Minggu, 04 Agustus 2013

Renungan Harian: Kamis, 08 Agustus 2013

Renungan Harian: Kamis, 08 Agustus 2013

Bil 20:1-13; Mat 16:13-23 – Pw St. Dominikus

 

Berani Bersaksi

Menjelang berakhirnya tugas Kristus di dunia ini, Dia mulai mempersiapkan para murid-Nya agar menyadari bahwa tugas mereka adalah sebagai saksi atas apa yang telah Dia lakukan. Maka untuk memantapkan keyakinan para murid-Nya, Yesus mengajukan pertanyaan perihal bagaimana pandangan mereka terhadap diri-Nya. Atas nama para rasul Petrus menjawab, “Engkaulah Kristus, Putra Allah yang hidup!” Suatu pernyataan yang hebat yang sekaligus juga memikul tanggung jawab besar untuk tugas pewartaan.

Hari ini kita merayakan hari raya Santo Dominikus. Karena keyakinan teguh Dominikus pada perjalanan hidupnya berani bersaksi akan imannya kepada Yesus Kristus. Dia menunaikan tugasnya dengan baik.  Dominikus berani mewartakan Tuhan dalam keadaan apa pun. Karena iman  tokoh ini amat besar maka Tuhan mengganjarinya kemuliaan. Apa yang dia yakini benar-benar dipraktikkan. Bagi kita hidup St. Dominikus merupakan teladan dan sekaligus juga tantangan agar kita mengandalkan Tuhan serta berani memberi kesaksian tentang Dia dan menantikan kembali kedatangan-Nya.Tidak jarang dalam kehidupan sehari-hari kita ragu bahkan mungkin mengingkari Yesus di tengah orang banyak. Takut membuat tanda salib menjadi salah satu contoh. Maka Injil hari ini kembali menyemangati kita agar senantiasa berani memberi kesaksian akan Yesus. Beranikah kita? (MES)

 

Pelita Hati : Aku hendak memuji Tuhan setiap waktu, mulutku tetap menyanyikan pujian-Nya. Karena Tuhan aku bermegah-megah, hendaknya orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukaria (Mzm 33:2)

Renungan Harian: Rabu, 07 Agustus 2013

Renungan Harian: Rabu, 07 Agustus 2013

Bil 13:1-2a.25-14.:1.26-29.34-35; Mat 15:21-28

 

Keyakinan Teguh Perempuan

 

Mateus menggambarkan perempuan dalam Injil hari ini sebagai partner/rekan dialog yang aktif yang berani berhadapan dengan Yesus, dengan argumen teologis yang berlawanan. Pernyataan Yesus yang eksplisit, “Aku diutus hanya untuk domba yang hilang dari rumah Israel” dan “tidak adillah mengambil makanan dari anak-anak dan melemparkannya kepada anjing” sangatlah kasar dan keras. Hal ini bertentangan dengan perasaan Yesus yang biasanya menawan, lembut, penuh rasa hormat, dan belas kasihan. Ada yang lebih mengejutkan lagi ialah meskipun kata-kata Yesus pedas, perempuan itu tidak menyerah tetapi MENANTANG Yesus dengan pernyataan yang sama kuatnya: “YA, TUHAN BAHKAN ANJING-ANJING PUN MAKAN REMAH-REMAH YANG JATUH DARI MEJA TUANNYA.” Implikasi dari tanggapan perempuan “anjing-anjing makan dari remah-remah yang jatuh” adalah bahwa “orang-orang kafir begitu juga orang Yahudi sama-sama diberikan makan oleh Allah. Ungkapan perempuan ini  dapat juga diartikan warta keselamatan terbuka untuk semua orang; orang-orang kafir pun harus diikutkan dalam warta keselamatan.

                Mateus merujuk makna khusus kepada perempuan itu dan intervensinya. Dengan merujuk secara khusus kepada tempat seperti Tyre dan Sidon (daerah orang kafir) dan makna perempuan Kanaan (penduduk pribumi tanah Kanaan dan musuh lama orang Israel), Mateus menyajikan perempuan itu sebagai musuh politik orang Yahudi sekaligus orang luar religius. Ia bertemu dengan Yesus di tempat umum daerah kaum pria. Dalam versi Mateus, perempuan itu digambarkan sebagai kritik sosial yang mengubah norma tradisional dan konvensi yang berhubungan dengan peran perempuan.

                Sebagai kesimpulan, wanita Kanaan dalam cerita itu adalah simbol suara profetis (kenabian). Ia digambarkan sebagai kritik sosial yang menantang/melawan konvensi-konvensi (aturan-aturan) pada zamannya yang bersifat memperbudak bahwa seorang perempuan seharusnya tidak patut muncul di depan umum. Ia berani mengubah batas-batas pemahaman tradisional tentang identitas dan misi Yesus - “Dia yang diutus hanya untuk domba Israel yang hilang.” Ia menggugat Yesus untuk menyertakan kaum kafir di antara pewaris aksi keselamatan-Nya. Maka, ia telah menjadi murid Yesus yang sejati yang dipuji oleh Yesus karena imannya yang besar. Seperti nabi dalam perjanjian lama, wanita nampaknya dipenuhi dengan Roh Kudus dan kekuasaan Allah untuk berbicara atas nama Allah, dan mengungkapkan kehendak Allah untuk Yesus dan untuk nabi anak perempuannya (MES).

Pelita Hati: Kuakui dengan mulutku, “Ya Allah kekal, Kasih-Mu menciptakan surga, tetapi kesetiaan-Mu kokoh melebihi langit.” (Mzm 88: 2).

Renungan Harian: Selasa, 06 Agustus 2013

Renungan Harian: Selasa, 06 Agustus 2013

Dan 7:9-10.13-14; 2Ptr; Luk 9:28b-36 – Pst. Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya

           

Merasakan Kemuliaan Allah

            Melalui sakramen Permandian dan dalam setiap kali kita mengikuti perayaan sakramen lain terutama sakramen Ekaristi kita bertemu dengan Tuhan yang senantiasa menyapa kita. Kalau kita sadari pertemuan dengan Tuhan membuat kita tidak layak di hadapannya karena kedosaan dan kehinaan kita. Namun demikian, Tuhan menyapa kita dan membersihkan kita.

                Firman Tuhan  dalam Injil hari ini hendak menegaskan bahwa mengikuti Yesus Kristus dan terlebih mengikuti perintah-Nya tidak mudah, mengapa? Karena perjalanan-Nya penuh dengan tantangan. Orang harus siap bukan saja untuk menerima penghinaan dan penolakan melainkan harus berani berkorban. Orang harus berani menghayati suatu hidup batin yang melepaskan diri dari segala keamanan yang diberikan oleh dunia ini. Dari sebab itu orang yang benar-benar mau menjadi pengikut Yesus harus berani melepaskan segala kemauannya sendiri. “Bertolaklah lebih dalam” merupakan ajakan agar kita senantiasa mengikuti suara hati kita dan berani memberi kesaksian dan mengikuti   Yesus. Simon Petrus mau melaksanakan perintah Yesus sebab dia yakin perintah itu adalah baik dan benar. Dengan menuruti perintah-Nya berarti Petrus juga sudah menjadi murid Yesus yang mendengarkan dan melaksanakan perintah-Nya. Sikap kemuridan itulah yang memungkinkan terjadinya keajaiban. Ia menangkap sejumlah besar ikan hingga jalanya koyak. Keajaiban itu membuka mata Simon Petrus atas pernyataan kuasa ilahi dan tanda hadirnya yang Mahakudus. Dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang kita hanya mau melaksanakan dan memaksakan kemauan  padahal kita sendiri lupa memohon pertolongan dan tuntunan dari Tuhan akibatnya hidup kita sering dangkal dan tidak mendalam (MES).

 

Pelita hati : “Orang yang berbahagia adalah orang yang mengarahkan seluruh hidupnya kepada Allah lewat kesaksian hidup. Orang itu adalah orang yang berdoa seperti Santo Fransiskus Assisi: “Tuhanku dan segalanya.”

Renungan Harian: Senin, 05 Agustus 2013

Renungan Harian: Senin, 05 Agustus 2013

Bil 11: 4b-15; Mat 14:13-21

Berani Berbagi Kehidupan

Ingat kaya lupa bahagia, itulah masalah banyak kehidupan dewasa ini. Ketika miskin tidak bisa makan enak karena tidak punya uang, setelah kaya lagi-lagi tidak bisa makan enak karena dilarang dokter. Tatkala hidup sederhana tidak sempat berbahagia bersama keluarga karena terlalu sibuk mencari nafkah, setelah kaya lagi-lagi tidak bisa bahagia bersama keluarga karena keburu bubar: ada yang bercerai dan  ada yang meninggal duluan.

                Mukjizat yang dilukiskan  dalam Injil hari ini sebenarnya tidak lain adalah lukisan tentang pada bagaimana kita berempati pada kehidupan. Injil ini mengajak agar kita mau berbagi dengan tulus. Kemauan berbagi dan makan secukupnya inilah inti hidup kekristenan. Dalam bahasa sederhananya biasa disebut dengan ugahari yakni kesadaran akan kelayakan dan kepantasan serta kepekaan untuk berbagi  pada orang lain.

Satu hal penting yang mau ditegaskan Yesus melalui Injil ini adalah kalau manusia mau berbagi maka berapa pun jumlah manusia di bumi ini, bumi pasti mampu menghidupi asal masing-masing orang mau berbagi. Kalau masing-masing kita mau belajar hidup berbagi  maka tidak akan pernah ada kekurangan dan kelaparan di dunia ini. Kemauan berbagi dan hidup ugahari inilah ‘mukjizat’ yang perlu  terus-menerus kita promosikan. Maukah kita berbagi? (MES)

 

Pelita Hati: Supaya dapat hidup orang harus makan dan minum namun sering terjadi tanpa ukuran secara berlebihan terbius mengais kenikmatan yang bermuara pada keberantakan hidup.