Senin, 08 Oktober 2012

Renungan Harian: Kamis 11 Oktober 2012

Renungan Harian: Kamis 11 Oktober 2012

Luk 11:5-13

Pada waktu itu, sesudah mengajar para murid berdoa, Yesus bersabda kepada mereka, "Jika di antara kalian ada yang tengah malam pergi ke rumah seorang sahabat dan berkata kepadanya,"Saudara, pinjamilah aku tiga buah roti, sebab seorang sahabatku dalam perjalanan singgah di rumahku, dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya;' masakah ia yang di dalam rumah itu akan menjawab, 'Jangan mengganggu aku; pintu sudah tertutup, dan aku serta anak-anakku sudah tidur. Aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu.' Aku berkata kepadamu: Sekalipun dia tidak mau bangun dan tidak mau memberikan sesuatu meskipun ia itu sahabatnya, namun karena sikap sahabatnya yang tidak malu-malu itu, pasti ia akan bangun dan memberikan apa yang dia perlukan. Oleh karena itu, Aku berkata kepadamu, mintalah maka kamu akan diberi; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta akan menerima; setiap orang yang mencari, akan....

 

Membantu dengan Tulus

Saat kita merasa bahwa hidup kita gagal kita mungkin benar-benar jadi bingung dan putus asa. Tak tahu harus berbuat apa lagi. Hidup rasanya tidak berarti apa-apa. Semuanya terasa sia-sia. Kita pun mungkin merasa bahwa diri kita tak ada harganya lagi. Akibatnya kita jadi suka berdiam diri dan murung. Lebih parah lagi kita mungkin hanya mengeluh dan bahkan menyalahkan Tuhan. Dalam keadaan demikian baiklah kita ingat kata-kata bijak dari santo Fransiskus Sales (1567-1622) yang mengatakan bahwa Tuhan adalah bagaikan kompas. Dalam situasi apa pun yang kita alami Tuhan tetap hadir dan mengarahkan hidup kita.

Yesus sebagai kompas dilukiskan dalam Injil hari ini. Yesus melukiskan sebuah perumpamaan tentang orang yang sedang dalam perjalanan dan membutuhkan makanan. Kegelisahan orang tersebut  terobati karena dia  diberi makan. Namun, dibalik peristiwa makan ini hendak ditandaskan  bahwa bila kita mengikuti arahan Yesus sebagai kompas atau pengarah kehidupan kita maka kita tidak akan pernah lagi mengalami kekosongan hidup, kegalauan, dan kesendirian. Karenanya hidup beriman kita perlu dituntun oleh "kompas" roh Allah. Kita perlu menyadari bahwa suara Roh Allah selalu mengarahkan kita pada kedamaian dan kemauan untuk berbagi. Kemauan untuk berbagi dalam tuntutan Roh Allah secara tulus maka kita akan mengalami kelimpahan rahmat yang tidak akan pernah berkesudahan. Perbandingan yang ditunjukkan dalam Injil ini yakni antara bapa duniawi dengan Bapa surgawi hendak menandaskan bahwa membantu dengan tulus akan mempunyai nilai dan makna yang paling tinggi. Marilah berbagi sebab dengan berbagi kita akan mendapat kelimpahan dalam segalanya (MES).

 

Pelita Hati: Aku ingin menjadi saudara bagi semua karena kita ... saudara satu Bapa.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Jumat, 05 Oktober 2012

Renungan Harian: Rabu 10 Oktober 2012

Renungan Harian: Rabu 10 Oktober 2012

Luk 11:1-4

Pada waktu itu Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang murid-Nya kepada-Nya, "Tuhan, ajarlah kami berdoa sebagaimana Yohanes telah mengajar murid-muridnya." Maka Yesus berkata kepada mereka, "Bila kalian berdoa, katakanlah: 'Bapa, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu. Berilah kami setiap hari makanan yang secukupnya, dan ampunilah dosa kami sebab kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami;

dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan."

 

Doa sebagai Nafas Hidup

"Bunga-bunga tiada akan mekar mewangi, jika tanpa disegarkan air, hidup akan menjadi hampa jika tanpa cinta kasih Tuhan." Syair lagu dari Madah Bakti ini sungguh berkesan dan penuh makna. Bila kita menghayati syair lagu dengan saksama maka akan terasa sebuah nilai yang sangat berarti. Bagi orang yang tidak pernah merasa kesulitan memperoleh air dalam kehidupan sehari-hari, mungkin lagu itu akan terasa sangat biasa karena hanya dinyanyikan di mulut, tetapi tidak meresap di dalam hati. Hal ini sangat berbeda bagi orang yang pernah atau sering kesulitan untuk mendapatkan air dalam hidupnya. Bagi mereka syair lagu itu pasti akan memberikan kesan yang sangat mendalam.

Pengalaman akan pentingnya air dalam kehidupan sama halnya dengan berdoa. Memang tak jarang kita menjadi bosan dalam berdoa karena hidup kita terasa sudah lengkap semua. Tetapi mesti disadari bahwa doa merupakan jantung hidup. Orang yang dengan tulus berdoa dalam hidupnya akan merasakan damai dalam hidupnya. Berdoa bukan soal lamanya, tetapi soal ketulusan. Beragam cerita yang pernah kita dengar dari orang yang sungguh tulus berdoa.

Injil hari ini mengingatkan kita akan makna dan tujuan berdoa. Lebih mendalam dalam doa yang diajarkan Yesus ini tampak keutuhan secara sempurna, yakni pujian, kemuliaan, dan permohonan. Ketiga unsur ini mesti nampak dalam setiap doa. Kita sering berdoa hanya kalau butuh saja atau dalam situasi terdesak. Injil mengingatkan kita kembali bahwa berdoa tidak mengenal situasi hidup, tetapi harus terus-menerus (MES)

 

Pelita Hati: "Masa hidup kami hanya tujuh puluh tahun, dan jika kuat delapan puluh tahun dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap." (Mzm 90:10).

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Selasa 9 Oktober 2012

Renungan Harian: Selasa 9 Oktober 2012

Luk 10:38-42

Dalam perjalanan ke Yerusalem Yesus dan murid-murid-Nya tiba di sebuah kampung. Seorang wanita bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Wanita itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria.

Maria duduk di dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan sabda-Nya.

Tetapi Marta sangat sibuk melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, "Tuhan, tidakkah Tuhan peduli, bahwa saudariku membiarkan daku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Tetapi Yesus menjawabnya, "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, padahal hanya satu saja yang perlu. Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil daripadanya."

 

Berdoa dan Bekerja

Dalam Injil hari ini dua perempuan ditampilkan, yakni Marta dan Maria sebagai simbol orang yang peduli pada pekerjaan dan hidup doa. Lukisan pribadi kedua perempuan ini hendak menggambarkan pribadi dan kejiwaan manusia berhadapan dengan Allah. Dalam kenyataan hidup sering kita bertemu dengan orang yang berdoa, pergi ke Gereja, merayakan sakramen-sakramen dengan satu tujuan agar mendapat imbalan. Sementara ada sebagian orang yang mau beramal dan rajin memuliakan Allah dengan terlibat aktif dalam ibadah untuk tujuan sungguh-sungguh memuliakan Allah.

Keberanian untuk dekat dengan Allah dengan berani memuliakan Dia akan membuat hidup seseorang lebih bermakna, tenang dan tabah dalam menjalani setiap derita hidup. Kita juga mesti sadar bahwa dengan dekat kepada Allah kita akan semakin menyadari bahwa Allah itu sungguh mau memberi, menawarkan diri, melayani, menyediakan apa yang perlu untuk kita tanpa kita sadari. Allah justru mau meninggalkan kemulian-Nya agar dapat menyapa manusia dengan cara dan perasaan manusia itu sendiri.

Marta sebagai orang tipe pekerja mungkin menyadari bahwa Yesus itu mesti dilayani dengan hebat sehingga dia sibuk dan khawatir. Marta sangat sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Namun, bukan dia yang mendapat pujian melainkan Maria yang dengan tulus duduk di kaki Yesus menerima dan mendengar apa yang diajarkan Yesus. Lewat peristiwa ini kita diajarkan bahwa untuk menerima rahmat perlu sikap batin yang tenang (MES).

 

Pelita Hati: Penghargaan terhadap sesama manusia mesti didasarkan pada pemikiran bahwa semua orang adalah ciptaan Allah.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Senin 8 Oktober 2012

Renungan Harian: Senin 8 Oktober 2012

Luk 10:25-37

Pada suatu ketika, seorang ahli kitab berdiri hendak mencobai Yesus,

"Guru, apakah yang harus kulakukan untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya,"Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu,"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu. Dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya,"Benar jawabmu..

 

Ungkapan Iman

Pada hari raya Idul Fitri, ketika umat Muslim melaksanakan salat Ied di alun-alun utara Keraton Yogjakarta, umat Kristiani mengambil peran menjaga keamanan kampung karena seringkali rumah yang kosong dimasuki maling. Bahkan saat pulang salat Ied, umat Kristiani menyambut umat Muslim dengan hidangan kecil dan minuman pelepas dahaga. Makanan dan minuman ini disiapkan oleh umat Kristiani. Sebagai bandingan jumlah masyarakat Kampung Gamelan ada 90 kepala keluarga. Dari jumlah itu sebanyak 23 keluarga Kristiani yang lainnya Muslim, tapi walau minoritas umat Muslim sangat menghargai mereka (Majalah Hidup No.40 tahun 62, 5 Oktober 2008).

Injil hari ini mengajak kita untuk lebih terbuka pada perwujudan iman. "Siapakah sesamaku manusia?" Ungkapan Yesus ini  menjadi ajakan bahwa iman kita adalah iman yang hidup, bukan hapalan atau demi hukum. Kata "saudara" yang selalu dikaitkan dengan "hidup kekal" menjadi penanda bahwa yang dimaksudkan Yesus adalah kehidupan rohani yang matang. Hidup rohani yang matang akan membuahkan sikap dan tindakan yang bermuara pada kebaikan dan kedamaian.

Maka sikap toleran yang ditunjukkan umat Kristiani di kampung Gamelan ini menjadi salah satu model ungkapan iman yang menandakan kepercayaan kepada Allah. Lewat tindakan dan perbuatan mereka hendak ditandaskan betapa pentingnya menjalin relasi dengan sesama sebagai bagian dari buah iman. Lewat perbuatan sederhana ini mereka hendak  menunjukkan iman mereka secara nyata. Perwujudan iman ini menjadi undangan bagi sesama lain untuk sebaliknya menghargai mereka. Sebab tak bisa dipungkiri dalam kehidupan sehari-hari kita pasti bertemu dan berhadapan dengan sesama yang berbeda agama dan kepercayaan dengan kita.Ucapan dan terlebih tindakan hidup kita itulah yang menjadi identitas iman kita. Karena itu,  dalam pertemuan dengan sesama lain perlu sikap dasar seperti yang ditunjukkan oleh orang Samaria yang baik hati, yakni saling membantu dan menjalin persahabatan  yang sehat tanpa membedakan agama, ras, golongan, status, dan asal-usul (MES).

 

Pelita Hati: "Hidup kita hendaknya menjadi pewartaan yang paling ampuh dalam menyebarkan Kabar Gembira Tuhan"

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Minggu 7 Oktober 2012

Renungan Harian: Minggu 7 Oktober 2012

Mrk 10:2-12

Sekali peristiwa datanglah orang-orang Farisi hendak mencobai Yesus. Mereka bertanya kepada-Nya, "Bolehkah seorang suami menceraikan istrinya?" Tetapi Yesus menjawab kepada mereka, "Apa perintah Musa kepadamu?" Jawab mereka, "Musa memberi izin untuk menceraikan istrinya dengan membuat surat cerai." Lalu Yesus berkata kepada mereka, "Karena ketegaran hatimulah Musa menulis perintah itu untukmu. Sebab pada awal dunia Allah menjadikan manusia laki-laki dan perempuan; karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya, dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia." Setelah tiba di rumah, para murid bertanya pula tentang hal itu kepada Yesus. Lalu Yesus berkata kepada mereka, "Barangsiapa menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap istrinya itu. Dan jika istri menceraikan suaminya lalu kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah." Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka. Tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Melihat itu, Yesus marah dan berkata kepada mereka,...

Setia Selamanya

Hidup adalah anugerah. Tapi bagi banyak orang khususnya yang telah berkeluarga, hidup sering terasa sebagai musibah. Katanya hidup ini indah, tetapi yang terasa hanyalah bebannya yang tak pernah berkesudahan. Namun, bagaimanapun beratnya beban hidup itu mesti dijalani dan disyukuri.

Cerita tentang suka dan duka hidup berkeluarga tak bisa habis diurai dalam lembaran yang ada di dunia ini. Namun, justru dalam suasana seperti itulah perkawinan mendapat maknanya yang paling dalam.

"Apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia." Sabda Yesus ini hanya dapat dimengerti dan dipahami dalam konteks iman. Lepas dari iman dan tanggung jawab nilai dibalik ungkapan ini akan kehilangan makna. Lewat ungkapan Yesus ini, mau dijelaskan bahwa janganlah kita mengejar kebahagiaan palsu dengan bersandar pada kesenangan nafsu semu, status sosial dan tinggi rendahnya kedudukan. Dampak dari pengejaran akan kebahagiaan palsu itu adalah munculnya sikap melulu mementingkan diri sendiri, memburu kenikmatan badani, keserakahan, kesombongan, kepelitan, kekerasan, dan penindasan. Dan bila disadari kebahagiaan seperti ini hanya bersifat temporal dan terbatas waktunya. Yesus mengajak pasangan suami istri menikmati kebahagiaan abadi. Kebahagiaan abadi itu hanya dapat dibangun dengan kemauan saling berbagi dan mengerti perasaan pasangan hidup (MES).

 

Pelita Hati: Menjadi tua itu pasti, tetapi menjadi bijaksana adalah pilihan. Itu artinya butuh perjuangan dan iman yang teguh.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Sabtu 6 Oktober 2012

Renungan Harian: Sabtu 6 Oktober 2012

Luk 10:17-24

Pada waktu itu ketujuh puluh dua murid Yesus kembali dari perutusannya dengan gembira dan berkata, "Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu." Lalu kata Yesus kepada mereka, "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberi kalian kuasa untuk menginjak-injak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tiada yang dapat membahayakan kalian. Namun demikian, janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga." Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, "Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Kau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Kau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu. Segala sesuatu telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tiada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak berkenan me-nyatakannya." Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada para murid dan berkata, "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kalian lihat. Karena Aku berkata kepadamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang....

Kegembiraan dalam Allah

Yesus bergembira mendengar pengalaman para rasul yang kembali dari tugas pewartaan. Dalam kegembiraan mereka memuliakan Allah. Keberanian para rasul memuliakan dan memuji Allah dengan jelas mau menunjukkan bahwa sukses yang mereka capai bukan karena kekuatan sendiri tetapi karena rahmat Allah yang bekerja dalam diri mereka. Karya mereka bukan suatu sukses pribadi melainkan karena penyelenggaraan ilahi.

Sebagai manusia beriman, dalam kehidupan sehari-hari kita pasti pernah mengalami dorongan dari dalam hati kita berupa sebuah kekuatan atau gerakan untuk melakukan sesuatu yang baik. Membuat kita mampu bertahan sekalipun dalam penderitaan karena tugas berat. Dorongan ini kalau kita sungguh menyadarinya itulah Roh Allah yang senantiasa mengarahkan kita untuk berbuat baik dan mampu berjuang mengatasi segala jenis rintangan. Untuk memupuk agar Roh Allah tetap berkarya dalam diri kita maka perlu senantiasa memelihara hidup doa dan meditasi dalam kehidupan sehari-hari.

Dari pengalaman para rasul seperti yang kita baca dalam injil hari ini diajakarkan kepada kita bahwa hidup bergembira yang berasal dari kedekatan dengan Allah akan membawa ketenangan batin. Ini berarti perlu mengembangkan rasa syukur terus-menerus atas segala berkat kehidupan yang diterima dari Tuhan dalam setiap kejadian yang dialami, meskipun yang berat sekalipun (MES).

 

Pelita Hati: "Ya Tuhan, anugerahkanlah padaku rahmat agar dalam kelemahanku, kukenal kekuatan penjelmaan-Mu."

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Jumat 5 Oktober 2012

Renungan Harian: Jumat 5 Oktober 2012

Luk 10:13-16

Sekali peristiwa Yesus bersabda,"Celakalah engkau, Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Sebab seandainya di Tirus dan Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengahmu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Maka pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit?

Tidak! Engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati. Barangsiapa mendengarkan kalian, Ia mendengarkan Daku; dan barangsiapa menolak kalian, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku."

 

Tugas Perutusan

Pada zaman ini hampir segalanya dihitung dengan uang. Uang seakan memainkan peranan yang sangat penting. Maka memahami Sabda perutusan Yesus ini terasa amat sulit bila kita berpikir dalam konteks uang. Namun, apa maksud sabda ini untuk kita? Artinya, tidak lain adalah bahwa mengikuti Kristus secara konsekuen berarti berani berkorban, mengapa? Karena mengikuti Kristus banyak tuntutannya. Tiada sesuatu pun yang boleh kita pilih di atas Dia. Kita harus menaruh cinta kasih kepada-Nya melebihi keluarga, melebihi segala-galanya bahkan melebihi hidup kita sendiri.

Dalam Injil hari ini tampak tuntutan Yesus  yang begitu tegas bila mau mengikuti Dia. Tuntutan yang tegas ini tidak lain adalah untuk meyakinkan para pengikutnya bahwa tak mungkin bertemu Kristus tanpa mengangkat salibnya. Dan para murid pun dipilih untuk menghadirkan Dia. Mereka itu diutus oleh-Nya dan Dia sendiri diutus oleh Bapa-Nya. Maka bila kita menerima utusan-Nya kita menerima Dia dan dalam Dia kita menerima Bapa-Nya.

Terkadang dalam kehidupan kita mudah goyah karena bujukan atau pengaruh keyakinan lain. Injil hari ini kembali menyegarkan kita bahwa sekali memilih Yesus mesti berani untuk mempertahankan-Nya dan berani memberi kesaksian tentang Dia dengan menjadi utusan. Utusan dalam arti mampu memberi teladan hidup yang berarti. Pada zaman ini teladan jauh lebih dibutuhkan daripada berbicara muluk-muluk. Mengikuti Dia harus sebulat hati bukan muluk-muluk (MES)

 

Pelita Hati: Kuakui dengan mulutku, "Ya Allah kekal, Kasih-Mu menciptakan surga, tetapi kesetiaan-Mu kokoh melebihi langit."

(Mzm 88:2)

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.