mempekerjakan mereka langsung setelah Ia berjumpa dengan mereka. Masuk akalkah, bila orang kecewa, bahwa Allah ingin memberi upah yang memuaskan kepada mereka semua? Cara Allah bertindak tidak bertentangan dengan keadilan manusiawi. Tetapi cara itu secara total melampaui keadilan manusiawi, sebab didasari oleh kasih dan kemurahan Allah.

Perumpamaan ini mengundang kita merenungkan tindakan Allah yang penuh kemurahan hati itu dengan melupakan cara biasa kita berpikir. Sebab kita biasa berpikir secara picik. Segala sesuatu kita nilai dalam rangka keadilan yang kita alami di bumi dan dalam rangka perjanjian-perjanjian timbal balik yang mengatur hubungan antarmanusia (HN).

 

Pelita Hati: Cara Allah bertindak tidak bertentangan dengan keadilan manusiawi. Mari kita meneladan kasih dan kemurahan hati-Nya.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Kamis, 16 Agustus 2012

Renungan Harian: Selasa 21 Agustus 2012

Renungan Harian: Selasa 21 Agustus 2012

Mat 19:23-30

Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya,"Aku berkata kepadamu: Sungguh sukar sekali bagi orang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga." Mendengar itu gemparlah para murid dan berkata, "Jika demikian siapakah yang dapat diselamatkan?" Yesus memandang mereka dan berkata,"Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mugkin." Lalu Petrus berkata kepada Yesus,"Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" Kata Yesus kepada mereka,"Aku berkata kepadamu, sungguh, pada waktu penciptaan kembali apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kalian yang telah mengikuti Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang demi nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudara-saudaranya, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."

 

Ganjaran Yesus

Kalau Tuhan menghukum manusia, itu demi kebenaran dan keadilan-Nya. Demi kebenaran dan keadilan pula Tuhan dapat mengganjar, memberi dengan limpah dan leluasa, karena Ia memang baik hati, dan cinta adalah sikap dasar-Nya. Jadi, tidak benar, bahwa Tuhan mencari-cari kesalahan, dan senang menghukum, sulit menghargai kebaikan manusia. Sebaliknya yang benar: Tuhan menawarkan, memanggil, tetapi banyak dari antara kita seperti si pemuda kaya itu mundur dan menolak.

 Yesus tidak mengganjar para Murid-Nya dengan memberi hidup enak, tak usah bekerja, mendapatkan "rezeki nomplok" di mana-mana. Tetapi Yesus mengganjar para murid dengan menantang kebanggaan murid: boleh ikut serta dengan Gurunya, dalam keprihatinan, penderitaan dan pengorbanan, hingga bersatu dalam derita, bersatu juga menjadi mulia.

Petrus meninggalkan segalanya dan mengikuti Kristus: ia meninggalkan segala jaminan hidup di dunia ini, menyerahkan diri utuh di bawah pimpinan Kristus. Kristus menjamin dan memimpin. Yesus bertanggung jawab bahwa murid setia akan sampai pada tujuan, dan menerima seratus kali lipat dan kehidupan kekal (HN).

 

Pelita Hati: Yesus mengganjar para murid-Nya setelah Ia menantang mereka lewat perjuangan hidup.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Senin 20 Agustus 2012

Renungan Harian: Senin 20 Agustus 2012

Mat 19:16-22

Pada suatu hari ada seorang datang kepada Yesus dan berkata,"Guru, perbuatan baik apakah yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup kekal?" Yesus menjawab, "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya satu yang baik! Jika engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah." Kata orang itu kepada Yesus,"Perintah yang mana?" Kata Yesus,"Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayah dan ibumu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata orang muda itu,"Semua itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?" Lalu Yesus berkata,"Jika engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu, dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan memperoleh harta di surga. Kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku." Ketika mendengar perkataan itu, pergilah orang muda itu dengan sedih, sebab hartanya banyak.

 

SAMPAI TETES TERAKHIR

'Akhir zaman' sungguh dekat, sehingga manusia harus mengambil sikap yang tegas. Matius menanggapi dekatnya akhir zaman itu sebagai ajakan untuk mencari jalan 'kesempurnaan'. Manusia hendaknya jangan peduli akan bunyi huruf perintah masing-masing ('apa yang harus dilakukan?'). Manusia harus menyadari perlunya hubungan pribadi dengan Kristus ('Mari, ikutlah Aku!').

Orang kaya dalam Injil hari ini mau melindungi kekayaannya. Dalam sikap ini terkandung bahaya, yang serupa dengan yang mengancam para ahli Taurat. Dengan cara apa pun juga mereka mau mempertahankan segala peraturan Hukum. Nah, sikap demikian mengandung bahaya kebutaan hati terhadap pentingnya menjalin hubungan pribadi dengan Allah dan terhadap karunia yang ditawarkan Allah kepada manusia.

Dalam hidup harian kita masing-masing banyak orang yang memang sangat melindungi hartanya. Tidak jarang mereka selalu memandang sesuatu berdasarkan nilai harta yang dimilikinya. Akibatnya, harta menjadi nomor satu dan paling utama baginya. Manakah kita, yang melindungi harta atau yang mengikut Kristus? (HN)

 

Pelita Hati: Dalam setiap gerak hidupnya, manusia harus menyadari perlunya hubungan pribadi dengan Kristus.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Minggu 19 Agustus 2012

Renungan Harian: Minggu 19 Agustus 2012

Yoh 6:51-58

Di rumah ibadat di Kapernaum Yesus berkata kepada orang banyak, "Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Barangsiapa makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya. Dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." Orang-orang Yahudi bertengkar antara mereka sendiri dan berkata, "Bagaimana Yesus ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan!" Maka kata Yesus kepada mereka, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal, dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan, dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barang-siapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Akulah roti yang telah turun dari surga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."

 

PEMBERIAN DIRI

Di mana-mana selalu ada manusia yang merindukan kesatuan mesra dengan Allah. Dalam setiap agama kita menemukan kerinduan itu dan usaha untuk mencapai kesatuan itu, karena dalam lubuk hati yang terdalam, manusia tetap merasakan bahwa ia hidup dari sumber hidup abadi, yaitu Allah sendiri. Hanya, sering manusia menjadi khuwatir, jangan-jangan Allah menjauhkan diri.

Terhadap kerinduan dan kekhuwatiran ini Yesus memperkenalkan diri sebagai roti dari surga, sebagai Dia yang diutus Allah Bapa dan tinggal di antara kita dalam hidup duniawi badaniah, justru untuk memberikan sumber hidup yang tidak pernah kering. Yesus mengundang kita dalam sakramen Ekaristi untuk makan roti dan minum anggur sebagai pernyataan konkret.

Bagaimana kita dapat mengerti, bahwa dalam benda material - roti dan anggur - hadir bagi kita suatu kenyataan rohani, yakni Kristus yang mulia di surga dengan seluruh cinta dan perhatian-Nya yang sudah Dia buktikan di dalam hidup-Nya di dunia ini? Sebagai bandingan analogi, dapat kita ambil kenyataan, bahwa juga dalam hidup bersama antara manusia kita bisa memberikan "diri" kita kepada orang lain lewat tanda-tanda lahiriah. Seorang ibu yang sungguh-sungguh mencintai anak-anak dan suaminya, kalau ia memasak makanan, membersihkan rumah agar sehat untuk didiami, maka di dalam perbuatan itu ia memberikan lebih, ia memberikan dirinya, hidupnya, dan cintanya (HN).

 

Pelita Hati: Pemberian diri nyata lewat pelayanan kita sehari-hari.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.