Senin, 03 September 2012

Renungan Harian: Jumat 7 September 2012

Renungan Harian: Jumat 7 September 2012

Luk 5:33-39

Sekali peristiwa orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat berkata kepada Yesus, "Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang. Demikian pula murid-murid orang Farisi. Tetapi murid-murid-Mu makan dan minum." Yesus menjawab,"Dapatkah sahabat mempelai disuruh berpuasa, selagi mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan datang waktunya mempelai diambil dari mereka; pada waktu itulah mereka akan berpuasa." Yesus mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka,

"Tiada seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk ditambalkan pada baju tua. Sebab jika demikian, yang baru itu pun akan koyak. Apalagi kain penambal yang dikoyakkan dari baju baru tidak akan cocok pada baju yang tua. Demikian juga tiada seorang pun mengisikan anggur baru ke dalam kantong kulit yang tua. Sebab jika demikian, anggur baru itu akan mengoyakkan kantong tua itu, lalu anggur akan terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Dan tiada seorang pun yang telah meminum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab.....

 

Kasih Lebih Penting dari Aturan

Salah satu kecenderungan manusia adalah suka akan hal-hal yang baru. Kehadiran sesuatu yang baru akan membuka cakrawala yang lebih luas yang pada gilirannya akan membawa dan mengarah pada kesempurnaan.

Kehidupan injili yang diwartakan oleh Yesus Kristus adalah sesuatu yang sama sekali baru: lahir dari tengah pola hidup Yahudi, tetapi berkembang seturut pola dan semangat yang diajarkan Yesus Kristus yaitu ajaran cinta kasih satu sama lain. Pola hidup injili ini mendapat sambutan dari banyak orang, sehingga setiap hari semakin banyak orang yang mengikuti semangat hidup Yesus. Namun, bagi orang-orang Farisi, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, kehadiran Yesus menjadi ancaman, sebab mereka semakin kehilangan pendapatan dari pajak ibadat mereka. Untuk membentengi diri, orang-orang Farisi menuduh bahwa para pengikut Yesus tidak setia memelihara hukum Taurat, terutama dalam berpuasa dan sembahyang. Tetapi Yesus menjelaskan arti kehadiran-Nya. Yesus membandingkan pelayanan-Nya dengan suatu perjamuan pesta, sebagai lambang perjamuan Mesias. Para murid tidak bersedih selagi mempelai itu bersama-sama dengan mereka. Tetapi akan datang saatnya, apabila mempelai itu tidak lagi bersama-sama dengan mereka, pada waktu itulah para murid akan berpuasa.

Kisah Para Rasul menunjukkan bahwa orang-orang Kristen Perdana secara teratur berpuasa dan berdoa (Kis 2: 42; 13:3; 14:23). Puasa dilihat dan dilakukan sebagai  bagian dari doa yang memohon bantuan Roh Kudus (BS).

 

Pelita Hati: Cinta kasih hendaknya menjadi ciri khas setiap pengikut Yesus

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Kamis 6 September 2012

Renungan Harian: Kamis 6 September 2012

Luk 5:1-11

Pada suatu ketika Yesus berdiri di pantai Danau Genesaret. Orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan sabda Allah. Yesus melihat dua buah perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahu itu sedikit jauh dari pantai. Lalu Yesus duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Selesai berbicara Ia berkata kepada Simon, "Bertolaklah ke tempat dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Simon menjawab, "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa. Tetapi atas perintah-Mu aku akan menebarkan jala juga." Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap ikan dalam jumlah besar, sehingga jala mereka mulai terkoyak. Lalu mereka....

 

Penjala Manusia

Sebagai seorang pelaut yang sudah berpengalaman, seharusnya Petrus menolak ajakan Yesus yang memintanya untuk menaburkan jala di tengah hari, karena toh tidak akan menangkap apa-apa. Petrus berkata: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga". Petrus pun mentaati dan pergi ke laut untuk menebarkan jala. Di luar dugaan Petrus, akhirnya mereka menangkap ikan dalam jumlah besar. Spontan Petrus menjadi takjub, merasa malu bahkan merasa tak layak di hadapan Yesus yang baru saja menunjukkan kuasa surgawi. Bagi Petrus, Orang yang sekarang berada di hadapannya adalah Dia yang kudus. Petrus pun tersungkur di hadapan-Nya.

Di luar dugaan Petrus, ternyata Yesus mengajak Petrus menjadi penjala manusia. Petrus dan beberapa temannya "lulus seleksi" menjadi murid-murid Yesus. Mereka beralih profesi, dari penjala ikan menjadi penjala manusia bersama dengan Yesus. Pengalaman sebagai nelayan memberikan mereka latihan kerja keras dan penuh kesabaran yang sangat perlu bagi seorang yang akan menarik banyak orang kepada Kristus. Petrus dengan langkah mantap, meninggalkan segala sesuatu dan menjadi murid Yesus.

Setiap orang Kristen adalah pengikut Yesus. Pengenalan akan pribadi Yesus, menjadi realitas mutlak bagi orang Kristen. Sejatinya menjadi pengikut Yesus berarti ikut ambil bagian dalam mewartakan Kristus, kapan dan di mana saja kita berada dan dalam kapasitas kita masing-masing. Setiap orang harus menjadi "penjala" bagi sesamanya, kapan dan di mana saja dia berada. Apakah kita mampu menebarkan jala kita dengan damai, dengan keadilan dan cinta kasih, dan menarik jala itu dengan ketulusan hati dan pengorbanan? Jala itu hanya mungkin kita tebarkan dan kita tarik kembali kalau bersatu dengan Kristus, Sang Penjala Utama (BS).

 

Pelita Hati: Setiap orang harus menjadi "penjala" bagi sesamanya, kapan dan di mana saja dia berada.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Rabu 5 September 2012

Renungan Harian: Rabu 5 September 2012

Luk 4:38-44

Setelah meninggalkan rumah ibadat di Kapernaum, Yesus pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon sakit demam keras, dan mereka minta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Yesus berdiri di sisi wanita itu, lalu menghardik demamnya. Segera penyakit itu meninggalkan dia.

Wanita itu segera bangun dan melayani mereka. Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kerabatnya yang sakit kepada Yesus. Ia meletakkan tangan atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak, "Engkaulah Anak Allah." Tetapi dengan keras Yesus melarang mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia Mesias. Ketika hari siang Yesus berangkat ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia. Ketika menemukan-Nya, mereka berusaha menahan Dia, supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Yesus berkata kepada mereka, "Juga di kota-kota lain Aku harus mewartakan Injil Allah sebab untuk itulah Aku diutus." Dan Ia mewartakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea.

 

Diutus untuk Semua Orang

Setelah pulang dari rumah ibadat Yahudi, Yesus singgah di rumah Simon. Kebetulan ibu mertua Simon sedang sakit demam keras dan mereka memohon agar Yesus menyembuhkan dia. Setelah meletakkan tangan-Nya atas wanita itu, seketika itu juga wanita itu menjadi sembuh. Ia pun bangkit dan segera melayani Yesus. Kunjungan Yesus sungguh menggembirakan hati keluarga Simon. Mendengar bahwa Yesus ada di rumah Simon, orang banyak datang ke rumah Simon sambil membawa orang-orang sakit agar sudi dijamah oleh Yesus.

Keesokan harinya, ketika Yesus dan para murid hendak berangkat untuk mewarta ke tempat lain, orang lain bermaksud menahan Yesus. Tetapi Yesus menjawab sambil berkata, "Juga di kota-kota lain Aku harus ...."

Sikap Yesus yang tidak ingin tinggal menetap di Kapernaum, menunjukkan maksud perutusan-Nya. Yesus tidak hanya diutus untuk kalangan tertentu saja. Kehadiran Yesus tertuju kepada semua orang. Kehadiran Yesus hendak mewarta dan menyatakan kehendak Allah kepada seluruh bangsa (BS).

 

Pelita Hati: Kehadiran Yesus tertuju kepada semua orang.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Sabtu, 01 September 2012

Renungan Harian: Selasa 4 September 2012

Renungan Harian: Selasa 4 September 2012

Luk 4:31-37

Sekali peristiwa Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea. Di situ Ia mengajar pada hari-hari Sabat. Orang-orang takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan. Ia berteriak dengan suara keras.

"Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau : Engkaulah Yang Kudus dari Allah." Tetapi Yesus menghardik dia, kata-Nya, "Diam, keluarlah daripadanya!" Maka setan menghempaskan orang itu ke tengah orang-orang banyak, lalu keluar daripadanya, dan sama sekali tidak menyakitinya. Semua orang takjub, dan berkata satu sama lain, "Alangkah hebatnya perkataan ini! Dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat, dan mereka pun keluar." Maka tersiarlah berita tentang Yesus ke mana-mana di daerah itu.

 

Setan pun takluk di hadapan Yesus

Sebagai seorang Yahudi sejati, setiap Sabat tiba Yesus selalu hadir di Bait Allah untuk berdoa. Dia juga kadang diminta untuk mengajar umat. Ketika Yesus mengajar umat di Kapernaum, setelah pengajaran-Nya selesai, tiba-tiba ada orang  yang kerasukan setan. Sambil berteriak-teriak, orang yang kerasukan setan itu berkata, "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret .... Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." Kemudian Yesus menghardik dia kata-Nya: "Diam, keluarlah daripadanya." Setan itu pun taat pada perintah Yesus dan keluar dari orang yang kerasukan itu, tanpa menyakiti dia.

Lewat peristiwa ini, penulis Injil Lukas, hendak mengemukakan siapa diri Yesus sesungguhnya. Setan pun mengenal dan mengakui bahwa Yesus adalah yang kudus yang berasal dari Allah. Itu berarti bahwa Yesus berkuasa atas roh-roh jahat.

Orang-orang yang mendengar pengajaran Yesus takjub atas pengajaran dan peristiwa pengusiran roh jahat itu. Bagaimana dengan kita? Berkat babtisan, kita telah dikaruniai Roh Kudus dan Roh Kudus itulah yang akan membimbing dan mengarahkan kita pada kasih Kristus. Dan yang dituntut dari kita adalah percaya kepada-Nya (BS).

 

Pelita Hati: Yesus adalah yang Kudus dari Allah.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Senin 3 September 2012

Renungan Harian: Senin 3 September 2012

Luk 4:16-30

Sekali peristiwa datanglah Yesus di Nazaret, tempat Ia dibesarkan. Seperti biasa, pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat. Yesus berdiri hendak membacakan Kitab Suci. Maka diberikan kepada-Nya Kitab Nabi Yesaya. Yesus membuka kitab itu dan menemukan ayat-ayat berikut,

"Roh Tuhan ada pada-Ku. Sebab Aku diurapi-Nya untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Dan Aku diutus-Nya memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, penglihatan kepada orang-orang buta, serta membebaskan orang-orang tertindas; Aku diutus-Nya memberitakan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang." Kemudian Yesus menutup kitab itu dan mengembalikannya kepada pejabat; lalu Ia duduk, dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada....

 

Kegenapan Nubuat

Sebagai seorang Yahudi, Yesus sangat hormat pada kebiasaan masyarakat setempat. Bila hari  Sabat tiba, Yesus juga hadir dan turut ambil bagian dalam ibadat. Suatu kali Yesus diberi kesempatan untuk membacakan isi Kitab Suci  di tengah umat. Yesus pun membuka Kitab itu, dan membacakan isi kitab Nabi Yesaya yang mengatakan: "Roh Tuhan ada padaku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, dan untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Kemudian Ia menutup kitab itu dan mengembalikannya kepada pejabat sinagoga. Yesus melanjutkan pengajaran-Nya dan menjelaskan isi Kitab Suci. Di akhir pengajaran-Nya itu, Yesus bersabda: "Pada hari ini genaplah  nas ini sewaktu kamu mendengarnya." Karena pengajaran-Nya yang menghibur hati umat, banyak orang yang membenarkan Dia.

Dengan Sabda itu, apa yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya, kini telah tergenapi dalam diri Yesus. Lewat bacaan Injil hari ini, Penginjil Lukas hendak mengetengahkan siapa dan apa misi Yesus. Dialah Mesias, yang diutus Allah untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, membebaskan yang ditawan dan tertindas, menyembuhkan orang buta serta untuk menyampaikan tahun rahmat telah datang.

            Lewat Injil hari ini, Kabar gembira yang sama disampaikan kepada kita semua. Bagaimana kita menanggapinya? Hanya orang yang percaya akan sabda Yesus yang akan mengalami penyelamatan, sebagaimana para janda di Sarfat percaya akan pewartaan Nabi Elia sehingga mereka mengalami kuasa Allah. Kita juga akan mengalami kuasa Allah itu, apabila kita percaya dan mengimani sabda-Nya (BS).

 

Pelita Hati: Hanya orang yang percaya akan sabda Yesus  yang akan mengalami penyelamatan

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Minggu 2 September 2012

Renungan Harian: Minggu 2 September 2012

Mrk 7:1-8.14-15.21-23

Pada suatu hari serombongan orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat beberapa murid Yesus makan dengan tangan najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi – seperti orang-orang Yahudi lainnya – tidak makan tanpa membasuh tangan lebih dahulu, karena mereka berpegang pada adat-istiadat nenek moyang. Dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas tembaga. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada Yesus, "Mengapa murid-murid-Mu tidak mematuhi adat istiadat nenek moyang kita? Mengapa mereka makan dengan tangan najis?" Jawab Yesus, kepada mereka, "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadat kepada-Ku, sebab ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat istiadat manusia." Pada suatu hari, Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka, "Dengarkanlah....

 

Formalisme Religius

Ketika Yesus mulai berkarya di tengah bangsa Israel, formalisme religius sudah menjadi salah satu topik perdebatan dengan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Kaum Farisi menuntut pelaksanaan total, hurufiah, atas hukum Taurat (Ul 4:2). Bagi orang Farisi pelaksanaan Taurat menurut huruf akan menjadi "standar" bagi seorang Israel sejati.

      Sementara itu, Yesus melihat cara hidup yang ditunjukkan orang-orang Farisi sebagai bentuk kemunafikan, karena pelaksanaan hukum Taurat melulu lahiriah tanpa keterlibatan hati. Praktik yang demikian telah menjadikan agama sebagai sebuah kumpulan peraturan dan hukum. Formalisme religius inilah yang bagi Yesus merupakan sebuah kenajisan. Situasi religius yang demikian membuat Yesus berang. Yesus menegaskan bahwa ibadah yang benar adalah membentuk hati yang selalu bersatu dengan Tuhan. Dalam beribadat, orang harus membentuk hatinya supaya berisi kebaikan, kepekaan, solidaritas, empati dan simpati, sehingga perbuatannya sungguh diwarnai oleh hati yang penuh keilahian.

Biasanya, air dari pegunungan itu akan memancarkan air yang bersih, bening dan jernih, demikian juga tindakan kita menjadi cerminan dari hati kita. Jika Allah yang bersemayam di dalamnya, maka dia akan memancarkan kasih Allah lewat sikap dan perbuatan kita setiap hari (BS).

 

Pelita Hati: Segala tindakan kita merupakan cerminan dari hati kita.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Sabtu 1 September 2012

Renungan Harian: Sabtu 1 September 2012

Mat 25:14-30

Pada suatu hari Yesus mengemukakan perumpamaan berikut kepada murid-murid-Nya, "Hal Kerajaan Surga itu seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberinya lima talenta, yang seorang lagi dua, dan seorang yang lain lagi satu, masing-masing menurut kemampuannya. Lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu dan memperoleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta pun berbuat demikian, dan mendapat laba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lubang di tanah, lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama kemudian pulanglah tuan hamba-hamba itu, lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta datang dan membawa laba lima talenta. Ia berkata,'Tuan, lima talenta Tuan percayakan kepadaku. Lihat, aku telah memperoleh laba lima talenta.' Maka kata tuannya kepadanya, 'Baik sekali perbuatanmu itu, hamba yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil! Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.'

Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta, katanya, 'Tuan, dua talenta Tuan percayakan kepadaku. Lihat, aku telah mendapat laba....

 

Menggandakan Talenta

Pak Dorkas, bertugas sebagai koster di Gereja parokinya. Profesi ini sudah dia lakukan sejak masa mudanya. Dia dipilih menjadi koster bukan terutama karena keahliannya atau karena dibayar, tetapi terdorong untuk melayani Tuhan dalam Gereja. Tugas dan tanggung jawab sebagai koster dia lakukan setiap hari. Menarik lonceng pada waktunya. Setengah jam sebelum Ekaristi pagi dimulai dia sudah hadir untuk menyiapkan altar dan setelah Ekaristi selesai, dia kembali menyimpan peralatan dengan baik. Pak Dorkas juga selalu bersedia menolong bila ada yang meminta bantuannya. Sehabis dari Gereja, wajahnya selalu tersenyum karena dia bangga sudah lebih dulu melayani Tuhan sebelum melakukan pekerjaan lain.

Hari ini, Yesus membagi-bagikan talenta kepada kita, yaitu bakat, kemampuan, kemauan, dan semangat dalam diri kita masing-masing. Banyaknya talenta yang kita peroleh juga berdasarkan kemampuan kita untuk mengembangkannya. Tugas kita adalah menggandakan talenta itu dalam kehidupan kita setiap hari. Lewat talenta itulah kita dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Yesus hanya meminta kepada kita satu hal, kesetiaan dan ketekunan memelihara talenta itu (BS).

 

Pelita Hati: Lewat talenta kita dipanggil  untuk ikut ambil bagian dalam karya keselamatan Allah

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.