Jumat, 31 Januari 2014

Renungan Harian: Rabu, 29 Januari 2014

Rabu, 29 Januari 2014

Bacaan I : 2 Sam 7:4-17

Mazmur : 89:4-5.27-28.29-30

Injil : Mrk 4:1-20

Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu. Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka: “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.” Dan kata-Nya: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu. Jawab-Nya: “Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan, supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun.” (Bacaan selengkapnya lihat dalam Kitab Suci)

BERBUAH DALAM KELIMPAHAN

Sukses dan keberhasilan seorang petani untuk menuai panenan yang baik dan melimpah tidak hanya bergantung cuaca, musim atau benih pilihan, tetapi juga dari lahan itu sendiri. Lahan atau tanah menjadi unsur yang paling menentukan. Untuk itulah, seseorang yang ahli dalam bidang pertanian mengecek dulu jenis dan kualitas tanah tersebut. Benih dengan kualitas nomor satu sekalipun tidak akan menghasilkan bila ditanam di tanah yang kurus dan gersang.

Karya Yesus di hadapan publik tidak selalu mendapat sambutan positif dan hangat. Sejumlah orang mengambil sikap kritis dan menolak. Namun demikian, Yesus mau menyatakan bahwa karya Allah tidak boleh berhenti kendati harus menghadapi sejumlah tantangan dan rintangan. Hal inilah yang mau disampaikan Yesus dalam perumpamaan Injil hari ini. Yesus melukiskan karya-Nya bagaikan pekerjaan seorang penabur yang menaburkan benih yang baik. Benih yang baik itu adalah firman.

Sabda kasih Allah yang menyelamatkan juga memerlukan lahan yang subur. Hanya dengan syarat inilah orang dapat memetik buah-buahan yang melimpah. Firman Allah yang ditabur itu perlu disikapi dengan serius dan dengan hati yang terbuka agar menghasilkan buah yang melimpah. Bagaimana kita mengupayakan agar Firman yang kita terima berbuah dalam kelimpahan? (MES)

Pelita Hati: Allah Tritunggal sempurna dan sumber kebahagiaan kita.

@ Pelita Hati, Penerbit Bina Media Perintis Medan, 2013

Renungan Hairan: Selasa, 28 Januari 2014

Selasa, 28 Januari 2014

Bacaan I  : 2 Sam 6:12b-15.17-19

Mazmur   : 24:2.8.9.10

Bacaan Injil     : Mrk 3:31-35

Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: “Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau.” Jawab Yesus kepada mereka: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?” Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.

PERSAUDARAAN MENDALAM

Mengapa para penjajah Belanda dahulu dengan gampang menaklukkan daerah-daerah di Indonesia? Mereka menjalankan politik devide et impera, memecah-belah dan menguasai. Masyarakat Indonesia yang sebenarnya adalah saudara, dengan gampang diperdaya sebab dari antara kaum pribumi sendiri ada yang bersedia menjadi kaki tangan penjajah. Bahkan ada yang menjadi musuh dalam selimut, yang menghianati cita-cita dan perjuangan bersama.

Sikap keluarga Yesus dan ahli Taurat ternyata mirip. Saudara-saudara Yesus tidak memahami-Nya, tidak peka, tidak percaya dan menutup diri. Persaudaraan menurut darah dan daging ternyata tidak menjamin bahwa orang dapat menjadi sehati dan seperasaan. Kunjungan para saudara-Nya menjadi kesempatan bagi Yesus untuk menjelaskan makna persaudaraan baru yang tidak dijalin berdasarkan hubungan darah.

Gereja adalah persaudaraan baru yang dibangun di sekitar Yesus. Persaudaraan baru ini menjadikan cita-cita Injil sebagai pedoman kesatuan. Inilah semangat persaudaraan yang diperjuangkan oleh Yesus. Suatu persaudaraan yang terbuka bagi semua orang dari segala suku, bangsa dan bahasa. Di tengah maraknya nepotisme dan koncoisme, Gereja, yaitu umat Kristen ditantang untuk memperlihatkan kepada dunia suatu alternatif bentuk persaudaraan baru di mana masing-masing berupaya memperjuangkan kehendak Allah. Komunitas Kristen mesti tampil untuk memperjuangkannya. (MES)

Pelita Hati: Harta adalah sarana kita untuk bertemu dengan Tuhan

Sabtu, 25 Januari 2014

Renungan Harian: Senin 27 Januari 2014

Senin 27 Januari 2014

Bacaan I : 2 Sam 5:1-7.10

Mazmur : 89:20.21-22.25-26

Bacaan Injil : Mrk 3:22-30

 

Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: “Ia kerasukan Beelzebul,” dan: “Dengan penghulu setan Ia mengusir setan.” Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.” Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.

MELIHAT DENGAN HATI

Dalam sandiwara “Fransiskus makan kue bolu” yang pernah kami mainkan saat berada di Seminari Menengah, ada hal yang sangat menarik. Dikatakan bahwa dalam diri manusia terdapat dua pribadi. Yang satu kita tunjukkan kepada orang lain sementara yang lain kita sembunyikan. Pribadi yang kita tunjukkan itu senang berdoa, berpantang dan berpuasa sampai badan kering kerontang, suka melakukan amal dan berkhotbah dengan suara semanis madu. Sementara pribadi yang tersembunyi itu tertawa diam-diam, senang dipuji, mengumpat dan menghina orang lain, bermalas-malasan, serta memberi cap yang kotor terhadap orang lain.

Melalui serangkaian tanda heran dan mukjizat yang dikerjakan Yesus, karya Allah demi kebaikan dan keselamatan manusia ditampilkan. Motivasi terdalam seluruh karya Yesus ialah kasih, yang tidak mungkin dipersatukan dengan kejahatan yang merupakan karya iblis. Celakanya, para lawan Yesus yaitu ahli-ahli Taurat, melihat semua mukjizat Yesus sebagai perbuatan yang dikerjakan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan. Para oposan Yesus selalu melihat perbuatan Yesus yang begitu mengagumkan dari sudut negatif dengan kacamata lalat. Ketika mereka melakukan itu, mereka justru menutup diri terhadap keselamatan.

Kita juga kerap tergoda untuk langsung memberi cap atau tuduhan-tuduhan yang buruk kepada orang lain karena iri hati, benci, dan dendam. Orang yang menyatakan kebenaran kita anggap sebagai penghalang. Prasangka buruk adalah buah bibir setan. (MES)

Pelita Hati: Dalam doa Bapa Kami, kita mengalami keintiman dengan Allah sebagai Bapa yang baik dan benar.

@ Pelita Hati, Penerbit Bina Media Perintis Medan, 2013

Renungan: Minggu, 26 Januari 2014

Minggu, 26 Januari 2014

Bacaan I  : Yes 8: 23b-9:3

Mazmur   : 27:1.4.13-14

Bacaan II  : 1 Kor 1:10-13.17

Bacaan Injil : Mat 4: 12-23

 

Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea. Ia meninggalkan Nazaret dan diam di Kapernaum, di tepi danau, di daerah Zebulon dan Naftali, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, — bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia. Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.

YESUS TERANG SESUNGGUHNYA

Ketika pemadaman listrik semakin menjadi-jadi, masyarakat turun ke jalan untuk berdemonstrasi. Jumlah kerugian yang ditimbulkan pemadaman itu semakin terasa ketika hari sudah gelap dan kita semakin sadar betapa pentingnya sarana penerangan. Tanpa terang, hidup seakan macat total dan seluruh aktivitas lumpuh.

Yesus meninggalkan Nazaret dan menyingkir ke Galilea, lalu menetap di Kapernaum. Awal karya Yesus di Galilea dilihat oleh Mateus sebagai penggenapan nubuat Yesaya. Galilea, daerah yang di pandang rendah oleh orang-orang Yerusalem, justru yang pertama menyaksikan sejumlah peristiwa besar dalam kehidupan Yesus. Galilea, wilayah bangsa-bangsa kafir, bangsa yang hidup dalam kegelapan, telah melihat terang, yakni Yesus. Penginjil mau menandaskan bahwa karya keselamatan Allah ditawarkan dan terbuka bagi segala bangsa, dengan syarat menerima pembaruan dan pertobatan.

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Kamu adalah terang dunia.” Para murid Yesus mengemban misi laksana pelita yang ditempatkan di atas kaki dian. Konon, Mahatma Gandi pernah berkata, “Andai saja orang-orang Kristen hidup sesuai dengan Injil yang mereka percayai, saya sudah lama menjadi Kristen.” Tantangan besar bagi kita ialah menunjukkan kepada dunia bahwa Terang itu bercahaya dalam kegelapan dan bahwa kegelapan tidak menguasainya. (MES)

Pelita Hati: Seseorang memperoleh iman yang tengguh dan militant bila kita mau memelihara dan mengembangkannya.

@ Pelita Hati, Penerbit Bina Media Perintis Medan, 2013