Minggu, 23 Desember 2012

Renungan Harian: Selasa 25 Desember 2012

Renungan Harian: Selasa 25 Desember 2012

Yoh 1:1-18

Pada awal mula adalah Firman. Firman itu ada bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah. Firman itu pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia, dan tanpa Dia tidak ada satu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup, dan hidup itu adalah terang bagi manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan, tetapi kegelapan tidak menguasainya.

Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes. Ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia sendiri bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Terang itu telah ada di dalam dunia, dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima Dia diberi-Nya kuasa menjadi anak-anak....

 

KESELAMATAN TELAH DATANG

Lihat Tuhan telah datang. Yesus telah lahir bagi kita. Para malaikat merupakan tanda legitimasi dari pihak Allah, bahwa Yesus Putra Allah telah datang dan lahir bagi kita. Semarak hiasan di Gereja merupakan lambang kemeriahan kita menyambut kedatangan-Nya. Mari bersorak-sorai dan bergembira menyambut kedatangan penyelamat kita.

Peristiwa Natal menjadi sangat berarti dan selalu mengharukan karena Allah yang Mahatinggi sudi memperhatikan manusia yang lemah. Allah menjadi manusia, suatu perendahan diri yang tak ternilai dalamnya. Solidaritas agung ini merupakan upaya Allah untuk mengangkat dan menyelamatkan manusia. Atas semua itu, para malaikat mengajak kita untuk bersenandung, "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."

Allah berkenan menjadi manusia lemah untuk menyelamatkan kita dari kelemahan kita. Bila Allah sedemikian menaruh hati kepada kita, apakah kita masih pesimis? Allah mengajak kita menjadi insan yang optimis, karena Allah sendiri kini ada bersama kita dan berjuang bersama dengan kita. Natal menjadi suatu peristiwa iman yang mengajak kita untuk melihat dan menata hidup ini dalam optimisme sebab Allah sendiri mencintai dan menghargai ciptaan-Nya (FS).

 

Pelita Hati: Natal menjadi suatu peristiwa iman yang mengajak kita untuk melihat dan menata hidup ini dalam optimisme sebab Allah sendiri mencintai dan menghargai ciptaan-Nya.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Senin 24 Desember 2012

Renungan Harian: Senin 24 Desember 2012

Luk 2:1-14

Zakharia, ayah Yohanes, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya, "Terpujilah Tuhan, Allah Israel sebab Ia telah mengunjungi umat-Nya dan membawa kelepasan baginya;Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya, seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala lewat mulut nabi-nabi-Nya yang kudus, untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita; untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita, dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita. Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan.....

 

BERSYUKUR DAN BERTERIMA KASIH

Bagi orang Yahudi zaman dulu, suami-istri yang tidak mempunyai anak dianggap sebagai keluarga paling sial dan sebagai hukuman atas dosa. Zakharia dan Elisabet dikategorikan orang demikian. Mereka sudah lama mengarungi hidup berumah tangga, tapi karunia Tuhan lewat kehadiran seorang anak belum mereka rasakan, hingga masa tua mereka.

Suatu waktu, Zakharia mendapat kesempatan memasuki tempat kudus untuk membakar ukupan dan mempersembahkan kurban bakaran di Bait Allah. Ia tak lupa memanjatkan doa agar Tuhan sudi memperhatikan dirinya. Doa Zakharia didengar oleh Tuhan. Tuhan punya rencana atas seluruh peristiwa yang dialami Zakharia dan Elisabet. Aib yang menjadi cela itu justru menjadi kesempatan bagi Tuhan untuk memperlihatkan karya-Nya yang mulia. Zakharia memanjatkan nyanyian pujian. Tuhan telah mengingat kembali hamba-Nya dan menganugerahkan karunia yang amat besar. Tuhan menitipkan Nabi Allah yang Mahatinggi, yang akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering berdoa dan memohon supaya Tuhan berkenan memberikan apa yang kita butuhkan. Adakalanya permohonan kita dikabulkan seperti yang kita minta. Tapi, tak jarang Tuhan mengabulkan doa kita dalam cara yang sungguh berbeda. Tuhan mengabulkan setiap doa sesuai dengan rencana-Nya. Dalam semua peristiwa itu, Tuhan menitipkan sesuatu yang luar biasa. Bisa dan sanggupkah kita seperti Zakharia yang mensyukuri dan melihat karunia Tuhan berkarya dalam hidup kita? (FS).

 

Pelita Hati: Tuhan selalu mengabulkan permohonan umat-Nya yang memohon kepada-Nya hanya kita sering tidak menyadarinya.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Senin, 03 Desember 2012

Renungan Harian: Jumat 7 Desember 2012

Renungan Harian: Jumat 7 Desember 2012

Mat 9:27-31

Sekali peristiwa ada dua orang buta mengikuti Yesus sambil berseru-seru,"Kasihanilah kami, hai Anak Daud!" Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang itu kepada-Nya. Yesus berkata kepada mereka,"Percayakah kalian, bahwa Aku dapat melakukannya?" Mereka menjawab,"Ya Tuhan, kami percaya." Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata,"Terjadilah padamu menurut imanmu." Maka meleklah mata mereka. Lalu dengan tegas Yesus berpesan kepada mereka,"Jagalah, jangan seorang pun mengetahui hal ini." Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Yesus ke seluruh daerah itu.

 

TERJADILAH PADAMU MENURUT IMANMU

Suatu hari dua orang bapak bertengkar untuk memperebutkan sepetak tanah di desa. Pertengkaran makin memuncak sehingga mereka mulai saling mengasah parang. Masing-masing berpikir, siapa yang berhasil membunuh lawan, dialah pemenang dan akan memiliki tanah yang disengketakan. Sebelum mengayunkan parang, seorang dari bapak tersebut menanyakan agama bapak lawannya. Ketahuan bahwa mereka sama-sama beragama Katolik. Lalu mereka terdiam. Jari-jari mereka kaku hingga parang jatuh sendiri, dan akhirnya mereka saling berpelukan. Iman mereka telah menyelamatkan mereka.

"Terjadilah padamu menurut imanmu", kata Yesus kepada dua orang buta yang mengikuti-Nya. Iman yang dimiliki orang buta tersebut membuat mata mereka terbuka pada kenyataan di hadapan mereka. Iman yang benar tampak pada dua orang buta tersebut. Mereka menyerahkan dan mempercayakan diri pada Tuhan. Mereka memohon belas kasihan Tuhan dan  mengandalkan-Nya. Iman seperti ini membawa keselamatan dan kebahagiaan.

Mungkin kita pernah takut mengakui iman kita di hadapan orang. Yesus berpesan bahwa menghidupi iman dan memperkenalkannya pada orang lain akan membawa kesembuhan, menjauhkan permusuhan, sehingga muncul keselamatan. Kalau iman akan Yesus sungguh-sungguh kita andalkan bukan kesombongan kita, maka akan terjadi pada kita menurut iman tersebut. Tuhan akan berkarya di dalam diri orang beriman. Selamat Adven (GN).

 

Pelita Hati: Iman yang benar membawa keselamatan dan kebahagiaan.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Kamis 6 Desember 2012

Renungan Harian: Kamis 6 Desember 2012

Mat 7:21.24-27

Pada suatu ketika Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk Kerajaan surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di surga. Semua orang yang mendengar perkataan-Ku dan melakukannya, ia sama dengan orang bijaksana yang membangun rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu. Tetapi rumah itu tidak roboh sebab dibangun di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang bodoh, yang membangun rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu. Maka robohlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

 

MEMBANGUN RUMAH DI ATAS BATU

Gempa bumi yang terjadi beberapa kali akhir-akhir ini merobohkan banyak rumah terutama rumah yang fondasinya rapuh. Beberapa rumah yang fondasinya kuat tahan berdiri dengan kokoh. Untuk membangun fondasi yang kokoh, butuh waktu dan dana yang besar agar bangunan yang dibangun di atasnya kuat, tahan gempa, tahan banjir, dan angin. Penghuni yang akan menempatinya pun aman di dalamnya.

Orang yang mendengar dan melakukan Sabda Allah seperti membangun rumah di atas batu. Telinganya mendengar hal-hal baik dan berharga dari Allah. Perbuatannya juga sesuai dengan apa yang didengar dari Allah. Kebaikan tersebut mengisi pengalaman yang mempengaruhi alam sadar dan tak sadar. Kebiasaan mendengar dan melakukan Sabda Allah menyadarkan orang bahwa Allah tinggal dalam dirinya untuk menguatkan, menopang, dan menolongnya. Kalau datang gangguan, cobaan, kesulitan, tantangan, hal itu semua tidak mampu merobohkan kebaikan yang ada justru semakin menyandarkan diri pada Allah.

Gereja mengajak kita pada masa Adven ini, agar meluangkan waktu untuk mendengar Sabda Allah dan membiarkan diri kita berlaku sesuai dengan tuntunan Sabda-Nya. Setia membangun diri dengan Sabda Allah  bagaikan membangun rumah di atas batu. Sikap ini akan memudahkan kita merasakan bahwa Allah tinggal bersama kita (GN).

 

Pelita Hati: Setia membangun diri dengan Sabda Allah  bagaikan membangun rumah di atas batu.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Rabu 5 Desember 2012

Renungan Harian: Rabu 5 Desember 2012

Mat 15: 29-37

Pada suatu ketika Yesus menyusuri pantai Danau Galilea, lalu naik ke sebuah bukit dan duduk di situ. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang timpang, orang buta, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus, dan mereka semua disembuhkan-Nya. Maka takjublah orang banyak itu melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat; dan mereka memuliakan Allah Israel. Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, "Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan." Para murid menyahut, "Bagaimana mungkin di tempat sunyi ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?" Kata Yesus kepada mereka, "Berapa...

 

ALLAH PENYELENGGARA HIDUP

Telinga orang sakit biasanya sangat peka mendengar di mana ada tabib yang bisa menyembuhkan. Hal itu karena kerinduan mendalam untuk sembuh ada dalam diri orang sakit. Namun, hati-hati, kadang muncul tabib palsu untuk menampung kerinduan tersebut. Hal ini harus dihindari sebab masih banyak tabib yang sungguh mampu menyembuhkan. Asal si sakit percaya pada tabib tersebut sehingga daya penyembuhan berperan dalam dirinya.

Berita tentang Yesus yang membawa kesembuhan semakin tersebar. Orang-orang menderita dengan bermacam jenis penyakit datang menemui Yesus dan mereka mengalami kesembuhan. Iman mereka berperan, sehingga membuat kekuatan Allah berdaya dalam derita. Kerinduan manusia untuk disentuh dan disembuhkan Allah bersambut dengan kemurahan dan keharuan Allah pada orang yang percaya pada-Nya. Bahkan Yesus tidak hanya menyembuhkan penyakit, tetapi juga memelihara hidup orang agar tidak sakit. Dia menyelenggarakan hidup orang percaya dengan memberi mereka makan. Allah menyediakan makanan berlimpah ruah untuk orang percaya. Anugerah Allah hendaknya menolong orang untuk hidup bersama dengan baik. Kekurangan yang tampak dalam sakit dan kelebihan yang tampak dalam kelimpahan makanan hendaknya menjadikan manusia mampu hidup bersama dengan saling membela dan saling berbagi dan menyandarkan diri pada Allah.

            Kita membutuhkan sesama untuk saling menyembuhkan, tetapi hendaknya kita juga datang pada Yesus agar kita mengalami belas kasihan-Nya. Belas kasih-Nya akan membuat diri kita berhati segar dan bersyukur atas rahmat yang kita peroleh setiap hari (GN).

 

Pelita Hati: Kerinduan manusia untuk disentuh dan disembuhkan Allah bersambut dengan kemurahan dan keharuan Allah pada orang yang percaya pada-Nya.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Selasa 4 Desember 2012

Renungan Harian: Selasa 4 Desember 2012

Luk 10:21-24

Pada waktu itu bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata,"Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tiada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang oleh Anak diberi anugerah mengenal Bapa." Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya dan berkata,"Berbahagialah mata yang melihat apa yang kalian lihat. Sebab Aku berkata kepadamu, banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kalian lihat, namun tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kalian dengar, namun tidak mendengarnya."

 

MENGENAL ALLAH

Baru-baru ini saya bertemu dengan Norman teman sekolahku dulu. Pertemuan kami berkesan sekaligus mengharukan. Norman bekerja sebagai pengaspal jalan raya, padahal ketika sekolah dia pintar dan selalu juara I. Bekerja sebagai pengaspal jalan memang mulia, tetapi dia terpaksa melakukannya karena tidak ada pekerjaan lain. Dikisahkannya, dia tahu bahwa dia pintar, sehingga dia lalai belajar waktu SMA. Dia asyik bermain dengan teman dan sering bolos, sehingga dia dikeluarkan dari sekolah.

Dalam pendidikan perhatian sering difokuskan pada kecerdasan intelektual. Orang pintar secara intelektual sering dipuji padahal kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan pikiran, tetapi juga kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. Kecerdasan emosi dan spiritual membuat mata hati berfungsi melihat apa yang tidak oleh mata kepala, merasakan apa yang tidak diketahui oleh pikiran.

Dalam Injil hari ini Yesus berkata, "Aku bersyukur pada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu." Kebijakan hidup bertumbuh kalau manusia mau terbuka untuk diajari oleh Allah, sebagaimana anak terbuka untuk diajari oleh orangtuanya. Keterbukaan demikian membuat manusia berbesar hati bukan berbesar kepala. Roh Allah akan menuntun manusia untuk setia pada kebaikan, tidak menyimpang dari kebenaran. Iman yang dimiliki tetap melekat dalam diri seperti ikat pinggang yang tetap melekat pada pinggang (GN).

 

Pelita Hati: Kebijakan hidup bertumbuh kalau manusia mau terbuka untuk diajari oleh Allah

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Senin 3 Desember 2012

Renungan Harian: Senin 3 Desember 2012

Mrk 16:15-20

Pada suatu hari Yesus yang bangkit dari antara orang mati menampakkan diri kepada kesebelas murid, dan berkata kepada mereka, "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan. Tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: Mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." Sesudah berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Tuhan Yesus ke surga. Lalu duduk di sebelah kanan Allah. Maka pergilah para murid memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.

 

MEWARTAKAN INJIL

Seorang guru ditugaskan mengajar di daerah terpencil. Ia menerima tugas itu dengan baik dan melaksanakannya dengan tekun dan disiplin. Jarak sekolah tempatnya mengajar ke rumah kira-kira dua kilo meter. Setiap pagi dan pulang sekolah ia berjalan kaki. Maklum di daerah itu belum ada kenderaan. Kendati demikian, ia tidak pernah mengeluh atas pekerjaan pun situasi yang dihadapinya setiap hari.

Tugas guru ini mirip dengan tugas yang diberikan Yesus pada para murid dalam Injil hari ini. Yesus bersabda: "Pergilah ke seluruh dunia dan beritakanlah kabar baik dari Allah kepada seluruh umat manusia." Yesus memberi tugas yang mesti kita laksanakan dalam hidup kita sebagai orang Kristen. Tentu dalam melaksanakan tugas memberitakan kabar baik ini bukan harus seperti yang dilaksanakan oleh para rasul melainkan kita dapat melakukannya mulai dari hal-hal kecil seperti melalui tindakan kasih, sumbangan bagi yang membutuhkan, dan berbuat baik terhadap sesama. Dengan bersikap demikian kita telah mewartakan Injil bagi setiap orang.

Hari ini Gereja merayakan Pesta St. Fransiskus Xaverius pelindung karya misi. Fransiskus diangkat sebagai pelindung karya misi karena cara hidup dan perjuangannya didasarkan atas firman Tuhan. Dia sungguh merealisasikan firman dan tugas perutusan itu di dalam hidupnya. Tanpa mengenal lelah Fransiskus mewartakan kabar gembira. Semangat dan perjuangan santo ini dapat kita teladani dalam mewartakan Injil. Semoga lewat teladan hidupnya kita berani menjadi utusan untuk mewartakan kabar gembira pada semua orang (RBM).

 

Pelita Hati: Semua orang Kristen diberi tugas untuk mewartakan Injil dalam hidup hariannya.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.