Minggu, 19 Februari 2012

RENUNGAN HARIAN: Rabu, 22 Februari 2012

RENUNGAN HARIAN: Rabu, 22 Februari 2012

Mat 6 : 1-6; 16 -18

Dalam khotbah di bukit Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, "Hati-hatilah, jangan sampai melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat. Karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong supaya dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi.

Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri di rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu,'Mereka sudah mendapat upahnya.'

Tetapi jika engkau berdoa masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu, dan berdolah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.

Dan apabila kamu berpuasa. Janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu,'Mereka sudah...

 

NILAI TERSEMBUNYI

"Aku selalu berpuasa. Empat jam sehari doa hening. Tengah malam saya bangun untuk berdoa." Demikian cerita seseorang kepada teman-temannya. Apa yang dia katakan memang tampak pada penampilannya; selalu serius, berjalan dengan kepala tertunduk dan agak miring sedikit. Suatu hari, tanpa sengaja seorang teman menyepak kucing kesayangannya. Ia marah besar sampai-sampai semua barang yang ada di sekitarnya jadi sasaran kemarahannya.

Dalam bacaan Injil hari ini, dilukiskan tentang hal berpuasa. Jika berpuasa tidak perlu diperlihatkan kepada orang lain cukup kepada Bapa yang ada di tempat tersembunyi. Puasa itu untuk diamalkan bukan dipamerkan pada orang lain agar dipandang orang benar. Hendaknya puasa kita memiliki wujud nyata terhadap sesama bukan seremonial semata. Bukan sekadar ikut kebiasaan yang ditanamkan tetapi tidak memiliki makna.

Puasa hendaknya menjadi suatu perbuatan yang terpaut pada hati bukan lahiriah saja. Perbuatan yang berakar dalam hati, tidak terikat pada penampilan lahiriah. Allah yang tersembunyi menjadi sumber perbuatan itu, sehingga kita dapat bertahan meskipun mengalami gangguan dan kesulitan. Gangguan dan kesulitan bersumber dari Allah sebagai ujian bagi aplikasi puasa kita masing-masing. Jika kita tidak mampu menghadapinya maka puasa kita masih perlu dipertanyakan, sebaliknya jika kita mampu menghadapinya maka Allah akan makin dekat pada kita. Semoga ... (SKw)

 

Pelita Hati: "Nilai sebuah perbuatan bukan bergantung pada yang lahiriah melainkan pada sikap hati yang baik."

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar