Selasa, 04 Juni 2013

Renungan Harian: Selasa, 04 Juni 2013

Renungan Harian: Selasa, 04 Juni 2013

Tb 2:10-23; Mrk 12:13-17

Kaisar dan Tuhan

                Semenjak duduk di bangku SD seorang murid telah diajarkan untuk mengetahui dua hal penting di dalam peziarahan hidupnya sebagai makhluk sosial yakni hak dan kewajiban. Sadar atau tidak kedua hal ini sudah ditanamkan oleh orangtua kepada setiap orang semenjak kecil. Setiap orang mempunyai hak untuk mendapatkan atau berbuat sesuatu. Akan tetapi, ia juga harus melakukan apa yang menjadi kewajibannya. Keutuhan dan keseimbangan seseorang sebagai makhluk sosial terletak pada kedua hal ini.

                Bacaan Injil mengisahkan bagaimana seseorang dapat mempergunakan hak dan kewajiban dalam hidupnya. Hal ini dipergunakan oleh orang-orang Farisi untuk menjerat Yesus.  “Apakah boleh membayar pajak kepada Kaisar?” Satu pertanyaan yang dilematis untuk dijawab oleh Yesus pikir mereka. Kalau memihak Kaisar berarti mengkhianati Israel, dan kalau memihak Israel, diartikan sebagai menentang Kaisar. Akan tetapi kenyataan berbicara lain dengan jawaban yang diberikan Yesus sehingga mereka semua menjadi heran mendengarkan jawaban Yesus. Dari jawaban yang diberikan Yesus terkandung dua hal penting yang tidak disadari oleh orang-orang Farisi dan para musuh-Nya.

Pertama, Yesus memberi penghargaan semestinya kepada setiap kuasa. Yesus sebagai Anak Allah memberikan penghargaan kepada hukum resmi. Yang ada dan kuasa  menurut Allah, tidak akan bertentangan dengan kuasa Allah, tetapi sebaliknya harus mendasarkan diri pada Allah. Kedua, adalah antara kuasa Gereja dan Negara selalu ditentukan oleh Sabda Allah (Sabda yang menjadi garis pembagian kuasa antara Gereja dan Negara.) maka dalam kehidupan bersama Gereja tidak boleh merampas kuasa Negara yang sah dan diberikan oleh Allah. Begitu juga dengan Negara, harus mengerti batas kekuasaannya dan tidak boleh menindas dan merampas hak wewenang Gereja. Contoh, seorang anggota gereja berhak untuk melaksanakan ibadat, dan mengembangkan ajaran hidupnya di tengah masyarakat. Gereja dan Negara membangun kerja sama dalam hal pembangunan jiwa dan raga, kesejahteraan dan kemakmuran bersama.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita telah melaksanakan hak dan kewajiban kita sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah? Atau masihkah kita hanya menuntut hak tanpa memperhatikan kewajiban kita baik sebagai anggota Gereja maupun sebagai warga Negara? (Dom)

 

Pelita Hati: Setiap orang mempunyai hak untuk mendapatkan atau berbuat sesuatu.

Renungan Harian: Senin, 03 Juni 2013

Renungan Harian: Senin, 03 Juni 2013

Tb 1:1a.2a.3; 2:1b-8; Mrk 12:1-12 – Pw Santo Karolus Lwangsa

 

Milik Allah

 

Sepanjang perjalanan dari Medan menuju ke Pematangsiantar ada banyak perkebunan kelapa sawit. Setiap kali saya mengantarkan orang yang baru melewati jalan itu selalu mengungkapkan rasa kagumnya atas begitu luasnya lokasi perkebunan sekaligus bertanya siapa pemiliknya? Jawabku ada yang milik pemerintah dan ada juga yang milik perusahaan tertentu.

  Dalam Injil hari ini Yesus menjelaskan hal Kerajaan Allah dengan perumpamaan kebun anggur. Pada bagian Kitab Suci yang lain telah dijelaskan bahwa Kebun Anggur yang dimaksud adalah bangsa Israel (Yes 5:7) dan pemiliknya adalah Allah sendiri. Penginjil Markus lebih melihat bagaimana sikap para penggarap kebun anggur itu sendiri terhadap utusan pemilik kebun anggur. Ada satu hal yang menarik dalam kisah ini yakni bahwa para penggarap yang telah dipercayakan oleh pemilik kebun anggur itu malah melakukan tindakan penolakan dan penganiayaan kepada para utusannya. Atas sikap dan tindakan para penggarap itu, akhirnya pemilik kebun anggur mengutus putranya sendiri dengan pikiran akan mereka segani, tetapi hasilnya mereka juga tetap membunuhnya. Hal ini membuat orang-orang Farisi dan para musuh Yesus marah karena yang dimaksudkan adalah mereka sendiri.

Semua kita yang percaya kepada Kristus adalah milik Allah. Kerajaan Allah yang digambarkan sebagai kebun anggur diperuntukkan kepada kita. Akan tetapi, dalam kenyataannya sering kita menolak untuk memilikinya dan mau mencari kerajaan kita sendiri. Yesus yang diutus oleh Allah ke dunia untuk mewartakan Kerajaan Allah sekaligus menjadikan kita pemilik Kerajaan Allah tetapi kita menolaknya. Atas sikap kita ini, Tuhan pada waktunya akan menyerahkan Kerajaan itu kepada orang lain. Oleh karena itu, kita diundang untuk membuka diri agar bisa menerima dan mengimani Yesus Kristus dengan melaksanakan segala perintah-Nya sehingga kita juga diperkenankan untuk masuk dan menikmati Kerajaan Allah (Dom).

 

Pelita Hati: Kerajaan Allah yang digambarkan sebagai kebun anggur diperuntukkan kepada kita.

Sabtu, 01 Juni 2013

Renungan Harian: Minggu, 02 Juni 2013

Renungan Harian: Minggu, 02 Juni 2013

Kej 14:18-20; 1 Kor 11:23-26; Luk 9:11b-17 - HR Tubuh dan Darah Kristus

 

Bukan kurang lebih tetapi Utuh

 

Di salah satu paroki setiap tahun selalu diadakan program pembinaan bagi para calon penerima Komuni Pertama. Penyusunan program pembinaan diatur sedemikian rupa sehingga acara penerimaan komuni pertama jatuh pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Tentu ada alasannya yakni pada hari itulah hari sukacita besar di mana untuk pertama kali para calon komuni pertama menerima Tubuh dan Darah Kristus. Saat di mana mereka semakin menyatu dengan Kristus dan sebaliknya Kristus menyatu dengan mereka.

Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus sering disebut juga dengan Hari Raya Sakramen Mahakudus. Sakramen Mahakudus berkaitan dengan Ekaristi yang adalah puncak dan pusat spiritualitas kristiani. Kisah Yesus memberi makan kepada lima ribu orang dalam Injil hari ini mengandung dua aspek yakni belas kasihan Tuhan dan kerinduan hati manusia. Yesus yang melihat orang banyak lalu tergerak hati-Nya karena belas kasih sehingga Ia memerintahkan para murid-Nya untuk memberi mereka makan. Yesus mengambil lima roti dan dua ikan lalu menengadah ke langit, mengucap berkat lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang banyak. Setelah dibagi-bagikan dan orang banyak itu ternyata makan sampai kenyang bahkan lebih. Peristiwa ini juga yang kita rayakan bersama ketika ada perayaan Ekaristi. Setiap kali kita mengikuti perayaan Ekaristi, ada satu kerinduan di hati kita untuk berjumpa dengan Tuhan entah kita sadari atau tidak. Begitu juga Allah yang melihat kita berkumpul bersama selalu menaruh belas kasih-Nya kepada kita sehingga Ia memberikan Tubuh dan Darah-Nya untuk kita terima dalam komuni kudus.

Bagaimana dengan kita, setiap kali mengikuti perayaan Ekaristi, sadarkah kita akan kerinduan apa yang ada dalam diri kita sehingga mau berjumpa dengan Yesus? Dan sebaliknya sadarkah kita bahwa pada saat itu Yesus hadir dan memandang kita dengan belas kasihan-Nya? Mari dan silakan buka mata dan telinga iman kita untuk melihat dan mendegarkan apa yang akan dikatakan dan diperbuat Yesus bagi diri kita ketika mengikuti perayaan Ekaristi (Dom).


Pelita Hati: Yesus hadir dan memandang kita dengan belas kasihan-Nya.

Renungan Harian: Sabtu, 01 Juni 2013

Renungan Harian: Sabtu, 01 Juni 2013

Sir 51:12-20; Mrk 11:27-33 - Pw St. Yustinus Martir

 

Didiamkan oleh Tuhan

 

                Dalam kehidupan kita, Tuhan cukup menyatakan diri lewat karya dan perbuatan-Nya, lewat alam ciptaan, sabda Kitab Suci, dan perbuatan-perbuatan ajaib. Tetapi orang sering masih sebatas melihat tanda, dan tidak dapat melihat artinya, mendengar kata-kata, tanpa mengerti maknanya, karena orang bermaksud jahat tidak mau melihat, tidak mau mendengar. Hal ini akan membuat Allah diam kepada manusia.

Dalam Injil dikisahkan cerita tentang bagaimana sikap Imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua terhadap Yesus. Sudah lama mereka mengamati Yesus: perbuatan-Nya menakjubkan, orang yang percaya kepada-Nya semakin hari semakin bertambah. Hal ini ternyata semakin mengusik hati para Imam kepala, ahli Taurat dan tua-tua terutama dalam kaitan dengan kuasa yang dimiliki oleh Yesus. Sebenarnya dari tanda-tanda yang dibuat oleh Yesus berupa mukjizat, dan perbuatan lainnya yang penuh dengan kuasa ditambah dengan semakin banyaknya orang yang percaya dan mencari Dia, mereka bisa mengerti bahwa Kuasa-Nya itu dari Allah. Akan tetapi, dasar tidak mau percaya dan yakin maka mereka mau mencoba dan mencari kesalahan Yesus dengan mempertanyakan kuasa yang ada pada-Nya. “Dengan kuasa manakah Engaku  melakukan hal-hal itu? Yesus yang telah mengetahui niat hati mereka tidak memberikan jawaban-Nya kepada mereka.

                Manusia juga dapat didiamkan oleh Tuhan, karena dosa daging yang tidak disesalinya, karena hati palsu yang hanya mempersalahkan Tuhan, menutup diri terhadap terang. Keadaan Tuhan seperti itu dapat dikatakan bahwa ia sudah sangat parah. Hanya mukjizat Tuhanlah yang dapat menyembuhkan kebutaan itu. Sudah begitu banyak yang kita lihat, kita dengar tentang Yesus bahkan telah merasakan kebaikan dan kasih-Nya. Masihkah ada sikap keragu-raguan dan tidak mau percaya kepada kuasa-Nya? Semoga mata hati iman kita semakin terbuka untuk melihat dan mengimani-Nya dalam hidup kita (Dom).

 

Pelita Hati: Hanya mukjizat Tuhanlah yang dapat menyembuhkan kebutaan itu.