Sabtu, 27 April 2013

Renungan Harian: Selasa, 30 April 2013

Renungan Harian: Selasa, 30 April 2013

Kis 14:19-28; Yoh 14: 27-31a

Berharap kepada Yesus

            Perpisahan dengan orang yang kita kasihi dan yang kita harapkan akan membantu kita dalam kehidupan ini yang secara nyata telah memberikan banyak hal yang baik kepada kita akan selalu mendatangkan kesedihan. Selain kesedihan, kita juga mulai merasa cemas, merasa kehilangan pegangan dan seolah tidak tahu lagi mau berbuat apa nanti tanpa kehadiran pribadi itu.

                Pengalaman yang sama dirasakan oleh para murid Yesus yang mendengar sendiri bahwa Yesus sang Guru mereka akan segera meninggalkan mereka. Kekuatan dan keyakinan diri yang lahir dari kebersamaan dengan Yesus tampaknya akan hilang dari mereka. Mereka cemas, gelisah, takut, dan berbagai perasaan lain yang menggentarkan hati mereka. Yesus mengerti semua itu. Yesus tahu rasa takut dan gelisah yang menghantui mereka itu dan merasa tak siap untuk ditinggalkan dalam keadaan seperti itu. Tetapi justru pada saat seperti itulah Yesus tampil menguatkan mereka. Yesus sendiri menguatkan mereka dengan damai sejahtera-Nya dan meyakinkan mereka untuk tidak gelisah dan gentar tentang apa yang akan terjadi. Sebaliknya mereka diajak oleh Yesus untuk bersukacita karena Dia yang pergi akan datang kembali dan ketika itu terjadi segala kecemasan yang berasal dari dunia ini akan berakhir. Kuasa dunia yang paling besar pun tidak akan mampu menguasai Dia yang datang dari Surga.

                Hidup kita sebagai manusia dan sebagai orang beriman akan selalu disertai dengan berbagai pengalaman hidup yang barangkali akan menakutkan dan mencemaskan kita. Kita masih akan mengalami suasana hati seperti para murid yang ditinggalkan oleh Yesus. Kita masih akan mengalami suasana hati yang gentar dan seakan kehilangan pegangan karena berbagai problem hidup sebagai manusia dan sebagai orang beriman. Dalam suasana hati seperti itu, yang terbaik adalah membuka hati untuk Tuhan yang ternyata tidak meninggalkan kita. Memberi kesempatan kepada Yesus agar Dia menyentuh kita dengan kekuatan-Nya yang menyelamatkan. Menunjukkan iman kita dengan sikap hidup yang terbuka agar mampu menerima peneguhan yang menyembuhkan dan menyelamatkan (SM).

 

Pelita Hati: Kita masih akan mengalami suasana hati seperti para murid yang ditinggalkan oleh Yesus.

Renungan Harian: Senin, 29 April 2013

Renungan Harian: Senin, 29 April 2013

Kis 14:5-17; Yoh 14: 21-26 - Pw St. Katarina dari Siena

 

Mengasihi Allah Berarti menuruti Perintah-Nya

 

            Seluruh perbuatan kasih yang diwujudkan oleh Yesus adalah kesetiaan-Nya dalam berpegang teguh pada perintah Bapa-Nya dan dengan tekun melaksanakan semua sebagaimana dikehendaki oleh Bapa yang mengutus-Nya. Yesus mewartakan dengan perbuatan dan dalam seluruh pengajaran-Nya bahwa Allah itu adalah kasih yang benar. Seluruh perintah-Nya adalah perintah Cinta Kasih yang bertujuan untuk keselamatan semua orang. Dan sesungguhnya warta itulah yang dibawa oleh Yesus dalam seluruh hidup-Nya walaupun tidak semua orang dapat mengerti dan menerima wujud Cinta Kasih yang sedemikian itu.

                Santa Katarina dari Siena yang kita peringati pada hari ini, menjadi penghadir Cinta Kasih Allah itu dalam hidupnya pertama-tama lewat kesetiaannya menjalankan perintah Tuhan kepadanya. Kecintaannya kepada Kristus yang tersalib yang adalah tanda kehadiran sempurna dari Kasih Allah kepada manusia, mendorongnya untuk dengan tekun dan dengan kerja keras mengembangkan hidupnya agar semakin mampu mengasihi Allah dan sesamanya. Kesetiaannya dalam iman dan perintah Allah yang benar, telah menjadikannya pewarta Kasih Allah yang benar secara khusus dalam Gereja lewat buah-buah permenungannya yang sangat mendalam tentang Kebijaksanaan yang ilahi. Kebijaksanaan itu dia wartakan dan telah ikut menyelamatkan Gereja pada masa sulit di mana ada banyak ajaran-ajaran sesat yang menggoyahkan Gereja.

                Kita adalah umat beriman yang mengenal perintah Cinta Kasih Allah. Kita adalah orang yang dipanggil Tuhan untuk menghadirkan Cinta Kasih itu sebagaimana Santa Katarina. Yesus mengajar kita untuk mengasihi dengan dasar mau berpegang teguh pada perintah Cinta Kasih Allah sendiri. Jika ini adalah motivasi kita, maka kita akan selalu mengasihi dengan benar, dan setiap tindakan kasih kita, termasuk pengorbanan yang tampaknya sia-sia bagi orang lain, akan selalu menggembirakan kita. Tindakan kasih yang lahir dari kecintaan pada perintah Tuhan akan menjadikan kita pribadi-pribadi yang sama seperti Santa Katarina untuk membela Gereja dan menjaga masyarakat dan lingkungan di mana kita hidup (SM).

 

Pelita Hati: Kita adalah umat beriman yang mengenal perintah Cinta Kasih Allah.

Renungan Harian: Minggu, 28 April 2013

Renungan Harian: Minggu, 28 April 2013 

Kis 14:21b-27; Why 21:1-15; Yoh 13:31-33a.34-35 -  Paskah V

 

“Saling Mengasihi”

 

             Setelah Yudas sang penghianat Yesus pergi dari perjamuan malam, Yesus kemudian memberikan suatu perintah baru kepada para murid-Nya. Perintah itu disebut baru karena akan menjadi tugas yang khas bagi kelompok baru, yakni para murid-Nya yang telah didirikan oleh Yesus sendiri. Perintah itu mengajarkan para murid untuk saling mengasihi seorang terhadap yang lain. Dengan saling mengasihi seperti dimaksudkan oleh Yesus, maka tak seorang pun dianggap atau menganggap dirinya lebih tinggi dari yang lain. Dengan saling mengasihi setiap orang adalah saudara dan saudari yang membutuhkan kasih dari yang lain dan yang harus juga mengasihi saudara-saudarinya. Setiap orang adalah pelaku perbuatan kasih tanpa memandang bulu. Inilah ajaran baru yang disampaikan oleh Yesus kepada para murid-Nya.

                Kata ‘kasih’ dan kata-kata lain yang senada dengan itu, sangat sering kita dengar dalam berbagai bentuk. Ada lagu, puisi, tulisan-tulisan, dan berbagai simbol. Mengatakan kasih atau mengasihi bukanlah perkara yang sulit bagi kita. Yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah, “Apakah kata kasih yang keluar dari mulut kita adalah kata kasih yang keluar dari hati?” Atau pertanyaan lain, “Sungguhkah aku mengasihi sesering aku mengatakan kata kasih itu?” Dan ada banyak lagi pertanyaan yang pantas kita kenakan kepada diri sendiri untuk menguji sejauh mana kita mengasihi dalam wujud perbuatan.

                Kasih yang telah ditunjukkan oleh Yesus adalah memberi diri bagi orang lain. Harta yang paling berharga yang Dia miliki itulah yang dibagikan-Nya kepada orang lain. Tinggal bersama, mendengar, ikut merasakan perasaan orang lain, mengerti, mengampuni dan berbagai perbuatan lain adalah tanda kasih Yesus yang sungguh dirasakan oleh orang-orang yang datang kepada-Nya. Yesus membuat banyak orang mengalami bahwa Allah sungguh hadir dalam hidup manusia.

                Tugas setiap orang beriman adalah mewartakan Paska, yakni hadirnya Kasih Allah di antara manusia. Orang beriman seperti kita, dalam keterbatasan dan dalam rahmat yang kita terima dari Allah, pantaslah selalu membaharui diri dalam mengasihi. Semoga kata-kata kasih yang keluar dari mulut kita, tersebar lebih luas lagi dalam perbuatan-perbuatan kita, bukan pertama-tama dalam perbuatan-perbuatan besar, tetapi dalam tindakan-tindakan yang sederhana yang sangat diperlukan oleh orang di sekitar kita (SM).

 

Pelita Hati: Setiap orang adalah pelaku perbuatan kasih tanpa memandang bulu.

Senin, 22 April 2013

Renungan Harian: Sabtu, 27 April 2013

Renungan Harian: Sabtu, 27 April 2013

Kis 13:44-52; Yoh 14:7-14

 

Tuhan Tunjukkanlah Bapa itu kepada Kami, Cukup!

 

Ketika kita mengamati seorang anak kecil, sering kita spontan mengatakan, "Ee, anak ini gagah mirip sekali dengan ayahnya." Lalu dengan bangga si ayah yang mendengar komentar itu menjawab, "Siapa dulu dong ayahnya." Kemiripan dan kesatuan antara ayah dan anak sering menjadi kekuatan di dalam diri anak untuk mampu melakukan suatu tindakan. Dan si anak sering bersaksi menyatakan bahwa dia bangga punya ayah seperti itu (meskipun ada juga anak yang tidak bangga melihat ayahnya).

Yesus dengan tegas menyatakan kesatuan-Nya dengan Bapa di surga. Orang di sekitar Yesus sering menuntut tanda yang jelas dari Yesus, bahkan orang yang paling dekat dengan-Nya. Seperti pertanyaan Filipus, "Tuhan tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami." Sehubungan dengan itulah Yesus menjelaskan kepada mereka bahwa setiap orang yang telah melihat Dia telah melihat Bapa. Yesus adalah bukti nyata dari kehadiran Bapa di dunia. Maka ketika kita memandang Yesus, kita sudah melihat Bapa terutama dalam berbagai mukjizat yang dilakukan oleh Yesus, itu menunjukkan kuasa dari Allah.

Allah itu berkenan disebut Bapa, artinya karena Dia memiliki kedekatan dengan Yesus sebagai anak, bukan Allah yang jauh, yang tidak dikenal. Seluruh hidup Yesus menyatakan Bapa kepada setiap bangsa manusia, tidak terkecuali. Mau melihat Allah Bapa? Cari dan temuilah Yesus kamu pasti menemukan-Nya (JRS).

 

Pelita Hati: Cari dan temuilah Yesus kamu pasti menemukan-Nya!

Renungan Harian: Jumat, 26 April 2013

Renungan Harian: Jumat, 26 April 2013

Kis 13:26-33; Yoh 14:1-6

 

Yesus adalah Jalan Kebenaran dan Kehidupan

 

Pada umumnya, orang yang sudah tinggal di rumah sendiri meskipun itu rumah sederhana, akan merasa lebih nyaman dari pada di rumah mewah tetapi milik orang lain. Mengapa? Karena di rumah sendiri mereka merasa bebas, lepas, dan tak perlu sungkan ataupun cemas seperti di rumah orang lain.

Yesus dalam Injil hari ini meyakinkan kita bahwa kita tidak perlu cemas, gelisah karena Dia akan menyediakan tempat bagi kita. Dalam konteks ini rasanya Yesus  berbicara sesudah kehidupan di dunia ini. Kita tidak usah takut dan gelisah akan hidup kita di akhirat, Yesus akan menyiapkannya. Tetapi Thomas tidak bisa menangkap bahwa Yesus berbicara tentang hidup sesudah di dunia ini. Maka Thomas bertanya, "Tuhan kami tidak tahu ke mana Engkau akan pergi, jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?"

Inilah yang dialami oleh Thomas, dia tidak sungkan bertanya kepada Yesus, meskipun sebenarnya mereka telah hampir tiga tahun hidup bersama, dan Thomas belum juga menangkap sepenuhnya apa makna kata-kata Yesus. Dari hatinya yang terdalam, tanpa kepura-puraan dia datang dan bertanya, dari manakah jalan ke Rumah Bapa.

Di dalam menjalani kehidupan ini, ketika kita menghadapi keraguan dan ketakutan, ketika jalan-jalan yang kita lalui terasa buntu, tidak tahu hendak ke mana, datanglah dan bertanyalah kepada Yesus. Mari dengan mantap tanpa ragu meminta kepada-Nya, "Tuhan tunjukkanlah jalan mana yang harus kutempuh". Yakinlah Yesus akan menjawab pertanyaan kita "Mari, Akulah jalan, kebenaran dan kehidupan." (JRS)

 

Pelita Hati: "Mari, Akulah jalan, kebenaran dan kehidupan."

Sabtu, 20 April 2013

Renungan Harian: Kamis, 25 April 2013

Renungan Harian: Kamis, 25 April 2013

Kamis: 1 Ptr 5:6b-14; Mrk 16:15-20 - Pesta St. Markus

 

Aku dan Anda Dipanggil untuk menjadi Pewarta Injil

 

Kita mungkin mengenal sedikit tentang siapakah Santo Markus itu. Dia seorang pengarang Injil yang kedua, (meskipun diyakini bahwa Injil Markus adalah yang tertua) yang sangat dipengaruhi oleh budaya Hellenis. Dalam Kisah para Rasul bab 12 dan 13 diceritakan berita tentang Markus dan keluarganya. Pada masa mudanya memang belum nampak atau menonjol semangat kerasulannya, hal itu nampak dari pengalaman perjalanannya bersama rasul Paulus. Markus menarik diri dan tidak mau lagi ikut bersama Paulus, lalu memutuskan untuk ikut bergabung dengan Petrus ke Roma.

"Pergilah ke seluruh dunia dan beritakanlah Injil kepada segala makhluk." Di dalam kata-kata yang dituliskan oleh Santo Markus yang kita pestakan hari ini, tersirat bahwa apa yang diajarkan dan diketahuinya tentang sang Guru sungguh mendalam. Pewartaan Injil tidak hanya dilakukan dengan ajaran, khotbah, tetapi jauh lebih penting dengan kesaksian hidup; yakni cara bertutur kata, berpikir, dan bertindak yang diresapi oleh Roh Kudus. Jika semangat ini ada di dalam diri kita, maka sikap hidup kita akan menggambarkan kehadiran Yesus yang penuh kasih.

Tugas perutusan yang disampaikan oleh Yesus kepada para rasul, juga disampaikan kepada para kaum tertahbis (paus, uskup, imam, dan diakon). Kadang kita berpendapat "mewartakan Injil itu kan tugas para pastor, bukan tugasku". Pendapat itu tidaklah benar, sebab kita semua yang telah dibaptis ikut ambil bagian dalam tugas perutusan. Tugas ini bukanlah gampang, tetapi dengan bantuan Roh Kudus kita akan mampu melaksanakannya (JRS).

 

Pelita Hati: "Pergilah ke seluruh dunia dan beritakanlah Injil kepada segala makhluk."