Jumat, 30 November 2012

Renungan Harian: Minggu 2 Desember 2012

Renungan Harian: Minggu 2 Desember 2012

Luk 21:25-28.34-36

Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Akan tampak tanda-tanda pada matahari, pada bulan dan bintang-bintang, dan pada bumi. Bangsa-bangsa di bumi akan ketakutan dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena cemas berhubung dengan segala sesuatu yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan bergoncangan. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab  penyelamatanmu sudah dekat.

 

Gejala-gejala Alam dan Kedatangan Tuhan

Ketika terjadi letusan gunung Sinabung di tanah Karo pada 2010 yang lalu, penduduk tanah Karo ketakutan dan ribuan orang mengungsi untuk beberapa minggu. Dari kejauhan, orang-orang mengamati asap yang keluar dari puncak gunung itu. Beberapa orang mengabadikan peristiwa itu dengan kameranya dan mengaku melihat  'seseorang' seperti melayang di atas gunung yang sedang beraksi itu;  seperti seorang yang berjenggot, terekam oleh kameranya. Apakah ini tanda Tuhan akan datang? Munculnya komentar semacam ini, diinspirasi oleh teks Injil hari ini: sesudah tanda alam yang menakutkan, orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan.

Minggu ini, kita masuk dalam masa Adven, masa penantian akan kedatangan Tuhan: kedatangan-Nya pertama kali ke dunia ini dan kedatangan-Nya pada akhir zaman. Dua minggu terakhir (Minggu Adven III dan IV) diarahkan pada permenungan dan doa-doa persiapan akan peringatan kedatangan Tuhan di dunia ini dengan kelahiran-Nya di Betlehem. Sedangkan dua minggu pertama, minggu ini dan minggu depan: mengarahkan hati dan doa kita pada kedatangan Tuhan untuk kedua kali-Nya/akhir zaman. Dari perkataan Yesus dalam Injil hari ini, kita dapat menyimpulkan bahwa ada kaitan 'kedekatan' antara gejala-gejala alam yang menakutkan dengan kedatangan-Nya yang kedua itu.

Apakah kedatangan Tuhan itu sudah dekat?  Kita harus sadar bahwa Tuhan tidak terikat pada waktu; dekat menurut kita, belum tentu dekat bagi Tuhan, sebab "bagi Tuhan satu hari sama dengan seribu tahun", kata Pemazmur. Maka lebih baik kita kembali pada kata Yesus sendiri, tentang waktunya, Dia sendiri pun tidak tahu (apalagi kita!), hanya Bapa yang tahu. Hal paling baik yang dapat kita lakukan, sebagaimana dianjurkan Yesus: hendaklah kita senantiasa berdoa dan berjaga-jaga melalui hidup kita yang biasa setiap harinya (MS).

 

Pelita Hati: Datanglah, ya Tuhan Yesus.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Sabtu 1 Desember 2012

Renungan Harian: Sabtu 1 Desember 2012

Luk 21:34-36

Pada waktu itu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Jagalah dirimu, jangan sampai hatimu sarat dengan pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi, dan jangan sampai hari Tuhan tiba-tiba datang jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa, sambil berdoa. Agar kalian mendapat kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan agar kalian tahan berdiri di hadapan Anak Manusia."

 

Berjaga dan Berdoa, agar Beroleh Kekuatan

Apa yang diajarkan oleh Yesus, bersumber dari apa yang dihayati-Nya. Ajaran-Nya, ajakan-Nya dengan setia dilakukan-Nya. Tak lama sesudah perikop Injil hari ini, di mana Yesus mengajar murid-murid-Nya berjaga dan berdoa agar beroleh kekuatan, Yesus pergi ke kebun Getsemani bersama tiga orang murid-Nya. Ajakan yang sama disampaikan-Nya dan Ia sendiri berdoa dan berjaga. Dalam berjaga dan berdoa itu Ia sungguh sadar akan keadaan batin-Nya yang sedih, gelisah, dan takut menghadapi derita dan kematian yang sudah mendekat. Dan sebagai manusia, Ia ingin lepas darinya dengan berdoa: "... ambillah cawan ini daripada-Ku." Inilah reaksi biasa dari manusia normal. Namun, sebagai Putera Tunggal Bapa, Ia sadar penuh akan kesatuan dan cinta-Nya pada Bapa, maka Ia berserah diri dengan mengatakan: "tetapi bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi."

 Jadilah kehendak Bapa: Ia harus menderita dan wafat di salib. Sebagai buah dari penyerahan diri-Nya dalam doa dan berjaga, Dia tidak dilepaskan dari derita dan kematian di salib. Bapa memberi kekuatan kepada-Nya untuk menghadapi dan menerima derita dan kematian itu dengan hati tulus penuh kerendahan hati dalam kasih, setia menjalani jalan salib sampai menghembuskan nafas terakhir di atas salib.

Demikianlah seharusnya kita jalankan sebagai pengikut Kristus: "berjaga dan berdoa" dengan menyadari sepenuhnya kenyataan hidup kita yang benar, dengan segala macam derita dan kegembiraan hidup kita, lalu dengan tulus menyerahkan diri kita kepada Tuhan. Kadang-kadang kita alami derita dan beban hidup kita memang berlalu, tapi lebih sering terjadi bahwa derita, kesusahan tidak diambil dan pada akhirnya maut pasti datang... Namun, bila kita bersikap seperti Kristus yang kita ikuti: mengungkapkan kenyataan diri apa adanya, mohon dibebaskan, tapi dengan sikap "bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu", maka kita akan mendapat kekuatan baru untuk menghadapi semuanya itu dengan penuh ketabahan (MS).

 

Pelita Hati: Berjagalah satu jam saja bersama Aku

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Senin, 26 November 2012

Renungan Harian: Jumat 30 Nopember 2012

Renungan Harian: Jumat 30 Nopember 2012

Mat 4:18-22

Pada suatu hari, ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka itu penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Yesus. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

 

Menjadi Penjala manusia

Dengan mempergunakan kata yang sama, penjala, beberapa hal yang menarik dapat kita lihat dalam usaha Yesus memanggil para pengikut-Nya yang pertama, termasuk Andreas, yang kita pestakan pada hari ini. Pertama-tama dapat kita lihat, rasanya dengan tetap jadi penjala, para pengikut Yesus itu, termasuk Andreas, tidak dicabut dari akar hidup yang sudah lama dilakoninya. Selama ini, sebagai penjala ikan, Andreas giat bekerja mencari dan mengumpulkan ikan  dari laut yang dalam dan luas, demi kesejahteraannya dan keluarganya. Dengan menjadi penjala manusia, Andreas harus giat bekerja: mencari dan mengumpulkan manusia ke dekat Tuhan. 

Tapi dengan menjadi penjala manusia, ada yang baru, suatu peningkatan dalam tugasnya sebagai penjala. Andreas memang suka yang baru, peningkatan: tadinya dia murid Yohanes Pembaptis. Ketika ditunjuk yang baru, yang lebih tinggi, maka ia mengikuti yang baru itu, yakni Yesus. Apanya yang baru? Kalau menjala ikan, ikan-ikan yang jadi korban demi kebahagiaan penjala, sedangkan sebagai penjala manusia, penjalanya harus berkorban demi kepentingan/kebahagiaan manusia yang dikumpulkannya. Kita tahu di kemudian hari, Andreas mengorbankan hidupnya demi orang-orang lain dengan kerelaan disalibkan dengan salib X, yang kemudian dikenal dengan sebutan salib Andreas.

Dengan menjadi pengikut Kristus, kita semua bertugas menjadi penjala manusia lewat hidup kita yang diwarnai oleh kasih. Bila kehadiran kita di antara orang-orang lain diwarnai oleh kasih, baik dalam kata, sikap dan dalam perbuatan, maka manusia lain akan tertarik untuk berkumpul di sekitar Tuhan tanpa merasa diri dipaksa. Untuk itu, sering dituntut dari kita kerelaan untuk berkorban dalam aneka macam bentuk (MS).

 

Pelita Hati: Marilah kita saling 'menjala'!

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Kamis 29 Nopember 2012

Renungan Harian: Kamis 29 Nopember 2012

Luk 21:20-28

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Apabila kalian melihat Yerusalem dikepung oleh tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, orang-orang yang ada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota. Sebab itu masa pembalasan dan genaplah semua yang tertulis. Celakalah para ibu yang sedang hamil atau yang sedang menyusui bayi pada masa itu! Sebab kesesakan yang dahsyat akan menimpa seluruh negeri, dan murka akan menimpa bangsa .....

 

Peringatan Dini TSUNAMI...

Peristiwa tsunami yang terjadi di Jepang pada 2011, sungguh dahsyat dengan segala akibatnya. Karena pengalaman peristiwa serupa di masa-masa sebelumnya, maka Jepang mengusahakan alat canggih pemantau gejala alam, yang mampu memantau gejala awal sebelum terjadinya tsunami itu.  Dengan demikian, dapat diminimalisir "kerugian" yang akan diakibatkannya. Sebagai manusia, kita tidak menghendaki "kerugian" bagi diri kita; karena itu kita berusaha menghindarinya atau bila tak terhindari, sekurang-kurangnya memperkecil atau memperlambatnya. Kita bersalah bila kita dengan sengaja mencari bahaya bagi diri kita, fisik maupun rohani.

Hal ini dipesankan Yesus dalam Injil hari ini. "Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung... keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan dan orang yang berada dalam kota harus mengungsi..." Penderitaan dan aneka macam bencana akan mendahului datangnya Anak Manusia kembali, namun kita diajak untuk menjauhi bahaya-bahaya itu.

Sebagai orang yang percaya pada Kristus, kepada kita masing-masing diberikan hanya satu kehidupan di dunia. Kehidupan yang satu ini ditujukan untuk mempersiapkan diri bagi satu kehidupan yang kekal. Dalam perjalanan mengarahkan kehidupan kita pada tujuannya yang sejati, banyak hal yang mengancam yang bisa merugikan kehidupan itu. Misalnya, penyakit pasti akan kita alami; namun janganlah kita dengan sengaja mencari penyakit. Akhirnya kematian pasti datang (sebagai jalan menuju kehidupan kekal); namun kita tidak boleh mencari kematian itu dengan sengaja. Bila saya sudah tahu bahwa di kandang tertentu ada dua harimau lapar, namun saya dengan sengaja masuk ke dalamnya, itu namanya bunuh diri (melanggar kehendak Tuhan Pemilik hidup). Atas alasan inilah maka kita berusaha memelihara kesehatan dan bila sakit berusaha berobat. Dan dengan alasan yang sama, kita tidak boleh mempercepat datangnya kematian, misalnya dengan euthanasia (MS).

 

Pelita Hati: Tak usah berusaha mencari susah.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Rabu 28 Nopember 2012

Renungan Harian: Rabu 28 Nopember 2012

Luk 21: 12-19

Pada waktu itu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Akan datang harinya kalian ditangkap dan dianiaya. Karena nama-Ku kalian akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat, dimasukkan ke dalam penjara, dan dihadapkan kepada raja-raja dan para penguasa. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetap teguhlah di dalam hatimu, jangan kalian memikirkan lebih dahulu pembelaanmu, Aku sendirilah yang akan memberi kalian kata-kata hikmat, sehingga kalian tak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Dan kalian akan diserahkan juga oleh orangtuamu, saudara-saudaramu, ....

 

Bersaksi dalam derita

Segala derita, kesusahan, secara normal tidak dicari, tidak didambakan oleh manusia yang normal. Kita merindukan ketenteraman, kedamaian, dan kesejahteraan. Namun, dalam kenyataan hidup, malah kebalikannya yang sering kita alami. Kita menghindari kesusahan, namun tanpa kita undang derita itu datang dan selalu hadir dalam perjalanan hidup kita. Oleh karena itu, kalau memang itu suatu keharusan, maka kita perlu mengambil sikap terhadapnya.

Dalam Injil hari ini Yesus mengajak kita untuk memanfaatkan kenyataan derita itu sebagai kesempatan untuk bersaksi. Kita ambil contoh misalnya, saya sedang menderita penyakit yang menurut dokter tak dapat disembuhkan. Apa yang dapat disaksikan dalam derita itu, bagaimana saya dapat bersaksi? Pertama-tama dapat dikatakan: bila saya sungguh berusaha dengan tabah menerima kenyataan itu dan tetap makan dan minum dengan gembira hati, termasuk obat serta 'pesan-pesan' yang dianjurkan dokter, maka pengalaman derita itu telah kumanfaatkan untuk memberi kesaksian bahwa hidup itu sungguh berharga.  Dan ditujukan untuk hidup lain yang jauh lebih berharga dan mulia. Karena begitu berharga, maka harus kupelihara dengan baik, entah bagaimanapun kondisinya, atau sesingkat apa pun (menurut pengetahuan para ahli). Lalu saya juga memberi kesaksian bahwa hidup itu ada di tangan Tuhan. Artinya, walau dokter mengatakan bahwa penyakit saya tidak dapat disembuhkan dan mungkin sudah 'divonis beberapa bulan lagi', (begitulah menurut apa yang dia tahu) tapi dengan sikap saya tadi kuberi kesaksian bahwa hidupku bukan di tangan siapa pun, termasuk dokter yang paling ahli, tapi di tangan Tuhan.

Sikap dan kesaksian seperti itu dapat kumiliki berdasarkan kepercayaan saya pada Dia yang menderita dengan hebatnya di jalan salib-Nya bahkan sampai wafat. Bukan masalah suka-tidak suka, ini kehendak Bapa, maka diterima-Nya dengan tulus: tidak berontak, tidak bersungut... maka kepala serdadu berkata: "Sungguh Dia ini Anak Allah!" (MS).

 

Pelita Hati: Rahmat baru ditawarkan dalam setiap peristiwa.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Selasa 27 Nopember 2012

Renungan Harian: Selasa 27 Nopember 2012

Luk 21:5-11

Ketika itu beberapa orang berbicara tentang bait Allah dan mengagumi bangunan yang dihiasi dengan batu indah, dan berbagai macam barang persembahan. Tetapi Yesus berkata kepada mereka, "Akan tiba harinya segala yang kalian lihat di situ diruntuhkan, dan tidak akan ada batu yang lain." Lalu murid-murid bertanya, "Guru, bilamanakah hal itu akan terjadi?" Jawab Yesus, "Waspadalah, janganlah sampai kalian disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku, dan berkata: Akulah Dia dan saatnya sudah dekat. Janganlah kalian mengikuti mereka. Dan bila kalian mendengar kabar tentang perang dan pemberontakan, janganlah kalian terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan segera datang segera." Kemudian Yesus berkata kepada mereka,  "Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan. Akan terjadi gempa bumi yang dahsyat, dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan. Dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit."

 

Bait Allah akan dihancurkan

Dalam Injil hari ini, Yesus meramalkan bahwa Bait Allah yang dibanggakan bangsa-Nya itu akan dihancurkan. Kalau kita perhatikan, rasanya dalam mengungkapkan ramalan kehancuran Bait Allah itu, tak ada sejenis nada entah 'sedih' misalnya atau 'sayang' dalam diri Yesus; 'datar' saja... (Dan memang benar terjadi bahwa Bait Allah itu dihancurkan untuk kedua kalinya oleh tentara Romawi pada tahun 70 AD di bawah pimpinan Jenderal Titus).

Bagi Yesus, Bait Allah hanyalah merupakan sarana sementara, yang tidak mutlak demi keselamatan. Bait Allah yang sejati ialah Diri-Nya sejati (Yoh 2: 19) dan diri para pengikut-Nya (1Kor 3: 16). Sementara ada golongan/agama tertentu yang membanggakan 'Rumah Ibadatnya' sebagai sesuatu yang mutlak, sehingga harus dibela dan dipertahankan sehabis-habisnya dengan segala cara, termasuk membunuh orang yang mengganggunya (dan ini sungguh bertentangan dengan ajaran setiap agama sejati).  

Kita sering menyaksikan bahwa rumah ibadat, termasuk gedung gereja Katolik, dirusak, dihancurkan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab, atas alasan membela ajaran agamanya. Tentu kita merasa sayang, banyak kerugian, dan kita berusaha menjaga gedung gereja dengan baik. Pelakunya harus diadili dengan jujur. Tapi pada akhirnya kita harus sadar bahwa gedung rumah ibadat itu hanyalah sarana sementara. Maka kita tak perlu mencemaskannya seolah itu barang mutlak yang punya nilai keselamatan dalam dirinya sendiri (MS).

 

Pelita Hati: Tak ada yang mutlak selain Dia yang menciptakan segalanya

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Senin 26 Nopember 2012

Renungan Harian: Senin 26 Nopember 2012

Luk 21:1-4

Di bait Allah, tatkala mengangkat muka, Yesus melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan.

Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Maka Yesus berkata,"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini  memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberikan persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberikan dari kekurangannya, bahkan ia memberikan seluruh nafkahnya."

 

Persembahan Janda miskin

Dalam Injil hari ini, Yesus mengarahkan perhatian kita pada seorang janda yang miskin. Janda miskin itu dibandingkan-Nya dengan orang lain dalam hal memasukkan persembahan ke dalam peti persembahan. Orang lain itu memasukkan persembahannya (diandaikan jumlah nominalnya lebih besar dari janda itu) dan janda miskin itu pun memasukkan persembahannya dua peser ke dalam peti itu (lebih kecil dari yang lain).

Yesus menegaskan bahwa pemberian janda miskin yang kecil itu 'lebih banyak' daripada pemberian orang-orang lainnya dengan alasan: orang-orang lain itu memberi dari kelimpahannya; katakanlah misalnya, dibanding dengan uang yang masih ada dalam dompetnya, persembahan yang diberikannya hampir tak ada artinya. Sedangkan janda itu memberikan dari kekurangannya: segala yang ada padanya diberikannya sebagai persembahan: dompetnya kosong. Dan menarik memperhatikan: janda itu memberikan dua mata uang tembaga terkecil (peser), bukan hanya satu (asal ada dan yang terkecil). Demikianlah, yang paling sedikit itu menjadi lebih besar dalam mata Yesus.

Dalam ibadat-ibadat yang kita jalankan, di Gereja ataupun di rumah-rumah di lingkungan, biasanya kita juga mengadakan pengumpulan 'persembahan'. Itu kita laksanakan sebagai ungkapan iman kita bahwa segala yang baik, yang ada pada kita berasal dari Tuhan. Maka dengan tanda yang nampak ini kita menyatakan iman itu sambil berterima kasih kepada Tuhan. Bagaimana biasanya kita memberi persembahan: apakah yang kita berikan cukup berarti dibanding dengan yang masih tinggal di dompet kita? Atau (Semoga jangan terjadi!) satu mata uang terkecil dan yang paling  buruk diberikan sebagai persembahan?? Artinya: asal ada?? (MS).

 

Pelita Hati: Berilah pada yang lain apa yang berharga bagimu

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.