Selasa, 02 Oktober 2012

Renungan Harian: Rabu 3 Oktober 2012

Renungan Harian: Rabu 3 Oktober 2012

Luk 9:57-62

Sekali peristiwa, ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan, datanglah seorang di tengah jalan, berkata kepada Yesus,"Aku akan mengikuti engkau, ke mana pun Engkau pergi." Yesus menjawab,"Serigala punya liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Lalu kepada orang lain Yesus berkata,"Ikutlah Aku." Berkatalah orang itu,"Izinkanlah aku pergi dahulu, menguburkan bapaku." Tetapi Yesus menjawab,"Biarlah orang mati mengubur orang mati; tetapi engkau pergilah, dan wartakanlah Kerajaan Allah di mana-mana." Seorang lain lagi berkata,"Tuhan, aku akan mengikuti engkau, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku." Tetapi Yesus berkata,"Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah."

 

Mengikuti Yesus

Menjadi pengikut Kristus berarti bersedia berkorban dan bangkit bersama-Nya. Syarat yang harus dipenuhi memang berat karena menuntut pengorbanan bahkan harus menyerahkan nyawa. Mengapa Yesus memberi syarat yang begitu berat? Syarat berat ini tidak lain dan tidak bukan untuk menyatakan bahwa Dialah pilihan terbaik dalam hidup. Karena itu, dapat dimengerti bahwa memilih Yesus berarti harus menyerahkan diri secara total karena tak ada sesuatu pun kekuatan lain di dunia ini yang mampu menyaingi Yesus.

Dalam Injil hari ini dilukiskan bagaimana pertentangan yang akan muncul karena nama Yesus. Pertentangan ini tidak lain dan tidak bukan merupakan lukisan perubahan mental secara total yang diminta Yesus bagi kita para pengikut-Nya. Kita yang mengikuti Yesus harus berani dan mau menjadi manusia yang simpatik, lebih sederhana dalam kata dan perbuatan, solider pada mereka yang tidak memiliki apa-apa. Berusaha membuka pintu hati selebar-lebarnya bagi mereka yang susah dan tersingkir.

Lewat Injil hari ini kita diajak agar mau  belajar menerima dan menanggung salib kehidupan dengan menaruh kepercayaan yang utuh akan penyelenggaraan ilahi dengan sikap rela dan terbuka (MES).

 

Pelita Hati: Manusia tidak bisa dipaksa untuk menerima kebenaran. Ia hanya bisa didekatkan kepada kebenaran karena memang begitu watak manusia.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar