Sabtu, 15 September 2012

ORDO SAUDARA DINA KAPUSIN DI INDONESIA


ORDO SAUDARA DINA  KAPUSIN DI INDONESIA

I. SEJARAH SINGKAT
Santo Fransiskus mendirikan tiga ordo. Ordo pertama untuk laki-laki, ordo kedua, Klaris dan ordo ketiga untuk awam (regular dan sekular). Kemudian ordo pertama dibagi atas tiga ordo; Ordo Fratrum Minorum (OFM), Ordo Fratrum Minorum  Konventual (OFM Conv) dan Ordo Fratrum Minorum Capuccinorum (OFM Cap), yang biasa disebut dengan ordo Kapusin. Ketiganya menghidupi Anggaran Dasar yang sama yang disusun oleh Fransiskus Assisi yang disahkan oleh paus Honorius III. Ordo Kapusin, dimulai oleh Matheus dari Bascio. Ordo kapusin resmi berdiri tgl 3 Juli 1528 dengan Bulla Religionis Zelus. Anggota ordo Kapusin terdiri dari klerus (imam) dan laicus yang biasa disebut bruder.
Panggilan nama Kapusin awalnya berawal dari sorakan  anak-anak yang melihat para saudara yang memakai jubah yang punya kap panjang dan runcing. Mereka meneriakkan : Scapucini!, Scapucini! (pakai kap). Dari teriakan inilah lahir  nama Kapusin. Ordo Kapusin ini sudah tersebar luas ke seantero dunia.

Kapusin tiba di Indonesia
Missionaris Kapusin tiba di Indonesia pertama kalinya pada tahun 1905 di Singkawang (Kalimantan Barat). Saudara yang pertama tiba di sana adalah: P. Pacificus Bos dari Uden, P. Eugenius dari Reijen, P. Beatus dari Dennenburg, P. Camillus dari Pannendern, Br. Wilhelmus dari Oosterhout dan Theodoricus dari Uden.
Tahun 1912 Misionaris Kapusin mulai berkarya di Pulau Sumatera. Saudara pertama yang tiba di Tanjung Sakti (Sumatera) ialah: P. Mattheus de Wolf, P. Camillus Buil, Mgr. Liberatus Cluts, P. Augustinus Huybrechts dan P. Remigius van Hoof . Dari Tanjung Sakti mereka kemudian melayani seluruh kawasan Sumatera. Tahun 1952 di daerah Sibolga dibuka menjadi daerah missi oleh kapusin dari Jerman. Mereka pada awalnya misionaris di Tiongkok, tetapi karena tempat itu tidak memungkinkan ditempati lagi maka mereka datang ke Indonesia.
Tanggal 31 Januari 1976, Kapusin Indonesia resmi berdiri menjadi satu propinsi yang terdiri atas tiga regio: Regio Kalimantan, Regio Sibolga dan Regio Medan. Pemimpin propinsi Indonesia yang terakhir sebelum dibagi menjadi tiga propinsi adalah Sdr.Thomas Saragi, OFMCap.
Kapusin Propinsi Indonesia semakin hari semakin berkembang dengan jumlah anggota yang semakin banyak. Pada tanggal 2 Februari 1994 kapusin Indonesia dimekarkan menjadi tiga propinsi, yakni Propinsi Kapusin Kalimantan, Propinsi Kapusin Sibolga dan Propinsi Kapusin Medan.

II. HIDUP ROHANI
Hidup rohani saudara-saudara Kapusin bertumpu pada tiga sokoguru, yakni: doa, kemiskinan dan cinta kasih. Dalam doa, khususnya doa batin, hati diarahkan kepada Allah. Dalam kemiskinan, segala-galanya ditinggalkan dan hati dibebaskan dari belenggu yang mengikatnya kepada makhluk ciptaan. Dalam cinta kasih terhadap Tuhan dan sesama, doa dan kemiskinan itu diintegrasikan sehingga berkenan kepada Allah.
Selain ketiga sokoguru tadi, saudara Kapusin juga memandang Kristus sebagai pusat hidup mereka, khususnya merenungkan sengsara dan wafatNya di Salib. Mereka juga menghayatinya di dalam kebaktian Sakramen Maha Kudus. Mereka melihat bahwa di dalam Sakramen Maha Kudus itu Kristus Penebus kita sungguh hadir dan tinggal di antara kita.
Selain itu hidup tapa dan cinta kasih juga merupakan semangat hidup Kapusin. Dengan menghayati kemiskinan dan doa batin, saudara Kapusin semakin terdorong untuk menjalankan ulah tapa agar cinta kasih pada sesama semakin mendalam. Cinta kasih mendorong mereka untuk berjerih payah demi keselamatan jiwa-jiwa orang lain dalam aneka ragam cara.
Kemiskinan seturut injili juga merupakan semangat hidup saudara dina Kapusin. Kemiskinan tersebut, mengajak mereka untuk tidak menginginkan barang-barang duniawi manapun sebagai jaminan hidup. Dan menyerahkan diri seluruhnya ketangan Allah, sehingga Dia sepenuh-penuhnya dapat berkuasa di hati kita.

III. CIRI KHAS ORDO KAPUSIN
1.      Hidup dalam Persaudaraan
Ada ungkapan Fransiskus yang menyebutkan bahwa, “saudara adalah rahmat”. Maka Fransiskus sangat menekankan agar para saudara selalu hidup dalam persaudaraan (Fraternitas). Dan inilah yang dihidupi oleh persaudaraan Kapusin hingga dewasa ini. Persaudaraan itu nampak dalam saling menghormati dan menghargai setiap saudara, dan solider dengan saudara lain.
2. Hidup Doa
Hidup doa mendapat prioritas dalam ordo kapusin, karena doa menjadi nafas hidup dan karya setiap saudara. Doa ini dilaksanakan baik secara bersama maupun pribadi.
2.      Kemiskinan dan Kedinaan
Fransiskus menyebut ordonya sebagai ordo saudara-saudara dina. Para Kapusin menghayati kemiskinan dan kedinaan itu dengan hidup sederhana baik dalam penampilan maupun dalam tutur kata, bermurah hati, melihat karya saudara adalah karya persaudaraan, tidak melekat pada karya tertentu dan berpihak kepada orang kecil dan miskin (option for the poor).  
3.      Kerasulan
Kerasulan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hidup para saudara Kapusin. Adapun yang menjadi ciri khas kerasulan para saudara Kapusin adalah; melayani sakramen rekonsiliasi (Tobat), menjadi pendamai kelompok yang bertikai, pengkhotbah keliling, hidup di tengah masyarakat sederhana, terbuka pada setiap tugas yang dibutuhkan baik oleh ordo maupun gereja lokal, serta ikut mempromosikan keadilan, damai dan keutuhan ciptaan (Justice, Peace and Integrity of Creation).
4.      Pertobatan dan menerimakan sakramen pengakuan dosa.
5.      Memilih karya yang terpinggir yang tidak disukai oleh orang pada umumnya
6.      Ordo Kapusin ini juga sering dijuluki sebagai pengkhotbah keliling.

IV.  KARYA-KARYA KAPUSIN DI INDONESIA
Bertitik tolak dari spiritualitas ordo Kapusin tersebut, maka karya-karya yang ditangani oleh saudara Kapusin, antara lain, mengurus rumah tangga fraternitas, mengelola rumah pembinaan, memimipin retret, rekoleksi dan kursus-kursus, pastoral kategorial, pastoral parokial, pelayanan rohani terhadap Ordo fransiskan  regular dan sekular dan juga kongregasi yang lain, menjadi staf pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT), mengelola sekolah dan asrama, mengelola museum, mengelola media komunikasi dan percetakan, mengelola rumah doa. Karya dan pelayanan ini ada yang dijalankan purna waktu dan ada juga yang paru waktu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar