Senin, 06 Mei 2013

Renungan Harian: Senin, 06 Mei 2013

Renungan Harian: Senin, 06 Mei 2013

Kis 16:11-15; Yoh 15: 26-16:4a

 

Bertekun dalam Iman walau Harus Menderita

 

            Roh Kebenaran yang berasal dari Bapa sebagaimana dijanjikan oleh Yesus akan memberi kesaksian yang benar tentang siapa itu Yesus. Tetapi sekaligus Yesus juga memberikan tugas kepada semua orang yang percaya kepada-Nya agar memberikan kesaksian juga tentang apa yang mereka terima itu, karena memang sejak semula Dia ada bersama-sama dengan para pengikut-Nya.

                Roh Kudus ini adalah kekuatan yang akan selalu hadir di antara para pengikut Kristus sebagai pendamping, penyokong, dan pengarah. Dia akan membantu orang untuk dapat mewujudkan dan menghadirkan kepenuhan misteri Kristus dan sabda yang diwartakan-Nya. Roh ini akan senantiasa ada di antara para pengikut Kristus sehingga mereka akan mampu menjadi saksi-saksi yang benar dari Kabar Baik Tuhan.

                Yesus memaklumkan bahwa menjadi saksi yang benar itu bukan tanpa risiko. Yesus sendiri mau agar tak seorang pun menjadi kecewa mengenal Dia. Yesus tahu bahwa tak semua orang siap menanggung derita dan sengsara karena mengikuti-Nya. Karena itu, Yesus mengatakan dengan jelas bagaimana orang-orang yang setia menjadi saksi-Nya mengalami berbagai tantangan. Mereka akan dikucilkan dan bahkan akan dibunuh. Siksaan dan penderitaan akan menyertai usaha dalam memberi kesaksian yang benar tentang Tuhan.

                Penderitaan sebagai akibat dari kesetiaan kepada Tuhan tidak pernah merugikan walaupun dilihat sebagai kemalangan oleh banyak orang. Sebaliknya hal itu akan menjadi kesempatan yang sangat baik bagi setiap orang beriman untuk menguji dan memurnikan kesetiaannya kepada Kristus yang mereka abdi. Orang yang teguh dalam penderitaan karena dibimbing oleh Roh Kebenaran akan menjadikan setiap penderitaan menjadi kesempatan untuk menjadi saksi yang benar akan Kabar Baik Tuhan (SM).

 

Pelita Hati: Penderitaan sebagai akibat dari kesetiaan kepada Tuhan tidak pernah merugikan walaupun dilihat sebagai kemalangan oleh banyak orang.

Renungan Harian: Minggu, 05 Mei 2013

Renungan Harian: Minggu, 05 Mei  2013

Kis 15:1-2.22-29; Why 21: 10-14.22-23; Yoh 14: 23-29 - Paskah VI

 

Roh Kudus Penjaga Iman yang Benar

            Salah satu fungsi kehadiran Roh yang dijanjikan oleh Yesus kepada para murid-Nya adalah mengajarkan segala sesuatu kepada umat para murid Kristus dan mengingatkan mereka akan semua yang pernah dikatakan oleh Yesus sendiri kepada mereka. Yesus yang akan pergi dari dunia ini tidak bermaksud memutuskan hubungan antara Dia dengan para murid-Nya. Tidak juga memutuskan segala pengajaran dan segala sesuatu yang pernah dibuat oleh Yesus di antara mereka. Yesus menghendaki agar segala sesuatu yang pernah disampaikan-Nya kepada para murid, tetap lestari dan terpelihara dalam kehidupan manusia. Untuk itulah, Roh Kudus akan diutus dan dicurahkan kepada para murid, yang akan mengingatkan dan menjaga mereka agar selalu dapat hidup sesuai dengan ajaran dan nasihat Yesus itu sendiri.

                Orang Kristen adalah orang yang dipenuhi dengan Roh Kudus yang sama seperti dicurahkan kepada para murid Yesus dahulu kala. Sebagaimana para murid dikuatkan dan diteguhkan oleh Roh Kudus dalam pewartaan Kabar baik Tuhan, demikian orang Kristen zaman ini harus mewartakan Injil Tuhan. Setiap orang yang mau mewartakan Injil harus mengandalkan Tuhan yang hadir dalam Roh yang menuntun dan mengingatkan selalu akan apa yang harus diperbuat. Sebagaimana dijanjikan oleh Yesus, Roh Kudus akan terus-menerus tinggal dan bekerja di antara semua orang Kristen agar mampu menjadi tanda kehadiran yang benar dari warta Kabar Baik Tuhan.

                Kehidupan orang Kristen pada masa kini adalah kehidupan yang diwarnai oleh berbagai roh yang menyatakan diri sebagai yang benar. Tantangan besar bagi komunitas kristiani untuk dapat bertahan dan mampu mendengar Roh Kudus yang selalu mengingatkan agar tak salah memilih dan melangkah dalam bertindak. Tidak sedikit orang Kristen yang mengakui diri percaya kepada Roh Kudus tetapi memadamkannya, dan lebih menyalakan roh-roh yang dirasa lebih memberi jaminan di dunia ini. Roh Kudus tidak hanya menjamin keselamatan di dunia ini, tetapi terutama mempersiapkan kita untuk kedatangan Tuhan sebagaimana Dia janjikan. Semakin taat kepada tuntunan Roh Kudus akan semakin menampakkan sikap hidup yang benar, yang selalu waspada sambil menantikan Tuhan yang akan datang (SM).

 

Pelita Hati: Kehidupan orang Kristen pada masa kini adalah kehidupan yang diwarnai oleh berbagai roh yang menyatakan diri sebagai yang benar.

Minggu, 05 Mei 2013

Surat Kapusin Antwerpen

Surat dari Kapusin di Antwerpen
oleh Sdr. Marcin Derdziuk OFMCap

Saudara-saudara tercinta, izinkanlah saya berbagi dengan saudara apa yang saya lihat dan saya harapkan. Kehadiran kami di daerah provinsi kapusin Vlaanderen di Belgia, dimulai tanggal 15 September 2010 berupa awal perjalanan yang menarik.

Sepatah kata tentang Belgia

Belgia itu negara dengan sejarah kristen kaya, dengan gereja-gereja indah dan biara-biara besar. Tetapi dewasa ini, sesudah “masa kristen” jaya, dapat dikatakan tinggal kenangan dan peninggalan sejarah. Komunitas paroki sangat baik diatur dari segi administrasi dan berbuat banyak bagi orang miskin. Namun sehubungan dengan hidup sakramen menghadapi banyak kesulitan karena kurangnya imam dan turunnya minat terhadap hidup rohani. Hati merana melihat kebanyakan orang beriman termasuk kaum “lansia”. Sangat jelas juga penciutan jumlah orang yang datang ke gereja (sekitar 3%). Tetapi ada harapan, khususnya karena lahirnya beberapa komunitas baru. Beberapa bulan yang lalu saya menyaksikan suatu “mukjizat kecil” -- permulaan resmi komunitas “MudiFra” (29 September 2012), yang didirikan dan didampingi oleh sdr. Kenny Brack, guardian Kapusin di Antwerpen dan pendamping nasional OFS. MudiFra itu suatu ragam Ordo Fransiskan Sekular bagi orang muda dan kelompok itu merupakan komunitas pertama jenis ini di Belgia. Sewaktu perayaan Ekaristi lima orang muda mengucapkan profesi pertama dan sebelas yang lain mengungkapkan niat masuk “novisiat”. Juga terdapat komunitas aktif neokatekumenal, Santo Egidio, Tiberiade dan lain-lain.

Sedikit sejarah …

Kehadiran kapusin di daerah Belgia mulai tanggal 13 Oktober 1585, ketika beberapa saudara dari Provinsi Paris -- Johannes dari Landen, Antonius dari Gent dan Joseph dari Antwerpen - di bawah pimpinan Felice dari Lampedona, sampai di pinggir kota Antwerpen. Kehadiran itu berkembang, sehingga tahun 1616 dibentuk dua Provinsi di daerah Belgia: Provinsi Walen dan Vlaanderen. Di zaman itu provinsi Provinsi Vlaanderen mempunyai 18 biara dan 284 saudara.
“Masa kini” Kapusin

Pada saat ini di Provinsi Vlaanderen terdapat 7 persaudaraan dan 56 saudara. Kami tinggal di Antwerpen, di komunitas beranggota 10 saudara. Biara itu terletak di pusat kota, di jantung hidup mahasiswa. Saya berani berkata bahwa dari segi ini biaranya termasuk yang paling “muda” di dunia. Di gereja biara setiap hari dirayakan Ekaristi dan sepanjang hari ada kemungkinan pengakuan. Saudara Belgia menerima kami dengan sangat akrab dan terbuka akan usul-usul kami. Kami merasa betapa mereka menghargai dan senang menyambut kami. Mereka sungguh memperlakukan kami sebagai SAUDARA. Bagi saya ini merupakan saat mendalami panggilan, menemukan kembali keindahan persaudaraan dan juga belajar menjadi saudara. Saya di situ menemui saudara istimewa yang memberi kesaksian akan karisma Kapusin dengan cara hidup mereka.

Antwerpen itu kota penuh tantangan, kota dengan ribuan orang yang memerlukan Kristus. Saudara-saudara memandang masa depan dengan harapan dan optimis, sebagaimana terbukti oleh kelahiran persaudaraan Kapusin internasional kami ini.

Manakah karya kami?

Tugas pastoral pertama dan utama ialah Adorasi Ekaristi setiap hari Jumat jam 7 malam. Kami sungguh sadar betapa perlu dibentuk tempat-tempat doa. Gereja kami, Santo Fransiskus, mau dijadikan tempat sejuk doa, tempat Liturgi indah dan pantas -- seperti terjadi sekarang -- dan sakramen rekonsiliasi dan pendamaian. Biar pun kami belum menguasai bahasa Vlaanderen secara sempurna, namun kami ikut berkarya pastoral di gereja kita, membantu di paroki tetangga dan berkecimpung mendampingi komunitas orang muda.
Antwerpen itu kota dengan lebih dari 55% imigran; di antara mereka terdapat sekitar 15 ribu orang Polandia. Sesudah berpikir-pikir masak, kami memulai karya pastoral bagi mereka di biara. Kami bergiat dalam koordinasi katekese dan pelajaran agama di Sekolah Polandia di Antwerpen; ada juga sebuah kor dan beberapa kelompok pastoral seperti Oasis Keluarga dan Orang Muda, ada sejumlah pelayan misa dan lektor. Kami juga memberi pendampingan rohani kepada suatu kelompok Alkoholis Anonim. Di biara kami juga terdapat suatu kelompok ekaristi spanyol.

Proyek

Sebagai Kapusin kami ingin membawa Yesus kepada orang banyak, berbagi dengan mereka apa yang telah kami terima sendiri dari Dia. Kami sungguh mengharapkan tenaga tambahan dan meminta saudara mendoakan kami.

Dikopi dari Buletin Informasi Kapusin Internasional (BICI) No 263, Mei 2013

Jumat, 03 Mei 2013

Paus Emeritus disambut kembali ke Vatikan

Paus Emeritus disambut kembali ke Vatikan

03/05/2013 Paus Emeritus disambut kembali ke Vatikan thumbnail

Paus Fransiskus  menyambut pendahulunya, Paus Emeritus Benediktus XVI, di Vatikan pada 2 Mei di luar biara yang direnovasi untuk Paus Emeritus berusia 86 tahun itu dan lima pembantunya.
Paus Fransiskus dan Paus Emeritus Benediktus memasuki kapel biara bersama-sama “untuk berdoa sejenak,” kata Pastor Federico Lombardi SJ, juru bicara Vatikan.

Paus Emeritus Benediktus tinggal di vila musim panas kepausan di Castel Gandolfo sejak pengunduran dirinya secara resmi pada 28 Februari. Paus Fransiskus mengunjungi villa itu setelah 10 hari ia terpilih sebagai Paus. Ia berdoa dan makan siang bersama dengan Paus Emeritus Benediktus.

Dalam menanggapi pertanyaan tentang kesehatan Paus Emeritus Benediktus, Pastor Lombardi mengatakan kepada wartawan, “Dia sudah tua, lemah akibat usia, namun dia tidak menderita penyakit apapun.”

Di tahun terakhir masa kepausannya, Paus Emeritus Benediktus terlihat berjalan dengan tongkat.  Setelah Paus Benediktus mengundurkan diri, Pastor Lombardi menegaskan bahwa ia telah memiliki alat pacu jantung sebelum menjadi Paus tahun 2005 dan telah menjalani bedah ringan pada November untuk mengganti baterai.

Sementara itu Vatikan kini adalah rumah bagi paus dan paus emeritus. Paus Fransiskus tinggal di Domus Sanctae Marthae, Wisma Vatikan tepat di sebelah selatan Basilika Santo Petrus, tempat para kardinal tinggal selama Konklaf, sedangkan Biara Ecclesiae Mater, tempat Paus Emeritus Benediktus tinggal berada di sebelah utara Basilika.

Setibanya di Castel Gandolfo beberapa jam setelah pensiun resmi, Paus Emeritus Benediktus mengatakan kepada kerumunan orang yang berkumpul di alun-alun kota itu untuk menyambutnya, “Saya seorang peziarah sederhana yang menjalani tahap terakhir dari ziarah di bumi ini.
“Dengan segenap hati saya, cinta saya, doa-doa saya, refleksi saya, dan segala kekuatan dalam diri saya, saya masih ingin bekerja untuk kebaikan bersama dan kebaikan Gereja dan umat manusia,” katanya, seraya menegaskan kembali rencananya untuk menghabiskan masa pensiunnya dengan doa dan belajar.
Gedung yang dibangun tahun 1994 adalah rumah bagi empat komunitas biarawati berbeda – Clares Miskin, Karmelit, Benediktin dan Visitandines – yang masing-masing menghabiskan waktu lima atau tiga tahun dalam kehidupan yang didedikasikan untuk berdoa bagi Paus dan Gereja.
Sebelum kelompok biarawati itu tinggal, lokasi itu dijadikan taman Vatikan. Beato Yohanes Paulus II telah memperluas menjadi sekitar 4.600 meter persegi, termasuk kapel, ruang makan dan ruang kesehatan.

Sejak para suster Visitandine pindah pada November, gedung itu direnovasi, termasuk perluasan perpustakaan khusus untuk Paus Emeritus Benediktus.
Paus Emeritus itu akan tinggal di Biara Mater Ecclesiae bersama Uskup Agung Georg Ganswein, sekretarisnya, yang juga menjabat Prefek Rumah Tangga Kepausan saat ini, dan empat wanita awam dari Memores Domini, kata Pastor Lombardi. Gedung ini juga memiliki kamar dirancang khusus untuk kunjungan dari kakak Paus Emeritus Benediktus, Mgr Georg Ratzinger.
Helikopter pemerintah Italia membawa Paus Emeritus Benediktus ke Vatikan dari Castel Gandolfo bertemu Tarcisio Kardinal Bertone, sekretaris negara Vatikan, dan Angelo Kardinal Sodano, dekan Kolese Kardinal, serta para pejabat lainnya.

Sambil menunggu di Lapangan Santo Petrus untuk melihat helikopter tiba adalah seorang imam dari Kenya, yang tidak mau menyebutkan namanya. Dia mengatakan kepada Catholic News Service, “Ada baiknya dia (Paus Emeritus Benediktus) datang untuk berdoa bagi Paus baru dan orang lain. Ia mengajarkan kita bagaimana untuk berdoa.”

Jenna Cooper dari Cornwall, NY, AS, yang belajar di Universitas Kepausan Salib Suci di Roma, mengatakan dia datang ke alun-alun itu “karena saya mencintai Paus Emeritus Benediktus. Saya ingin berada di sini untuk memberikan dukungan doa saya. Saya ingin menyaksikan peristiwa bersejarah ini.
“Ini adalah kesaksian yang indah bahwa dia mendedikasikan hidupnya untuk berdoa, itu menunjukkan betapa pentingnya doa bagi kehidupan Gereja,” kata Cooper.

Sumber: Former pope is welcomed back to the Vatican
Dikopi dari UCAN Indonesia (03/05/2013)

Kamis, 02 Mei 2013

Menjadi Apakah Anak ini Kelak?

“MENJADI APAKAH ANAK INI KELAK?”
*Fr. Ramses Nainggolan, OFMCap.
   
Catatan Awal

Menurut para Psikolog, proses pembentukan tingkah laku seorang anak dimulai dengan proses imitasi (meniru). Oleh karena itu lingkungan sangat menentukan apakah seorang anak berkembang ke arah yang baik, atau sebaliknya menuju tingkah laku yang kurang baik. Setuju atau tidak, tampaknya proses ini juga menjadi patron dalam proses pembentukan hidup kita dalam persaudaraan. Kita membutuhkan figur-figur teladan, yang dapat mempengaruhi dan mengarahkan para saudara ke arah yang lebih baik, termasuk dalam hal pelayanan.

Ketika diminta membuat tulisan ini, saya tidak mempunyai bayangan akan pelayanan jenis apa yang akan saya tuliskan di sini. Maka saya mencoba menelusuri pengalaman hidup bersama dengan saudara, yang mendorong saya untuk berefleksi dan bertanya diri. Untuk itu saya membukanya dengan pertanyaan: “Menjadi apakah anak ini kelak?”. Pertanyaan ini saya kutip dari ungkapan orang-orang yang menyaksikan keajaiban seputar kelahiran Yohanes Pembaptis (bdk. Luk 1:65-66). Untuk saya saat ini pertanyaan ini mempunyai arti. Saya sadar bahwa saya adalah seorang ‘anak’ dalam persaudaraan ini. Saya perlu  belajar dari pengalaman-pengalaman para saudara, yang barangkali hanya sederhana, tetapi memberi sedikit warna baru dalam hati saya. Pengalaman itulah yang akan saya coba bagikan dalam tulisan ini.

Sederhana namun Indah: sebuah Kisah Sederhana

Sederhana namun indah dan menarik, demikian ungkapan orang yang tidak terlalu suka akan hal-hal yang norak dan menonjol. Cerita ini juga sebenarnya sederhana, namun indah dan menarik perhatian saya. Seorang saudara, yang adalah seorang imam dan berkarya di Paroki mendapat kunjungan dari salah seorang umat dari stasi. Seperti biasa umat/pengurus Gereja yang datang ke paroki tentu membawa sejumlah persoalan (unek-unek) yang sering hanya menambah pekerjaan bagi sang imam. Namun tidak seperti biasa yang terjadi, pastor ini tidak lebih dulu bertanya ini dan itu menyangkut alasan dan tujuan kedatangan sang tamu. Beliau segera mempersilahkan sang tamu duduk di ruang tamu, lalu pergi meninggalkan tamu tersebut. Sebentar kemudian pastor tersebut kembali ke ruang tamu dengan membawa dua gelas teh manis, dan memberikannya kepada umat tersebut. Dari raut wajah sang tamu, tampak bahwa umat tersebut merasa segan, karena ‘menurutnya’ adalah tidak pantas dia dilayani oleh seorang imam. Saya yakin rasa segan itu akan berubah menjadi kekaguman, yang membawa pengaruh dalam hidup orang tersebut.

Untuk saya ini adalah barang langka. Sangat jarang saya temukan pengalaman jenis ini. Tentu penilaian ini belum cukup berdasar. Seperti saya katakan di atas, saya adalah seorang ‘anak’ yang belum banyak mengalami hidup dalam komunitas kita. Mungkin saja hal-hal seperti itu sudah biasa dilakukan oleh saudara-saudara kita di komunitas. Akan tetapi untuk saya ini sesuatu yang baru, sehingga mendorong saya untuk bertanya, apa alasan di balik semua itu. Jawaban yang sederhana dan masuk akal untuk saya: “Ketika kita berkunjung ke stasi atau ke rumah umat, kita selalu dilayani dengan baik. Tidakkah wajar jika kita balas melayani mereka, saat mereka datang ke rumah kita?”

Jawaban ini menarik sekaligus menantang untuk saya. Memang, “membuatkan segelas teh manis”, tampaknya bukan perkara sulit, bahkan sebenarnya sangat mudah dan sederhana. Saking sederhananya, kita sering merasa kurang ‘pantas’ untuk pekerjaan itu. Tokh… kita bisa hanya memberi perintah agar orang lain (mis. karyawati) yang membuatkannya. Saya melihat bahwa di sini bukan terutama alasan membalas perbuatan, tetapi lebih pada nilai yang lebih tinggi “kesanggupan untuk melayani”.  

Sanggup Melayani: Belajar dari Spiritualitas Pelayanan Sang Guru

Saya pernah membaca suatu ungkapan dalam bahasa Inggris bunyinya demikian: “You are what you dress”, kamu adalah apa yang kamu pakai. Memang orang sering menilai orang dari pakaian yang dikenakannya. Pakaian menjadi penanda identitas, karakter, dan status sosial dalam masyarakat. Situasi yang sama berlaku juga untuk kita. Kaum biarawan-biarawati sering disebut dengan kaum berjubah. Jubah adalah pakaian, yang menjadi identitas, yang tampaknya juga menentukan status sosial kita di masyarakat. Jubah mengangkat kita ke tempat yang lebih tinggi, sekurang-kurangnya di mata mereka yang beragama Kristen. Dalam konteks ini mereka tidak mempermasalahkan apakah dia seorang pastor, bruder, frater, atau suster. Untuk mereka semua itu adalah kaum berjubah, yang harus dihormati, dilayani dan diperlakukan dengan baik. Inilah fakta yang tak tersangkalkan dan kita cukup menikmati hal itu. Kita merasa nyaman dan aman, ketika ada orang yang menghormati, melayani dan memberi perhatian untuk kita. 

Dalam Injil Yesus berkata: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Spiritualitas pelayanan Yesus inilah yang menjadi pedoman untuk kita. Kita menyebut diri sebagai orang yang secara khusus mengikuti Kristus, yang datang untuk melayani, bukan untuk dilayani. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan dalam Konstitusi Ordo Kapusin. Dalam Konstitusi dikatakan “Waktu upacara kaul pertama, diberikan jubah religius, juga bila sebelumnya sudah diserahkan pakaian percobaan. …, pakaian yang kita kenakan harus merupakan tanda pengabdian kita kepada Allah dan juga merupakan tanda persaudaraan dina kita ….” (Kons. No. 33). Dengan ini jelas dikatakan bahwa jubah bukan membawa kita ke tempat yang lebih tinggi, sebaliknya membawa ke tempat yang lebih rendah, menjadi seorang pelayan. Jubah adalah pakaian seorang pelayan, bukan pakaian orang yang harus dilayani. Bagi saya contoh kecil yang diberikan seorang saudara dalam cerita di atas menjadi teladan yang pantas ditiru, sebagai gambaran pelayanan seorang saudara berjubah. Pelayanannya tidak muluk-muluk, tapi sederhana dan menyentuh hati.  
   
Catatan Akhir

Suatu ketika menjelang akhir tahun, seorang pembimbing berkata kepada saya: “Coba telusuri kembali pengalamanmu sepanjang tahun ini. Jejak apa yang sudah kau tinggalkan sepanjang tahun, yang berkesan bagi orang-orang di sekitarmu?” Spontan saya berpikir dan mencari hal-hal besar apa yang sudah saya buat sepanjang tahun. Namun hasilnya: “Nihil”. Memang tidak ada hal-hal besar yang sudah saya buat, namun saya yakin bahwa banyak hal yang sudah saya kerjakan dengan tulus dan sepenuh hati.

Tak dapat disangkal, semua orang mengharapkan bahwa ia mampu meninggalkan suatu hal yang berkesan di suatu tempat, dimana ia pernah tinggal. Tak terkecuali saya sendiri. Ada keinginan kita untuk selalu diingat/dikenang dan dikagumi. Akan tetapi seperti dikatakan orang-orang bijak, hal-hal besar dan mengagumkan selalu bermula dari hal-hal kecil, yang sederhana dan memikat. Semoga kita dalam pelayanan mampu memberi daya pikat bagi orang lain, dan akhirnya mampu memikat dan menghantar orang pada kebaikan.

*Fr. Ramses Nainggolan, OFMCap., adalah seorang saudara muda Kapusin Propinsi Medan. Dia juga mahasiswa Post S-1, STFT St. Yohanes, Sinaksak, Pematangsiantar.


Paus Emeritus Benediktus kembali ke Vatikan

Paus Emeritus Benediktus kembali ke Vatikan

02/05/2013 Paus Emeritus Benediktus kembali ke Vatikan thumbnail

Hari ini Paus Emeritus Benediktus XVI akan kembali ke Vatikan dengan helikopter, cara yang sama ketika ia meninggalkan Vatikan dua bulan lalu setelah ia mengundurkan diri sebagai Paus.
Pastor Federico Lombardi SJ, direktur Kantor Pers Vatikan, mengatakan kepada CNA pada 30 April, “Seseorang akan menyambut Paus Emeritus Benediktus XVI”, tapi dia belum tahu siapa yang akan menyambut Paus Emeritus itu.
Paus Emeritus itu akan tiba dengan helikopter sekitar pukul 04:30 atau pukul 05:00 di sore hari, dan setelah sambutan singkat ia menuju Biara Ecclesiae Mater, di mana ia akan berdoa dan bermeditasi.
Sejak ia mengundurkan diri pada 28 Februari lalu, Paus Emeritus tinggal di kediaman kepausan musim panas, Castel Gandolfo.
Beato Yohanes Paulus II membuka biara tertutup itu pada Mei 1994 sebagai tempat yang dikhususkan untuk berdoa dari Paus itu, para pelayanannya dan para kardinal. Biara ini memiliki sebuah kapel, ruang paduan suara, perpustakaan,  dan ruang tamu.
Berbagai kelompok suster telah tinggal di biara itu sejak gedung itu dibangun, dan mereka bergantian setiap tiga tahun.
Tapi, saat Paus Emeritus mengumumkan pengunduran dirinya pada 11 Februari lalu, gedung itu kosong. Sejak November 2012 kelompok Religius terakhir tinggal di biara itu karena Vatikan mulai merenovasi gedung itu, memperbaiki ruang bawah tanah, jendela, dan atap teras.
Biara Mater Ecclesiae juga menjadi rumah bagi empat Religius wanita yang menjadi staf rumah tangga kepausan Benediktus sejak ia menjadi Paus tahun 2005, dan sekretaris pribadinya Uskup Agung Georg Gänswein, yang juga kepala Prefektur Rumah Tangga Kepausan.

Sumber: Pope Emeritus heads for his ‘retirement home’
Dikopi dari: UCAN Indonesia  (02/05/2013)

Selasa, 30 April 2013

Inilah sejumlah hal favorit Paus Fransiskus

08/04/2013 Inilah sejumlah hal favorit Paus Fransiskus thumbnail

Berikut ini sejumlah favorit Paus Fransiskus, yang diungkapkan dalam serangkaian wawancara saat ia masih sebagai uskup agung Buenos Aires, Argentina.
Wawancara itu ditulis dalam buku, “Paus Fransiskus: Percakapan dengan Jorge Bergoglio” oleh Sergio Rubin dan Francesca Ambrogetti, yang pertama diterbitkan tahun 2010 dengan judul “El Jesuita” (“Yesuit”). Buku ini belum tersedia dalam bahasa Inggris.
Olahraga favorit: Ketika ia masih muda, ia bermain basket dan suka pergi ke stadion untuk menonton pertandingan sepak bola bersama keluarga untuk menyaksikan tim favorit mereka, San Lorenzo.
Kota favorit: “Saya suka tempat dimana saya  tinggal. Saya suka Buenos Aires.” Ia telah melakukan perjalanan di Amerika Latin dan bagian lain Benua Eropa, termasuk Irlandia “untuk belajar bahasa Inggris. Namun, katanya, “Saya selalu mencoba untuk menghindari untuk berjalan-jalan”.
Media favorit  untuk informasi: Surat Kabar. Ia mengatakan ia menghidupkan radio hanya untuk mendengarkan musik klasik. Dia mungkin berpikir ia akan mulai menggunakan internet seperti pendahulunya, mendiang Juan Carlos Kardinal Aramburu dari Buenos Aires.
Transportasi favorit: Sebagai uskup agung Buenos Aires ia sering menggunakan kereta bawah tanah karena mudah dan cepat, tetapi ia lebih memilih bus karena ia bisa melihat pemandangan di luar.”
Penulis dan buku favorit: “Saya suka puisi (Friedrich) Holderlin,” seorang penyair abad ke-19; Alessandro Manzoni  dengan puisinya “I Promessi Sposi”, Dante Alighieri tentang “The Divine Comedy”, dan penulis Argentina Jorge Luis Borges.
Musik favorit: “Leonore” Overture No. 3 oleh Ludwig van Beethoven. “Menurut saya, musik ini adalah terbaik dari beberapa karya (Beethoven) dan juga karya-karya simfoni Wagner.”
Tarian favorit: Tango. Ia “sangat mencintai tarian itu karena sesuatu yang berasal dari dalam. Dia mengatakan dia sering menari tango ketika ia masih muda “meskipun saya lebih suka milonga,” yang merupakan bentuk yang lebih tua dari tango dengan ritme cepat.
Film favorit: “Feast Babette“, karena film ini menunjukkan transformasi dari sekelompok orang yang membuat penyangkalan dan tidak tahu apa itu kebahagiaan, katanya.  Dia juga suka film Italia neorealisme, yang sering dihadapkan konsekuensi sosial, ekonomi dan moral dari Perang Dunia II, tetapi ia menambahkan bahwa sebagai uskup agung ia tidak punya banyak waktu untuk pergi ke bioskop.
Lukisan Favorit: “Salib Putih”, yang dilukis oleh Marc Chagall. Lukisan itu “tidak kejam, melainkan hal ini menunjukkan penderitaan penuh ketenangan.
Orang favorit: Neneknya Rosa, yang membantu dia ketika dia masih kecil, mengajarinya kata-kata pertamanya dalam bahasa Italia dan memiliki kepekaan yang mendalam akan agama.
Orang Suci Favorit: St. Theresia dari Lisieux. Dia menyimpan foto di rak perpustakaan dengan sebuah vas bunga mawar putih di depannya. “Ketika saya memiliki masalah saya meminta orang suci itu, bukan untuk menyelesaikan masalah tersebut, tapi membantu saya menerimanya.”
Kebajikan Favorit: “Cinta. Hal ini memberikan ruang bagi orang lain dengan pendekatan yang lembut. Saya selalu meminta Tuhan memberikan saya hati yang lemah lembut,” katanya.
- Hal yang harus dihindari: “Dosa yang membuat saya mundur adalah kebanggaan” dan memikirkan diri sendiri sebagai orang besar. Dia mengatakan ketika hal itu terjadi padanya, “Saya merasa malu besar dan saya meminta ampun kepada Tuhan karena tidak seorang pun berhak untuk berperilaku seperti ini.”
- Reaksi terpilih sebagai Paus: Dia merasa kaku. Ketika Paus Fransiskus terpilih menjadi Paus dan muncul di balkon, banyak orang melihat ia tampak agak kaku. Ternyata itulah bagaimana dia bereaksi ketika ia diangkat menjadi uskup auksilier tahun 1992 dan bagaimana ia bereaksi “terhadap sesuatu yang tak terduga, baik atau buruk, itu seperti membuat saya agak kaku,” katanya.
- Hal-hal yang harus diselamatkan saat kebakaran: brevir dan buku agendanya. Buku agenda terdapat semua alamat dan nomor telepon. “Ini akan menjadi bencana nyata untuk kehilangan mereka.”
“Saya sangat melekat pada brevier saya. Buku ini adalah pertama yang saya buka di pagi hari dan terakhir saat saya pergi tidur.”
Dia juga menyimpan surat neneknya dan pesan terakhirnya kepada cucu-nya sebelum dia meninggal. Dia mengatakan bahwa pada saat kesedihan, kesulitan atau kemalangan, kunjungilah tabernakel, “dimana martir terbesar dan termulia disimpan,” dan Bunda Maria di kaki salib karena mereka bisa “menyembuhkan luka yang dalam dan paling menyakitkan.”

Sumber: Soccer fan and tango aficionado; pope’s pastimes revealed
Dikopi dari UCAN Indonesia.