Jumat, 05 Oktober 2012

Renungan Harian: Senin 8 Oktober 2012

Renungan Harian: Senin 8 Oktober 2012

Luk 10:25-37

Pada suatu ketika, seorang ahli kitab berdiri hendak mencobai Yesus,

"Guru, apakah yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya,"Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu,"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya,"Benar jawabmu..

 

Ungkapan Iman

Pada hari raya Idul Fitri, ketika umat Muslim melaksanakan salat Ied di alun-alun utara Keraton Yogjakarta, umat Kristiani mengambil peran menjaga keamanan kampung karena seringkali rumah yang kosong dimasuki maling. Bahkan saat pulang salat Ied, umat Kristiani menyambut umat Muslim dengan hidangan kecil dan minuman pelepas dahaga. Makanan dan minuman ini disiapkan oleh umat Kristiani. Sebagai bandingan jumlah masyarakat Kampung Gamelan ada 90 kepala keluarga. Dari jumlah itu sebanyak 23 keluarga Kristiani yang lainnya Muslim, tapi walau minoritas umat Muslim sangat menghargai mereka (Majalah Hidup No.40 tahun 62, 5 Oktober 2008).

Injil hari ini mengajak kita untuk lebih terbuka pada perwujudan iman. "Siapakah sesamaku manusia?" Ungkapan Yesus ini  menjadi ajakan bahwa iman kita adalah iman yang hidup, bukan hapalan atau demi hukum. Kata "saudara" yang selalu dikaitkan dengan "hidup kekal" menjadi penanda bahwa yang dimaksudkan Yesus adalah kehidupan rohani yang matang. Hidup rohani yang matang akan membuahkan sikap dan tindakan yang bermuara pada kebaikan dan kedamaian.

Maka sikap toleran yang ditunjukkan umat Kristiani di kampung Gamelan ini menjadi salah satu model ungkapan iman yang menandakan kepercayaan kepada Allah. Lewat tindakan dan perbuatan mereka hendak ditandaskan betapa pentingnya menjalin relasi dengan sesama sebagai bagian dari buah iman. Lewat perbuatan sederhana ini mereka hendak  menunjukkan iman mereka secara nyata. Perwujudan iman ini menjadi undangan bagi sesama lain untuk sebaliknya menghargai mereka. Sebab tak bisa dipungkiri dalam kehidupan sehari-hari kita pasti bertemu dan berhadapan dengan sesama yang berbeda agama dan kepercayaan dengan kita.Ucapan dan terlebih tindakan hidup kita itulah yang menjadi identitas iman kita. Karena itu,  dalam pertemuan dengan sesama lain perlu sikap dasar seperti yang ditunjukkan oleh orang Samaria yang baik hati, yakni saling membantu dan menjalin persahabatan  yang sehat tanpa membedakan agama, ras, golongan, status, dan asal-usul (MES).

 

Pelita Hati: "Hidup kita hendaknya menjadi pewartaan yang paling ampuh dalam menyebarkan Kabar Gembira Tuhan"

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar