Minggu, 21 Oktober 2012

Renungan Harian: Kamis 25 Oktober 2012

Renungan Harian: Kamis 25 Oktober 2012

Luk 12:49-53

Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, "Aku datang melemparkan api ke bumi, dan betapa Kudambakan agar api itu selalu menyala! Aku harus menerima baptisan dan betapa susah hati-Ku sebelum hal itu berlangsung! Kalian sangka Aku datang membawa damai ke bumi? Bukan! Bukan damai, melainkan pertentangan! Karena mulai sekarang akan ada pertentangan antara lima orang dalam satu rumah, tiga melawan dua dan dua melawan tiga. Mereka akan saling bertentangan, bapa melawan puteranya, dan putera melawan bapanya,

Ibu melawan puterinya, dan puteri melawan ibunya, ibu mertua melawan menantu, dan menantu melawan ibu mertuanya."

 

SENGSARA MEMBAWA NIKMAT

Yesus bukan pembawa damai? Kalau begitu semuanya bohong. Bukankah para malaikat melagukan damai ketika Yesus lahir di Betlehem: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi..." (Luk 2:14)? Tidak! Tentu Yesus tidak bohong! Yesus datang untuk melemparkan api ke bumi dan menjalani baptisan. Keduanya menjadi satu kesatuan. Baptisan adalah prasyarat agar api menyala di bumi. Api yang dibawa dan dilemparkan Yesus tampaknya lebih mengacu pada Roh Kudus dan api yang dengan-Nya Yesus akan membaptis (Luk 3:16). Pelemparan api itu terjadi setelah Yesus bangkit dari mati dan naik ke surga, lalu mencurahkan Roh Kudus dalam rupa nyala api pada hari Pentakosta (Kis 2:3,33).

Akibat dari kedatangan-Nya itu adalah pertentangan atau perpecahan di antara orang-orang yang menerima dan yang menolak-Nya. Banyak orang takut mengikuti Yesus, karena takut dikucilkan oleh keluarganya. Tetapi banyak juga orang yang dengan teguh memilih Yesus dan pantang mundur menanggung segala risiko, biarpun sampai dibuang dan tak dihitung lagi sebagai anggota keluarganya.

Yesus diutus Allah Bapa bukan untuk membawa damai definitif ke atas bumi. Damai itu baru akan ditegakkan Allah di akhir zaman. Damai itu bukan damai lahiriah, tetapi berupa ketenangan jiwa yang sangat mendalam karena orang terbebas dari segala macam kesalahan dan dosa. Yesus datang bukan supaya kita tinggal aman-aman saja melainkan supaya kita merasa terganggu dan terdorong untuk mengubah hidup kita. Mengikuti Yesus berarti harus siap menanggung beban dan derita, bahkan penganiayaan dari orang-orang yang tak sejalan dengan iman kita, termasuk keluarga sendiri. Tetapi barangsiapa terus berjuang dan tetap bertahan dalam iman kepada Yesus, pada akhirnya akan memperoleh kedamaian abadi. Jadi, ikut Yesus itu "sengsara membawa nikmat"(MM).

 

Pelita Hati: Mengikuti Yesus berarti harus siap menanggung beban dan derita, bahkan penganiayaan dari orang-orang yang tak sejalan dengan iman kita, termasuk keluarga sendiri.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar