Senin, 09 Januari 2012

ORA ET LABORA (Mrk 1:21b-28)


RENUNGAN HARIAN: SELASA, 10 JANUARI 2012
Markus 1: 21-28
Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.  Pada waktu itu di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak:  "Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah."  Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!"  Roh jahat itu menggoncang-goncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring ia keluar dari padanya.  Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: "Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahat pun diperintah-Nya dan mereka taat kepada-Nya." Lalu tersebarlah dengan cepat kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea.

ORA ET LABORA
Setiap orang Kristen tentu ingin disebut sebagai pengikut Kristus. Identitas diri sebagai pengikut Kristus ini kerap ditampilkan orang dengan cara pergi ke Gereja pada waktu beribadat dan ikut doa lingkungan, juga kelompok doa Kristen lainnya. Namun, sebagai seorang Kristen hal ini belumlah cukup untuk menunjukkan kekristenan kita.
Kita bisa bercermin atas karya pelayanan Yesus yang kita dengarkan dalam Injil hari ini. Yesus datang ke rumah ibadat untuk berdoa. Ia juga menyampaikan kabar gembira Allah dan secara konkret, kabar gembira itu diwujudkan dalam penyembuhan orang lain dengan cara membebaskannya dari roh jahat. Dengan ini kita jadi teringat ungkapan ”ora et labora”.
Melihat kenyataan keberimanan kita pada masa ini, seharusnya kita malu. Kita menyangka bahwa menjadi seorang Kristen itu adalah cukup dengan melakukan kewajiban berdoa kepada Tuhan dan memberikan kewajiban administrasi lainnya. Yang penting urusan kegerejaanku ”beres”. Tuhan tidak suka pada orang yang demikian. Tuhan menghendaki agar kita perduli kepada orang lain serta mengungkapkan iman itu dalam perbuatan konkret. Keberimanan kita ditampakkan dengan mau membantu orang yang berkekurangan. Dalam hal ini, kita telah menampakkan Kristus di hati banyak orang dan orang pun akan mengakui kita sebagai pengikut Kristus; sehingga Kristus semakin dimuliakan (DG).

”Tuhan menghendaki agar kita peduli kepada orang lain serta mengungkapkan iman itu dalam perbuatan konkret”

Diambil dari buku Nyalakanlah Pelita Hatimu, Penerbit Bina Media Perintis, Medan, 2011.

Sabtu, 07 Januari 2012

KESEDERHANAAN DALAM TUHAN (Mateus 2:1-12)


RENUNGAN HARIAN: MINGGU, 8 JANUARI 2012
Mateus 2: 1-12
Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."  Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.  Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya: "Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi:  Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel." Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak.  Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: "Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia."  Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.  Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka.  Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.  Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.

KESEDERHANAAN DALAM TUHAN
Hari Raya Penampakan Tuhan pada hari ini sesungguhnya ingin menyatakan bahwa Yesus telah datang ke dalam dunia. Kedatangan Tuhan bukanlah dalam bentuk kemewahan, bukan juga disambut dengan pesta besar dan keramaian; akan tetapi Tuhan datang dalam kesederhanaan dan kerendahan hati.
Dalam Injil hari ini, para Majus datang dan menemukan Tuhan di tempat sederhana, yakni di kandang domba yang hanya dihadiri oleh para gembala dan ternak gembalaannya. Sungguh suatu gambaran yang cukup sederhana. Kesederhanaan dalam penampakan Tuhan ini tentunya memberi kesan tersendiri bagi kita. Kita diundang agar berpenampilan sederhana; berbicara sederhana (apa adanya), berpikir sederhana (tidak muluk-muluk). Hal ini penting, sebab sikap sederhana ini akan lebih mengarahkan kita kepada rencana Allah. Allah mencintai orang-orang sederhana, orang miskin dan tersingkirkan (kaum marginal). Allah berpihak kepada orang-orang demikian; dan keberpihakan itu dimulai dengan penampakan diri dalam kelahiran yang sederhana, yakni di kandang domba.
Kita sering prihatin kepada mereka-mereka yang membutuhkan pertolongan. Sudahkan kita mengunjungi mereka, membantu mereka? Atau, kita hanya tinggal dalam sikap bela rasa saja dan tidak pernah terwujud dalam perbuatan? Mari kita ikuti para Majus dari Timur, yang mengikuti suara hatinya dan suara Allah; bertemu dengan Yesus dan memberi apa yang dibutuhkan sesama sebagai tanda penampakan Tuhan dalam diri mereka (DG).

“Tuhan datang dalam kesederhanaan dan kerendahan hati”

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

MUKJIZAT SEBAGAI TANDA KESELAMATAN (Yoh 2:1-2)


RENUNGAN HARIAN: SABTU, 7 JANUARI 2012
Yoh 2:1-12
Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: "Mereka kehabisan anggur." Kata Yesus kepadanya: "Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba." Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!"  Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung.  Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan mereka pun mengisinya sampai penuh.  Lalu kata Yesus kepada mereka: "Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta." Lalu mereka pun membawanya.  Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu -- dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya -- ia memanggil mempelai laki-laki, dan berkata kepadanya: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang."  Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya.  Sesudah itu Yesus pergi ke Kapernaum, bersama-sama dengan ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya dan murid-murid-Nya, dan mereka tinggal di situ hanya beberapa hari saja.

MUKJIZAT SEBAGAI TANDA KESELAMATAN
Setiap orang dari antarakita, tentu sangat rindu menyaksikan mukjizat ataupun tanda heran. Hal yang kita mengerti sebagai mukjizat adalah peristiwa ataupun hal yang terjadi melampaui apa yang dipikirkan manusia yang seharusnya akan terjadi. Mukjizat cenderung menjadi peristiwa tak terduga dan mengesankan serta diluar dari kebiasaan. Umumnya peristiwa mukjizat sangat dimantikan orang.
Mukjizat terjadi dalam kisah perkawinan di Kana. Air berubah menjadi anggur. Dari sudut pandang indera manusia, hal ini nyata sebagai sesuatu tanda heran yang patut disyukuri. Mukjizat itu menjadi sungguh berahmat katika dengannya dinyatakan kehadiran Sang Penyelamat di tengah umat-Nya dan yang menjadi penyelamat bagi umat-Nya. Dengan mukjizat air menjadi anggur, keselamatan pun terjadi bahwa pestawan tidak dipermalukan karena kehabisan anggur. Dalam hal ini kita juga bisa melihat bahwa mukjizat itu sebenarnya bukan hanya sebagai tanda heran, akan tetapi lebih daripada itu sebagai tanda keselamatan dan bermanfaat bagi sesama. Mukjizat bukanlah show akan susuatu yang menakjubkan.
Kita kerap kali mengalami mukjizat ketika kita diselamatkan dan mau membantu sesama kita. Kita juga bisa seperti Yesus bertindah membantu sesama dalam pernikahan di Kana, bila kita mau membantu sesama yang membutuhkan. Di sinilah letak maksud mukjizat diadakan, yakni datangnya Kerajaan Allah di tengah-tengah kita (DG).

“Mukjizat merupakan tanda keselamatan dan kehadiaran Yesus di tengah-tengah kita”

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Kamis, 05 Januari 2012

KERENDAHAN HATI (Markus 1:7-11)


RENUNGAN HARIAN: JUMAT, 6 JANUARI 2012
Markus 1:7-11
Inilah yang diberitakannya: "Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus." Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari sorga: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan."

KERENDAHAN HATI
Kerendahan hati adalah tindakan yang sangat dibutuhkan dalam hidup bersama. Ketika kita menolong dan melayani sesama kita dengan rendah hati maka ia pun akan meniru dan meneladani kita. Lantas ia akan melakukan hal serupa pada sesama seperti yang diterimanya dari kita sendiri.
Adakah orang seperti itu kita jumpai saat ini? Rasanya hampir mustahil kita temukan ada orang yang menolong dan melayani sesama dengan rendah hati pada zaman ini. Namun, Injil pada hari ini mengetengahkan hal yang luar biasa bahwa kerendahan hati harus kita lakukan, sebagaimana dilakukan Yesus dengan dibaptis oleh Yohanes.
Dalam kerendahan hati, Yohanes menyatakan siapakah sesunggunya Yesus itu; “”membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak”. Ini menunjukkan bahwa kuasa Yesus sungguh Mahaagung. Meskipun Yesus lebih besar daripada Yohanes, namun Yesus bersedia untuk dibaptis. Ini merupakan tanda kerendahan hati-Nya. Dengan ini, dimulailah karya Sang Putra. Dan Ia mendapat dukungan dari Bapa dengan berkata, “Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah aku berkenan”. Marilah kita juga merendahkan hati kita, terlebih dalam mewartakan karya cintakasih Allah. Dengan demikian, kita akan menjadi putra-pitri Bapa (DG)

“Engkaulah Anak yang Kukasihi, kepada-Mulah aku berkenan”.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Rabu, 04 Januari 2012

KRISTEN SEJATI (Yoh 1:43-51)


RENUNGAN HARIAN: KAMIS, 5 JANUARI 2012
Yoh 1:43-51
Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: "Ikutlah Aku!" Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia."

KRISTEN SEJATI
Bila seseorang rindu, dia tentu akan selalu menantikan kerinduan hatinya itu. Bila ia menemukan informasi tentang orang yang dirindukannya, maka ia akan cepat mencari tahu dan datang untuk menemukannya. Natanael adalah orang yang demikian. Ketulusan hatinya membuat kerinduan dirinya semakin besar untuk bertemu dengan Sang Penyelamat (Mesias). Natanael pun segera pergi untuk menemukan Tuhan.
Kesaksian Yesus atas Natanael adalah gembaran siapakah Natanael. Natanael disebut Yesus sebagai Israel sejati. Bagi orang sejati demikian, Yesus menjanjikan hal-hal yang besar dalam hidupnya. “Engkau akan melihat langit terbuka...”
Seiring dengan Injil hari ini, kita pun bertanya pada diri kita. Apakah kita telah pantas disebut sebagai orang Kristen sejati? Sebagai orang Kristen sejati seyogyanya tidak ada kepalsuan dalam diri kita. Kesejatian itu akan semakin tampak bila kita peduli kepada mereka yang menderita dan butuh bantuan kita. Mereka itu adalah sarana Tuhan untuk bertemu dengan kita. Dengannya, kita akan melihat hal-hal besar dalam pengalaman hidup kita. Semoga kesejatian hidup kita bukan hanya dalam kehadiran beribadat; akan tetapi lebih dari itu, yakni pada tindakan nyata keberpihakan kita kepada orang kecil (option for the poor) DG.

“Kristen sejati merupakan orang yang sungguh merindukan Tuhan, Sang Penyelamat”

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Selasa, 03 Januari 2012

TINGGAL BERSAMA TUHAN (Yoh 1:35-42)


RENUNGAN HARIAN: RABU, 4 JANUARI 2012


Yohanes 1: 35-42
Pada keesokan harinya Yohanes berdiri di situ pula dengan dua orang muridnya. Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!". Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat, bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka: "Apakah yang kamu cari?" Kata mereka kepada-Nya: "Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?" Ia berkata kepada mereka: "Marilah dan kamu akan melihatnya." Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan Dia; waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)." Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: "Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)."

TINGGAL BERSAMA TUHAN
“Hari-hari berlalu, usia bertambah bahkan tanpa terasa semua berjalan begitu cepat.” Beberapa orang dari antara kita kemungkinan besar pernah berucap demikian. Banyak faktor yang membuat seseorang berkata demikian, antara lain karena kesibukan atau kebingungan dalam menjalankan hidup, serta faktor keputusasaan.
Para murid Yohanes pun tampaknya kurang menemukan maka hidup yang sesungguhnya dengan benar dan berarti sehingga mereka ingin menemukannya. Mereka melihat bahwa hal itu nyata dalam diri Yesus sehingga mereka mencari Yesus. Mereka pun menemukan makna hidup dalam Yesus dan tinggal bersama-Nya.
Kita terkadang menemukan jadi diri kita dan bahkan didup kita dalam kekayaan kita, pendidikan kita, kehormatan kita, relasi kita, dan keberuntungan kita. Kita kerap meyakini bahwa dalam kesempatan itulah hididup kita sangat berarti. Akan tetapi, Tuhan berkata lain. Tuhan ingin agar mutu hidup kita dan apa yang kita cari, dapat ditemukan dengan tinggal bersama-Nya. Apa yang kita dapat di dunia ini, kiranya semakin membawa kita untuk selalu tinggal bersama Tuhan. Sebab bersama Tuhan, apa pun yang kita dapat dan perbuat akan semakin bekualitas dan mengarahkan kita kepada pemenuhan diri yang sejati. Jadi, jangan lupa pada Tuhan dalam hidup ini! (DG).

“Mutu hidup dan segala yang kita dambakan akan semakin mengkristal hanya dengan tinggal bersama Tuhan”

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Senin, 02 Januari 2012

DIA INILAH ANAK ALLAH (Yoh 1:29-34)

RENUNGAN HARIAN, SELASA 3 JANUARI 2012

Yoh 1: 29-34
Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel." Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: "Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah."