Rabu, 11 Juli 2012

Renungan Harian: Jumat 13 Juli 2012

Renungan Harian: Jumat 13 Juli 2012

Mat 10:16-23

Pada suatu hari Yesus bersabda kepada kedua belas murid-Nya, "Lihat, Aku mengutus kalian seperti domba ke tengah-tengah serigala! Sebab itu hendaklah kalian cerdik seperti ular, dan tulus seperti merpati. Tetapi waspadalah terhadap semua orang. Sebab ada yang akan menyerahkan kalian kepada majelis agama, dan mereka akan menyesah kalian di rumah ibadatnya. Karena Aku kalian akan digiring ke muka para penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kalian, janganlah kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kalian katakan, karena semuanya itu akan dikurniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kalian yang akan berbicara, melainkan Roh Bapamu. Dialah yang akan berbicara dalam dirimu. Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh; demikian pula seorang ayah terhadap anaknya. Anak-anak akan memberontak terhadap orang....

 

PERUTUSAN

Seorang bidan buka praktik untuk menolong ibu-ibu kurang mampu di tempat tinggalnya. Tapi, niat mulia ini tak begitu saja diterima oleh masyarakat sekitarnya. Mereka justru menuduh bidan itu, melalui tempat praktiknya ingin menarik ibu-ibu masuk agamanya. Tuduhan masyarakat itu membuat hati bidan itu sangat kecewa. Tapi kekecewaan itu tidak membuatnya patah semangat malah sebaliknya. Ia berjuang keras untuk menolong setiap pasien yang datang berobat. Hal itu dia lakukan sebagai bukti pada masyarakat bahwa tuduhan mereka padanya salah. Akhirnya, banyak pasien sembuh oleh tangannya yang dingin.

Perjuangan dan pembuktian bidan itu mirip dengan pesan Yesus dalam Injil hari ini. Dalam Injil Yesus berkata: "Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, tetapi jangan takut dan khawatir akan apa yang harus kamu katakan sebab bukan kamu yang berkata-kata melainkan roh Bapalah yang berkata-kata dalam kamu." Pesan ini hendak menyatakan bahwa keadaan yang dialami para murid persis seperti yang diterima oleh Yesus.  Ada perbantahan yaitu ketegangan dengan agama Yahudi, siksaan dari pihak kekaisaran, dan sekaligus ketidakamanan dalam lingkup keluarga sendiri. Keadaan ini  mau mencerminkan apa yang terjadi pada hari kedatangan Yesus yang kedua: parousia.

Kita sadar atas kelanjutan perutusan Yesus yang diserahkan pada kita dengan sikap yang sama, yaitu tanpa rasa takut. Kita juga yakin bahwa perutusan para murid tetap sebagai tanda yang ditolak oleh "dunia", sehingga dibutuhkan keberanian (ular), tanpa memiliki sikap fanatik (merpati). Hendaknya kita selalu bersatu dengan Kristus, sebab perutusan sebagai suatu perjalanan bersama Kristus dan Gereja (SS).

 

Pelita Hati: Perutusan Yesus juga perutusan kita sebagai pengikut-Nya

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar