Cinta yang hangat akan Kristus mendorong kita semakin mengikuti Dia. Sebab itu patut kita renungkan bagaimana Ia menghampakan diri. [Konstitusi 1,2.2]
Jumat, 12 Juni 2015
Minggu, 21 Desember 2014
Madah Kemuliaan dalam Liturgi
Madah Kemuliaan dalam Liturgi
Sdr. Emmanuel J. Sembiring
OFMCap.
Artikel kecil ini
saya tulis bagi Saudara dalam semangat berbagi. Mudah-mudahan menambah
informasi kepada Saudara, khususnya dalam rangka persiapan Natal dan perayaan
liturgi umumnya.
Gloria
in excelsis Deo, lagu dari PS 456, PBN dan BETK 444, PMD 233, di beberapa tempat dinyanyikan
sebagai pengganti Madah Kemuliaan
sesudah Kyrie eleison. Alasannya
barangkali agar perayaan Natal lebih meriah dari perayaan biasa, lagu itu amat
populer, dicintai, cocok mencipta suasana, dst. Bila sedikit dicermati ternyata
lagu dalam keempat buku nyanyian itu dimaksudkan sebagai lagu Masa Natal, bukan
bagian Ordinarium. Dengan demikian,
pastilah penyusun buku-buku tersebut tidak merancang lagu “Gloria …” itu akan
dinyanyikan menggantikan Madah Kemuliaan.
Praktek mengganti Madah
Kemuliaan dengan lagu “Gloria …” itu sudah lama berlangsung di Keuskupan Agung
Medan, mungkin pun terjadi di tempat lain. Kebiasaan ini bagi sejumlah orang tidak
menggembirakan, mengingat peraturan yang ada. Perasaan yang sama meliputi
banyak orang bila lagu “Gloria …” tidak menggantikan Madah Kemuliaan yang tiap
Minggu dan pesta telah dinyanyikan. Mana yang benar? Jawaban: ini benar, itu
salah, terkesan rubrikistis yang telah ditinggalkan oleh Konsili Vatikan II.
Konsili berharap agar nilai-nilai rohani yang terbungkus dalam aturan (norma)
liturgi diterangkan kepada umat beriman. Sehubungan dengan Madah Kemuliaan,
Gereja menetapkan norma yang selanjutnya perlu dijelaskan kepada umat misalnya
dalam katekese.
Ketetapan
Resmi Gereja
Madah Kemuliaan yang dimuat
dalam TPE 2005 merupakan teks resmi Indonesia yang diterjemahkan dari bahasa
Latin. Teks ini dapat diberi melodi sesuai dengan musik daerah namun kata-katanya
jangan diubah, ditambah atau dikurangi, tanpa refren (ulangan). Penegasan ini
dinyatakan dalam PUMR No. 53, “Teks madah ini tidak boleh diganti dengan teks
lain”. Penegasan larangan ini bukanlah hal baru dalam Gereja. Paus Pius V telah
menyatakannya pada tahun 1570. Larangan yang telah dipelihara berabad-abad
pastilah memiliki alasan kuat, mendasar dan otentik tentang iman, bukan karena
sikap tertutup Gereja akan perkembangan (pembaruan).
Ketika penegasan ini
disosialisasikan di Indonesia terjadilah pro dan kontra dengan argumen
masing-masing. Beberapa “Madah Kemuliaan” dalam Puji Syukur atau Madah Bakti seyogianya
tidak lagi dipakai, namun masih beredar menunggu kedua buku itu direvisi. Penegasan
PUMR No. 53 itu, perlulah disampaikan kepada umat alasan mendasarnya. Katekese
liturgi!
Lahirnya
dalam Liturgi
Madah Kemuliaan yang resmi
kita kenal sekarang ini, lahir pada masa penganiayaan orang-orang kristen
pertama, abad ke-2. Teks yang luar biasa indah ini (puitis) mengungkapkan
kesaksian iman orang-orang kristen di masa penganiayaan. Teks aslinya digubah
dalam bahasa Yunani, bahasa Gereja waktu itu. Syair awal dikutip dari Injil Luk
2:14, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di
bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya”. Karena itu Madah Kemuliaan
ini juga disebut Hymnus Angelicus
(Madah Malaikat). Terhadap kata-kata malaikat ditambahkan beberapa aklamasi
yang terinspirasi dari Kitab Suci, “Kami memuji Dikau, kami meluhurkan Dikau,
kami menyembah Dikau, kami memuliakan Dikau, kami bersyukur kepada-Mu karena
kemuliaan-Mu yang besar; dan selanjutnya permohonan-permohonan lain, “Ya Tuhan
Allah, Anak Domba Allah, Putra Bapa, yang menghapus dosa dunia …”.
Pada mulanya Madah Kemuliaan
ini bukanlah digunakan dalam Misa melainkan pada akhir doa yang dimulai dari
tengah malam sampai subuh (pagi). Saat ini orang-orang kristen bertemu; mereka
melambungkan nyanyian pujian kepada Kristus seperti kepada Allah. Madah ini
menjadi bagian integral dalam doa pagi orang-orang kristen kuno.
Adalah Paus Telesphorus (128-139) yang mengaturkan pertama kali Madah Malaikat ini dimasukkan ke dalam Perayaan Ekaristi pada
Malam Natal sebelum persiapan persembahan. Ketika teks ini diterjemahkan ke
bahasa Latin oleh St. Hilarius dari Poitiers (sangat mungkin pada tahun 360),
ia menambahkan: Karena hanya Engkaulah
kudus dan bersama dengan Roh Kudus.
Dengan demikian Madah Kemuliaan ini menjadi doksologi trinitaris. Teks resminya
diumumkan oleh Konsili
Laodicea (antara tahun 343-381).
Sampai abad ke-6
Madah Kemuliaan dinyanyikan hanya bila Paus yang memimpin Misa yakni pada Malam
Natal.
Selanjutnya Madah Kemuliaan
diresitir bukan hanya pada Malam Natal, tetapi juga pada hari Minggu (aspek
Paska) dan pesta para Martir (aspek kelahiran baru). Perluasan pemakaian Madah
ini ditetapkan oleh Paus Symmachus (498-514). Ia juga mengizinkan Uskup
meresitirnya segera setelah Kyrie eleison.
Pada abad ke-6 imam hanya bisa meresitirnya pada Malam Paska dan saat tahbisan.
Menjelang akhir abad ke-11 pemakaian Madah Kemulian diperluas lagi untuk
pesta-pesta orang Kudus, tetapi tidak untuk Adven dan Puasa; juga dapat diresitir
oleh imam (bukan lagi hanya pada Paska dan tahbisan). Demikianlah Madah
Kemuliaan menjadi satu bagian dalam Misa seperti sekarang ini kecuali Masa
Puasa dan juga Adven sebab Adven dihayati memiliki aspek puasa.
Pada abad pertengahan menjamur
kreativitas seputar Madah Kemuliaan ini. Misalnya ayat-ayat tertentu dimasukkan
ke dalam teks ini untuk kesempatan khusus, misalnya dalam pesta-pesta Santa
Perawan Maria. Ada penambahan. Ide Madah
itu menjadi kabur. Rubrik liturgi saat itu telah mencatat, bila Madah Kemuliaan
dinyanyikan, baiklah tanpa ada tambahan. Aturan ini tidak ditaati di beberapa
tempat, tambahan pada Madah ini tetap ada sampai Konsili Trente. Sesudah
konsili ini Paus Pius V pada tahun 1570 meminta agar Misale Romawi direvisi.
Pada tahun itu dalam bulla Quo primum
Paus ini melarang ada penambahan teks lain pada Madah Kemuliaan atau
mengubahnya. Jadi, teks dari zaman kristen kuno-lah yang tetap dipakai.
Memuat Rencana Penebus yang
Lahir dan Bangkit
Madah Kemuliaan diyakini memuat
rencana Penebus bagi manusia: Kristus turun ke dunia. Dia menjadi manusia. Dia
naik ke salib dengan tujuan ganda: mengembalikan kemuliaan kepada Bapa-Nya yang
sempat dirusak oleh dosa; mendamaikan manusia dengan Allah dan membawa damai
bagi manusia. Jadi, kemuliaan Allah dan damai bagi manusia merupakan tujuan
seluruh penebusan dan juga tujuan Gereja serta tujuan kita; semuanya dirangkum
dalam Misa. Kita merayakan kurban kudus untuk memuliakan Tuhan serentak memohon
damai bagi kita yakni pengampunan dosa dan rahmat penebusan. Demikianlah isi
doa yang indah ini, Kidung Malaikat yang berkata, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang
mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan
kepada-Nya”.
Atas rencana Penebus itu
disampaikan pujian serentak syukur kepada Bapa surgawi. Kita beri perhatian
utama pada ayat berikut, “Kami bersyukur kepada-Mu, karena kemuliaan-Mu yang
besar”. Umumnya kita bersyukur setelah kebaikan kita terima. Dalam Madah
Kemuliaan terjadi sebaliknya, kita bersyukur agar dapat ambilbagian dalam
kebesaran dan keluhuran Allah, kita bersyukur karena bisa memuji-Nya (bagian
pertama Madah ini).
Pada bagian kedua, pujian
serentak permohonan diarahkan kepada Putra Ilahi. Dia yang adalah Anak Domba
telah menghapus dosa-dosa dunia dengan mengurbankan Diri sehingga damai
diberikan kepada kita. Permohonan ini kita panjatkan tiga kali kepada Tuhan
yang duduk di sisi kanan Bapa. Kita akhiri bagian kedua ini dengan sebuah pujian
kepada Kristus: hanya Dialah yang kudus dan mahatinggi.
Pada akhir (bagian ketiga)
secara singkat disebut Roh Kudus dan secara tepat mengungkapkan hubungan dengan
dua pribadi ilahi (Allah dan Yesus). Jadi, Madah Kemuliaan ini adalah
penghormatan terhadap Tritunggal yang Mahakudus. Dengan menyanyikannya, kita
mengungkapkan sukacita penebusan yaitu kemuliaan bagi Allah dan damai di bumi.
Merangkum apa yang sudah
disebut di atas, menariklah mengutip katekese Paus Benediktus XVI pada tgl 27
Desember 2006. Madah Kemuliaan menjadi bagian liturgi sekarang ini terarah
kepada kelahiran Yesus. Dimasukkan pada awal Perayaan Ekaristi, Madah Kemuliaan
berperan untuk menekankan kontinuitas antara kelahiran dan kematian Kristus,
antara Natal dan Paska, aspek yang tak terpisahkan dari misteri keselamatan.
Kembali
ke tradisi
Natal terarah kepada Paska.
Ajaran ini dimuat dalam Madah Kemuliaan yang sangat dihormati dari zaman
kristen kuno (PUMR No. 53), secara indah memuat pernyataan iman. Para ahli
berpendapat bahwa Madah ini merupakan nyanyian kristen yang paling antik,
paling indah dari madah yang ada, paling populer, dihormati setara dengan
Mazmur, doksologi utama dan teragung; sarat dengan muatan Natal dan Paska yang
keduanya menyatu sebagai jantung iman Katolik. Kesatuan Natal dengan Paska
(disebut juga jantung utama Tahun Liturgi) mengharuskan
liturgi juga mengekspresikan misteri Paska dalam liturgi hari Natal seperti terlihat
dalam bacaan kedua pada Misa tengah
malam, ”Yesus Kristus... menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita
dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat,
kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik (Tit 2:14).
Penjelasan di atas membuat
kita semakin dapat memahami mengapa nyanyian liturgis lebih mengutamakan syair
ketimbang melodi, lebih lagi atas teks resmi (yang baku) seperti Madah
Kemuliaan. Kemeriahan melodi sebagai alasan mengganti Madah Kemuliaan (sesudah Kyrie eleison) dengan lagu lain, kiranya
tidak setara dengan hakekat Madah tersebut. Apa lagi di saat Natal! Awal
masuknya ke dalam Perayaan Ekaristi justru pada Malam Natal. Lupa akan hal ini
membuat kita cenderung memilih suasana meriah yang diiringi dentang lonceng
gereja dan gong. Suasana itu dapat mengaburkan kata-kata Madah Kemuliaan.
Sayang! Mungkin lebih baik kita kembali lagi ke teks tradisional itu, setia
dengan teks resmi. Di dalamnya termuat nilai-nilai rohani baik dari Kitab Suci
maupun dari tradisi serta ajaran resmi Gereja yang menjadi sumber iman kita.
***
Nagahuta, 20 Desember 2014
Senin, 15 Desember 2014
Pesan KWI Menyongsong Tahun Hidup Bakti 2015
Pesan KWI
Menyongsong Tahun Hidup Bakti 2015
“Betapa Indah Panggilan-Mu, Tuhan!”(bdk Mzm 84:2)
Saudara-saudari Umat Beriman, para Imam, Frater, Bruder dan Suster yang terkasih,
Dalam pertemuan dengan para Pemimpin Umum Tarekat Religius di Roma pada tanggal 27-29 November 2013, Paus Fransiskus mencanangkan tahun 2015 sebagai Tahun Hidup Bakti. Pada tahun yang sama Gereja memperingati 50 tahun dua dokumen penting Konsili Vatikan II, yaitu Perfectae Caritatis (Dekret Tentang Hidup Bakti) dan Lumen Gentium (Konstitusi Dogmatis Tentang Umat Allah). Kedua Dokumen ini secara khusus berbicara tentang hidup bakti. Kita juga mengenang dengan rasa syukur Dokumen Konsili Ad Gentes yang berbicara tentang peran khusus komunitas hidup bakti dalam perutusan Gereja. Tahun Hidup Bakti akan dibuka secara resmi pada tanggal 21 November 2014 dan akan ditutup pada tanggal 21 November 2015. Pada tanggal 21 November itu diperingati Santa Perawan Maria Dipersembahkan Kepada Allah. Sepanjang tahun itu seluruh umat diajak untuk berdoa dan merenungkan makna hidup bakti bagi hidup dan tugas perutusan Gereja. Hidup Bakti dipahami sebagai hidup yang dipersembahkan kepada Allah dengan kesetiaan mengikuti dan melaksanakan nasihat-nasihat Injil dalam ketaatan, kemurnian dan kemiskinan. Hidup Bakti merupakan tanda nyata dari cita-cita kesempurnaan hidup kristiani yang ditawarkan Allah kepada seluruh umat beriman.
Makna dan Tujuan Tahun Hidup Bakti
Pencanangan Tahun Hidup Bakti patutlah disyukuri sebagai ajakan kepada seluruh Gereja untuk semakin menyelami makna dan pentingnya pilihan hidup bakti sebagai salah satu bentuk panggilan khusus untuk hidup dan karya pelayanan Gereja. Lebih jauh pencanangan itu dimaksudkan untuk mengobarkan semangat dan cinta putra-putri Gereja agar semakin terbuka, lapang hati dan dengan keberanian iman menjawab panggilan Allah. Tahun Hidup Bakti patutlah dijadikan kesempatan untuk merenung dan membaharui komitmen kesetiaan kepada Tuhan, kepada pelayanan Gereja, kepada pemikiran dan cita-cita dasar pendiri tarekat masing-masing, dan kepada masyarakat pada zaman ini, meskipun ditemui banyak kesulitan dan tantangan. Kesempatan ini sungguh tepat untuk merenungkan kembali bagaimana seluruh umat beriman, khususnya kaum muda, dipanggil Allah untuk mempersembahkan seluruh hidup melalui penghayatan akan nasihat-nasihat Injil demi kemuliaan Allah dan keselamatan sesama serta keutuhan alam ciptaan. Tokoh iman yang patut dijadikan suri-teladan dalam kehidupan demikian adalah Bunda Maria, yang sungguh berserah-diri secara total kepada Allah dengan menyimpan segala perkara iman dalam hatinya dan merenungkannya.
Tujuan mulia dari pencanangan Tahun Hidup Bakti: Pertama, untuk “mengenang dengan penuh syukur masa lalu”. Kendatipun turut mengalami tantangan dari krisis yang melanda dunia dan Gereja, para pemeluk hidup bakti tetap berusaha hidup di dalam pengharapan. Gereja bersyukur karena hidup dan pelayanan tarekat-tarekat hidup bakti tidak didasarkan semata-mata atas kekuatan manusia, tetapi terlebih atas iman dan harapan kepada Allah. “Karena kami mempunyai pengharapan yang demikian, maka kami berani bertindak dengan penuh keberanian” (2Kor 3:12). Diteguhkan oleh sabda Kristus, para pemeluk hidup bakti memperoleh keyakinan untuk turut berucap: “Di dalam Dia, tidak ada yang dapat merampas harapan kita” (bdk. Yoh 16:22). Kedua, untuk “merangkul masa depan dengan harapan”. Pengharapan ini tidak dapat menjauhkan hidup umat beriman dari semangat untuk tetap menjalani hidup yang telah dianugerahkan Allah. Para pemeluk hidup bakti tetap berusaha mengarahkan pandangan kepada Kristus yang hidup mulia dalam kemuliaan surgawi. Ketiga, untuk mendorong para religius khususnya agar “menjalani hidup hari ini dengan penuh semangat.” Semangat hidup dengan penghayatan nilai Injili berhubungan dengan “hidup dalam kasih, persahabatan sejati, dan persatuan yang mendalam.” Tahun Hidup Bakti 2015 akan terpusat pada pewartaan Injil, dengan maksud membantu umat beriman makin memahami makna “indahnya mengikuti Kristus” yang terungkap melalui berbagai bentuk panggilan hidup membiara.
Pemeluk Hidup Bakti dan Peranannya dalam Gereja
Dalam setiap zaman ada pria dan wanita yang karena taat kepada panggilan Bapa dan dorongan Roh Kudus, berani mengikuti Kristus dan mengabdikan diri kepada Allah, dengan memusatkan perhatian pada perkara-perkara Tuhan (bdk. 1 Kor 7:34). Meneladani semangat hidup apostolik, mereka bercita-cita meninggalkan segala sesuatu, agar dengan bantuan Roh Kudus dan kebebasan pribadi melayani Allah dan umat beriman melalui penghayatan hidup bakti. Dengan cara hidup yang khusus, para pemeluk hidup bakti turut-serta menjadikan misteri Allah tetap bersinar dan misi Gereja terlaksana dengan cara yang khas. Itulah makna hidup mereka demi pelayanan umat dan pembaharuan masyarakat.
Hidup Bakti adalah suatu cara hidup khusus bagi mereka yang mengalami sapaan pribadi oleh Allah dan menanggapinya secara khas. Sapaan ini pada hakekatnya adalah sapaan kasih, yang menjadikan seorang religius menjadi teguh, bersemangat dan senantiasa gembira dalam menghayati hidup baktinya. Karena cinta yang diperoleh dari perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus itulah para pemeluk hidup bakti mengalami sentuhan rohani dan terdorong untuk menjadi nabi yang siap menjadi pendengar dan pelaku sabda (bdk. Luk 10: 25-37), dan akhirnya mendorong mereka menghayati panggilan hidup mistik, yang nyata dalam hidup doa yang mendalam, serta pada kepekaaan terhadap tanda-tanda zaman.
Harapan ke Depan
Konferensi Pimpinan Tinggi Antar Religius Indonesia (KOPTARI) sebagai lembaga yang menaungi tarekat-tarekat religius Indonesia telah merencanakan sejumlah hal untuk mengisi Tahun Hidup Bakti. Tema yang dipilih adalah “Mensyukuri dan Memberi Kesaksian tentang Keindahan Mengikuti Kristus sebagai Religius”. Ucapan syukur dan kesaksian itu diungkapkan dan diwujudkan dalam berbagai kegiatan.
Dalam kerjasama dengan Gereja setempat, Tahun Hidup Bakti dapat dilaksanakan dengan berbagai kegiatan untuk mengembangkan rasa syukur dan kesadaran iman atas keluhuran panggilan Allah dalam Gereja. Seluruh umat beriman, bukan hanya para pemeluk hidup bakti kami himbau dengan sangat agar berusaha menanamkan rasa syukur dan kagum atas panggilan suci dengan berpedomankan Sabda Tuhan: “Betapa indah panggilanMu, Tuhan!” Usahakan agar kesaksian hidup Injili dan sukacita sebagai orang-orang yang menjalani panggilan hidup bakti selalu terwujud dalam hidup dan pelayanan sebagai bentuk nyata kesaksian atas cinta kasih Allah.
Keuskupan-keuskupan, paroki-paroki, dan terutama keluarga-keluarga Katolik diharapkan selalu membina kerjasama dengan sekolah-sekolah dan terus-menerus mendorong orang muda katolik dan putra-putri Gereja untuk turut berusaha menumbuh-kembangkan rasa cinta atas panggilan hidup bakti. Jadikanlah keluarga-keluarga sebagai lahan persemaian benih panggilan melalui doa, keteladanan iman dan kepekaan atas panggilan Allah.
Kiranya doa Bunda Allah yang termanis Perawan Maria, yang hidupnya merupakan suri teladan bagi semua orang, para pemeluk hidup bakti dari hari ke hari akan makin berkembang dan membuahkan hasil penyelamatan yang makin berlimpah.
Jakarta, 21 November 2014
KONFERENSI WALIGEREJA INDONESIA,
Mgr. Ignatius Suharyo Mgr. Johannes Pujasumarta
Rabu, 10 Desember 2014
PESTA PANEN SEBAGAI UCAPAN SYUKUR
PESTA PANEN SEBAGAI UCAPAN SYUKUR
1. PENGANTAR
Pesta panen lebih sering
dihubungkan dengan cara hidup orang petani. Pada periode tertentu, para petani
menanam padi dan sesudah sekian bulan akan memamen hasil dari padi tersebut.
Hal yang sama untuk tanaman-tanaman budidaya lainnya. Bahkan tanaman yang tidak
langsung dikelola manusia pun memberikan panen pada waktunya. Misalnya mangga,
durian, dan tumbuhan hutan lainnya. Karena itu pesta panen sering dihubungkan
dengan kehidupan petani di desa.
Akan lain halnya kalau kita
berbicara dengan situasi kehidupan masyarakat di kota, baik kota kecil maupun
kota besar. Di sana tidak ada musim panen berkala seperti yang dialami oleh
para petani di desa. Tetapi tidak berarti bahwa mereka tidak mempunyai sumber
pendapatan. Para pegawai mendapat gaji tetap. Para pekerja buruh mendapat
pengahasilan sesuai dengan kesepakatan dengan majikan mereka. Para pedagang
mempunyai sumber pendapatan sesuai dengan banyaknya hasil penjualan mereka.
Dengan kata lain, orang kota tetap mempunyai sumber pendapatan, yang menjadi
sumber penghidupan mereka, yang diperoleh dengan cara lain daripada orang desa.
Dalam tradisi gereja, pesta
panen adalah tanda ucapan syukur atas segala berkat yang diperoleh umat Allah
dalam hidup mereka sehari-hari. Dan kalau ini merupakan inti dari pesta panen,
maka bukan kapan dan bagaimana sumber pendapatan itu menjadi alasan utama untuk
mengucap syukur kepada Tuhan. Baik masyarakat desa dan kota patut merayakan
pesta panen sebagai kesempatan bersyukur kepada Tuhan.
Berikut ini akan dijelaskan
beberapa hal tentang pesta panen. Pertama, dijelaskan apa dasar pesta panen itu
sesuai dengan pengalaman umat Allah dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Kedua, bagaimana perayaan pesta panen itu dialami oleh manusia zaman sekarang.
Ketiga, bagaimana sikap yang harus dimiliki oleh orang beriman dalam memberi.
Kemudian ditarik beberapa kesimpulan.
2. PESTA PANEN MENURUT KITAB SUCI
Pengalaman umat beriman dari
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru menyampaikan bahwa pesta panen itu
merupakan pesta sangat penting untuk menyampaikan syukur kepada Tuhan atas
segala rahmat yang diterima oleh umat beriman. Hal ini dapat kita lihat dari
kutipan-kutipan Kitab Suci berikut ini.
Janji Allah kepada Abraham
dalam (Kej. 12:1-3) adalah bagian dari keyakinan bangsa Israel tentang
kepemilikan tanah. Tuhan memanggil Abraham dari negeri Ur Kasdim untuk pergi
dan menduduki tanah perjanjian, yaitu tanah Kanaan (kemudian
dikenal sebagai tanah Palestina). Tanah tersebut sering dilukiskan sebagai
tanah yang berlimpah dengan susu dan madu, yang berarti tanah yang kaya, subur
dan produktif. Orang Israel meyakini bahwa tanah perjanjian itu
adalah milik Tuhan yang dipinjamkan kepada mereka untuk dikelola dalam
rangka memenuhi kebutuhan hidup mereka. Karena itulah tanah itu tidak dapat
diperjualbelikan dengan sembarangan, apalagi kepada orang asing.
Setelah peristiwa keluarnya
bangsa Israel dari negeri Mesir, Tuhan mengatur kembali tata cara pengelolaan
tanah itu dan dibakukan oleh Musa untuk menjadi ‘hukum’ yang harus mereka
patuhi, termasuk cara bagaimana mengelola hasil panen dari tanah itu yang
dikaitkan dengan kepatuhan mereka beribadah di hadapan Tuhan.
Dalaam Kitab Keluaran
(34:21-22) dicatat, “Enam harilah lamanya engkau bekerja, tetapi pada hari yang
ketujuh haruslah engkau berhenti, dan dalam musim membajak dan musim menuai
haruslah engkau memelihara hari perhentian juga. Hari raya Tujuh Minggu, yakni
hari raya buah bungaran dari penuaian gandum, haruslah kaurayakan, juga hari
raya pengumpulan hasil pada pergantian tahun.”
Jelas, hidup mereka tidak
terlepas dari iman dan ketaatan mereka kepada Tuhan, termasuk dalam mengatur
musim membajak dan musim menuai (panen). Maka pada musim menuai (panen) mereka
juga harus memelihara hari perhentian yang dikuduskan untuk Tuhan.
Mereka harus merayakan hari raya buah bungaran (buah pertama) dari penuaian gandum sebagai Hari Raya Tujuh
Minggu.
Hasil panen itu mereka jadikan sebagai persembahan
syukur kepada Tuhan, sekaligus sebagai kesaksian iman mereka bahwa segala
sesuatu mereka peroleh dari Tuhan, oleh Tuhan dan untuk Tuhan.
Menurut Kitab Imamat
(23:15-20), "Kemudian kamu harus menghitung, mulai dari hari sesudah sabat
itu, yaitu waktu kamu membawa berkas persembahan unjukan, harus ada genap tujuh
minggu; sampai pada hari sesudah sabat yang ketujuh kamu harus hitung lima
puluh hari; lalu kamu harus mempersembahkan korban sajian yang baru kepada
Tuhan. Dari tempat kediamanmu kamu harus membawa dua buah roti unjukan yang
harus dibuat dari dua persepuluh efa tepung yang terbaik dan yang dibakar
sesudah dicampur dengan ragi sebagai hulu hasil bagi Tuhan. Beserta roti itu
kamu harus mempersembahkan tujuh ekor domba berumur setahun yang tidak bercela
dan seekor lembu jantan muda dan dua ekor domba jantan; semuanya itu haruslah
menjadi korban bakaran bagi Tuhan, serta dengan korban sajiannya dan
korban-korban curahannya, suatu korban api-apian yang baunya menyenangkan bagi
Tuhan. Kemudian kamu harus mempersembahkan seekor kambing jantan sebagai korban
penghapus dosa, dan dua ekor domba yang berumur setahun sebagai korban
keselamatan. Imam harus mengunjukkan semuanya beserta roti hulu hasil itu
sebagai persembahan unjukan di hadapan Tuhan, beserta kedua ekor domba itu.
Semuanya itu haruslah menjadi persembahan kudus bagi Tuhan dan adalah bagian
imam. "
Persembahan syukur dari hasil
panen juga disebut persembahan unjukan, yang mengacu pada kesaksian dan
pembuktian atas iman dan ketaatan mereka kepada Tuhan. Mereka harus menunjukkan
dan memberikan persembahan tersebut kepada Tuhan dengan perantaraan imam di
Kemah Suci. Tuhan memberi kuasa kepada imam-imam untuk menyatakan persembahan
itu layak atau tidak! Semuanya itu haruslah menjadi persembahan kudus bagi
Tuhan dan adalah bagian imam! Uniknya, mereka tidak boleh menghabiskan
semua hasil panen bagi diri mereka sendiri. Mereka juga
harus menyisakannya untuk orang miskin dan orang asing! Dengan kata
lain, hidup mereka bukan hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk
Tuhan dan sesama yang membutuhkan pertolongan. Dalam hal ini, pemahaman tentang
kasih kepada Tuhan (vertikal) dan kasih kepada sesama manusia (horizontal) dapat
dipahami sebagai bentuk salib!
Pesta Panen menurut Kitab
Kisah Para Rasul. Dalam zaman Perjanjian Baru, Hari Raya Tujuh Minggu tersebut
telah menjadi Hari Raya Pentakosta atau Hari Raya Kelimapuluh
(Ibr.: khamisysyim yom). Perayaan itu tetap dilaksanakan. Bahkan orang Yahudi perantauan
dan orang asing yang beragama Yahudi harus datang ke Yerusalem, yang menjadi
pusat perayaan Hari Raya Kelimapuluh. Menurut Kitab Kisah Para Rasul 2: 9-11,
di antara mereka ada yang disebut orang Partia, Media Elam, penduduk
Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir
dan daerah-daerah Libia. Hari Raya Kelimapuluh menunjuk kepada genapnya hasil
pekerjaan, yang dipersembahkan kepada Tuhan. Untuk menentukan mulainya Hari
Raya Kelimapuluh ini, orang Yahudi harus menghitung 7 minggu, dimulai
dari persembahan gandum pertama yang masak, di mana Paskah itu mulai,
sesuai dengan Kitab Imamat 16:9 dan 23:15-17. Demikianlah Hari Raya Kelimapuluh
(Pentakosta) terus dirayakan oleh orang Yahudi sebagai pesta ucapan syukur
atas hasil panen.
Jemaat Kristen mula-mula
menghubungkan Hari Raya Pentakosta dengan peristiwa pencurahan Roh Kudus dan
hari lahirnya gereja (ekklesia). Tuhan Allah di dalam Roh Kudus, melalui
kesaksian/pemberitaan Injil para rasul, juga berpesta panen di dalam
pertobatan 3000 orang yang percaya kepada Yesus Kristus.
3. PESTA PANEN ZAMAN SEKARANG
Dalam Gereja Katolik, pesta
panen sudah dirayakan sejak abad ke-3 Masehi. Di Eropah Tengah dan Utara Pesta
Syukur Panen dirayakan pada musim gugur, pada bulan September. Upacara serupa
terjadi di Israel, Yunani atau di Kekaisaran Romawi pada waktu itu.
Di Jerman Pesta Syukur Panen
dirayakan pada Pesta St. Mikael, 29 September karena St. Mikael dinyatakan
sebagai pelindung Kekaisaran pada waktu itu. Pada Pesta Syukur Panen diadakan
misa, yang disebut Misamikael. Pesta Panen sering dirayakan bersamaan dengan
pesta pelindung gereja.
Di banyak tempat di Eropa,
perayaan Pesta Syukur Panen diadakan bersamaan dengan pesta pelindung gereja,
pesta pelindung paroki, atau pesta pelindung kota. Pesta ini dirayakan dengan
meriah dan penuh sukacita. Hasil panen dibawa ke gereja. Di halaman gereja
disediakan makanan dan minuman yang boleh dinikmati oleh semua orang. Pesta
Syukur Panen ini sering berlangsung tiga sampai empat hari, dari Sabtu sampai
Selasa. Orang makan dan minum banyak. Mereka bahagia. Selain makan dan minum,
mereka juga menari dan membuat banyak permainan. Dari desa ke desa acara ini
berbeda. Pada pesta panen seperti ini, ucapan yang sering muncul adalah
“Terimakasih Tuhan. Terimakasih atas buah bumi dan tangan manusia”. Mereka
bersyukur atas alam yang memberi panen, manusia yang mengerjakan, dan Tuhan
yang memberkati.
Sejak tahun 1972, Konferensi
Uskup Jerman menetapkan hari Minggu pertama di bulan Oktober sebagai tanggal
tetap, tanpa mengungkapkan pengaturan autentik ini untuk semua masyarakat.
"Tahun keselamatan berorientasi sejarah gereja tidak mengenal syukur
panen." Meskipun demikian, kebiasaan mengucap syukur atas panen yang baik
telah lama di banyak komunitas Katolik telah menjadi umum.” Dalam Pesta Syukur
Panen, masyarakat Protestan biasanya merayakan pada hari Minggu setelah Santo
Mikael (September 29).
Di Amerika Serikat,
"Pesta Syukur Panen" yang dirayakan pada Kamis keempat di bulan
November dan merupakan hari libur resmi. Pesta memperingati Pesta Syukur Panen
pertama dari Pilgrim. Secara tradisional, ini adalah keluarga memasak kalkun
untuk dimakan. Selain itu mereka biasanya merayakan persis seperti Negara
Jerman, tetapi Pesta Syukur Panen tidak hanya versi Amerika, Pesta Syukur Panen
setidaknya di AS tanpa latar belakang agama.
Di Kanada, "Pesta Syukur
Panen" dirayakan pada Senin kedua di bulan Oktober, dan pada kenyataannya
sesuai lebih ke pesta panen Eropa dengan latar belakang Kristen.
Pesta ini dirayakan di banyak
negara di seluruh dunia: di Perancis adalah Jour d'Action de rahmat, Belanda -
Oogst di Jepang – Niinamesai, di Amerika Serikat - Thanksgiving Day.
Di Jerman, Erntegaben menghiasi altar, atau dibawa ke altar. Dalam banyak masyarakat, tardisi ini juga terkait dengan aksi solidaritas untuk orang-orang yang membutuhkan. Tanggal 5 Oktober di Berlin komunitas Katolik St Albertus Magnus Gereja di Charlottenburg-Wilmersdorf mengundang semua tamu hormat kami untuk Misa Pesta Syukur Panen yang diadakan dengan acara sarapan khusus.
Di Jerman, Erntegaben menghiasi altar, atau dibawa ke altar. Dalam banyak masyarakat, tardisi ini juga terkait dengan aksi solidaritas untuk orang-orang yang membutuhkan. Tanggal 5 Oktober di Berlin komunitas Katolik St Albertus Magnus Gereja di Charlottenburg-Wilmersdorf mengundang semua tamu hormat kami untuk Misa Pesta Syukur Panen yang diadakan dengan acara sarapan khusus.
Kedekatannya dengan alam
membawa mereka pada kedekatan dengan Sang Sumber Kehidupan, yakni Allah. Hampir
di setiap suku budaya bersyukur seperti bisa kita temukan. Di kalangan
masyarakat Sunda ada upacara “SEREN TAHUN”. Seren Tahun berarti menyerahkan
tahun yang lalu juga tahun yang akan datang. Penyerahan tahun lalu dinyatakan
dengan membawa hasil panen untuk dipersembahkan dan menyerahkan tahun yang akan
datang berarti berharap akan berkat yang lebih baik kepada Hyang Widi, Tuhan
Allah Sang Pencipta.
Hal itu diungkapkan dengan dua
hal : pertama dalam ritual doa ibadat yang mendapat prioritas pertama, keduanya
dalam bentuk persembahan yang akan dibagikan kepada sesama sebagai wujud
sosial. Dengan demikian kita diingatkan bahwa sebagai insan ciptaan Tuhan harus
menghayati dua hal yang utama yakni membangun harmoni relasi dengan Allah
Sang Pencipta (secara vertikal) dan membangun harmoni relasi dengan sesama,
terlebih dengan yang kekurangan (secara horizontal). Semua yang hadir
bergembira dan kemudian makan bersama sebagai wujud kebersamaan dan
persaudaraan.
Dalam tradisi kita Batak Toba
dikenal dengan istilah “GOTILON”. Gotilon dari manggotil berarti memetik,
maksudnya memetik hasil pertanian. Acara ini kini sudah diangkat menjadi
tradisi Gereja setempat. Maka setiap stasi setiap tahun mengadakan pesta
Gotilon tersebut. Setelah para Sintua (pegurus Dewan Stasi) memuntuskan
waktunya maka keputusan itu diumumkan kepada umat.
Pada waktunya, umat akan
membawa pasi yang akan dipersembahkan maupun untuk benih yang akan diberkati.
Hasilnya dipersembahkan sebagai rasa syukur atas panen yang telah ‘digotil’
maupun permohonan berkat untuk masa yang akan datang dengan berkat atas benih
padi yang dibawa. Seperti pada umumnya, pesta memuncak dalam acara makan
bersama. Disitulah terungkap kegembiraan dan rasa sukacita bersama atas segala
berkat dan kasih Tuhan.
Ada hal yang menarik dari
persembahan mereka. Persembahan itu kemudian diserahkan kepada para pengurus
gereja sebagai tanda terima kasih atas bimbingan dan pelayanan mereka terhadap
umatnya.
Entah dimanapun dan oleh
kelompok manapun itu dilakukan tetapi ada hal-hal yang pantas kita simak.
Pertama adalah bahwa sikap bersyukur adalah sikap manusia yang sadar akan
hidupnya yang bergantung pada berkat dan Rahmat dari Allah. Rasa syukur itu
diungkapkan dalam ritus yang biasa dihayati yang merupakan wujud dari bakti
manusia kepada Allah Sang Penciptanya. Itulah yang disebut kesadaran religius.
Kedua adalah bahwa kegembiraan itu semakin besar bila dinikmati bersama atau
dengan berbagi dengan yang lain. Ini wujud dimensi sosialnya. Hal itu semakin
diwujudkan dengan saling berbagi. Hidup kita seharusnya hidup yang selalu
dipenuhi rasa syukur. Orang suci mengatakan bahwa orang yang berbahagia adalah
orang yang bisa selalu bersyukur dalam hidupnya. Dengan demikian ia selalu
mengakui bahwa hidup ini anugerah, hidup ini pemberian dari Allah. Dan
pemberian itu tidak hanya membawa kegembiraan pada dirinya sendiri tetapi disempurnakan
dan diperluas dengan kepedulian berbagi dengan sesama. Marilah kita menjadi
orang-orang yang selalu bersyukur agar makin penuhlah sukacita kita dalam hidup
ini.
4. SEPULUH SIKAP DALAM MEMBERI PERSEMBAHAN
“Allah mengasihi orang yang
memberi dengan sukacita” (2 Kor 9:7b). Semboyan ini merupakan sumbangan penting
untuk mengerti persembahan, termasuk pemberian pada Pesta Panen. Bertolak dari
ungkapan Paulus ini, maka baik kita simak penghayatan orang yang memberi
persembahan dan bagaimana seharusnya sikap kita dalam memberi.
4.1. Memberi dengan Semangat
Apa motivasi orang Katolik
untuk memberi? Memberi adalah suatu kharisma (Rm 12:8), suatu hadiah Allah
pencipta yang melimpahkan kasih karunia-Nya kepada umat-Nya, yang memampukan
mereka memberi dengan murah hati. “Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih
karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala
sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (2 Kor 9:8). Siapa
yang bertemu dengan kasih karunia Tuhan akan diberdayakan untuk memberi dengan
berlimpah. Sebab, ia melihat kekayaan Allah dalam diri Yesus yang menyerahkan
diri-Nya agar kita menjadi kaya oleh karena kemiskinannya (bdk. 2 Kor 8:9).
Orang Katolik yang sudah diperkaya oleh Sang Pencipta dalam Yesus Kristus
semakin meyakini ucapan Yesus bahwa “lebih berbahagia memberi daripada
menerima” (Kis 20:35). Di sini Paulus mengutip ungkapan Yesus yang tidak
diberitahukan dalam Injil-injil. Ungkapan ini oleh penulis untuk Kitab Kisah
Para Rasul dimuat dalam pidato Paulus kepada para penatua di Efesus, dan salah
satu titik beranya adalah pelayanan “membantu orang lemah”. Justru inilah
motivasi orang Katolik untuk memberi dengan semangat. Paulus mempromosikan
persembahannya dengan semangat besar dan kesungguhan bertindak supaya sukses.
Sama seperti dulu, sekarang
juga persembahan hasilnya lumayan besar. Hal itu tidak terjadi begitu saja.
Orang semakin sadar akan arti bersyukur kepada Tuhan. Namun, di lain pihak ada
kekhawatiran umat, apabila memberi banyak maka biaya untuk keperluan hidup
sehari-hari menjadi berkurang. Karena itu mereka hanya memberi sedikit dan
bahkan ada yang memberi hanya sisa-sisa ongkos atau belanja.
4.2. Memberi Berdasarkan Informasi
Informasi persembahan
“dianaktirikan” dalam liturgi ibadat. Para pengurus gereja kurang mempersiapkan
bagian ibadat yang penting ini. Mereka menganggap bahwa umat sudah (kurang lebih)
termotivasi untuk memberi. Untuk apa diberikan waktu dan pikiran untuk
pemberitahuan yang teliti dan menarik perhatian umat yang berkumpul? Jadi,
informasi tentang tujuan persembahan sering tidak disampaikan kepada jemaat
secara baik. Kadang kala informasi terlalu singkat: “Persembahan Hari Minggu
ini ditetapkan untuk renovasi gedung gereja.” Atau terlalu panjang dan bertele-tele,
sehingga membosankan, bahkan menurunkan semangat untuk memberi.
Apabila penyampaian informasi
itu disiapkan dengan baik, pasti jemaat terbuka untuk memberi menurut kemampuan
atau malah lebih dari itu. Camkanlah: keputusan untuk memberi dengan kemurahan,
bukan dengan akal saja, melainkan juga dengan hati! Akal membuka pundi-pundi,
hati menentukan berapa yang diambil dari pundi-pundi itu! Umat memang memberi
tapi tanpa motivasi yang khusus. Alangkah baiknya apabila informasi diterangkan
dengan jelas selama satu-dua menit saja!
4.3. Memberi dengan Sukarela dan Sukacita
Segala pemberian umat
hendaklah dikalukan dengan sukarela, bukan perintah “dari atas” ataupun
paksaan. Dari wajib memberi tidak bertumbuh berkat! Tidak ada juga semacam
pengukur jumlah pemberian tertentu untuk persembahan! Allah yang memberi dengan
berkelimpahan mencurahkan kepercayaannya kepada manusia yang memberi dengan
sukarela dan sukacita. Sebab “Allah mengasihi orang yang memberi dengan
sukacita” (2 Kor 9:7b), tidak dengan segan-segan.
Allah yang mahakaya itu
menghendaki suatu umat yang bersukaria dan bukan yang berwajah murung. Sebab,
barangsiapa menerima berkat yang berlimpah, hendaklah ia mau berbagi dengan
sesama yang berkekurangan dengan sukarela dan sukacita. Untuk itu, sangat
menarik teladan jemaat Makedonia, - yang dianiaya, namun bertahan dalam
penderitaan – yang dengan gembira memberi dengan berkelimpahan. Orang-orang
Kristen Makedonia tidak menganggap partisipasi mereka dalam aksi pengumpulan
sumbangan tersebut sebagai suatu privilege
(hak istimewa) yang perlu dilamar agar boleh ikut serta: “Dengan kerelaan
sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh
kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus”
(2 Kor 8:4). Teladan mereka pantas ditiru!
Dengan singkat dapat dikatakan
bahwa memberi dengan sukacita dan sukarela sebagai jawaban atas pemberian kasih
Allah yang begitu besar itu, adalah motivasi utama bagi umat yang berpatisipasi
dalam kegiatan pemberian persembahan yang dianjurkan kepada mereka.
4.4. Memberi Sesuai dengan Kemampuan
Pemberian kiranya sesuai
dengan kemampuan (2 Kor 8:11-12). Nasiha Paulus kepada jemaat Korintus adalah
“hendaklah kamu masing-masing – sesuai dengan apa yang kamu peroleh –
menyisihkan sesuatu” (1 Kor 16:2). Kerelaan dan kemampuan memberi berpedoman
pada anggaran rumah tangga. Banyak keluarga di Indonesia masih hidup di sekitar
bahkan di bawah garus kemiskinan. Namun, mereka – mengikuti pedoman Paulus –
“menyisihkan sesuatu” untuk kebutuhan gereja. Seorang janda dalam cerita Yesus
memasukkan “segala apa yang ada padanya, segenap nafkahnya” ke dalam peti
persembahan (Mrk 12:44). Sumbangan dari janda yang miskin itu berkenan di
hadapan Tuhan, karena bukan besarnya jumlah pemberian, melainkan sifat
pengorbanan ibu itu yang menentukan.
Di provinsi Papua, penduduk
Kristen, baik di pedalaman pegunungan maupun didaerah pantai, “menyisihkan
sesuatu” (bahan makanan) sebagai persembahan mereka pada ibadah Minggu. Walaupun
kebanyakan orang Kristen Papua hidup di desa terpencil dan sangat miskin, toh
mereka mampu memberi persembahan berupa makanan; di kawasan pegunungan: ubi dan
sayur, di kawasan pantai: sagu, ikan asin dan kelapa. Pemberian-pemberian itu
biasanya diuangkan dan diserahkan kepda pewarta. Terkenal juga dalam umat di
lembah Baliem-Yalimo, apa yang disebut “babi persembahan”. Kalau terlalu banyak
ubi dikumpulkan dalam kebaktian, maka ada anggota yang sanggup membelinya guna
menambunkan “babi persembahan” yang dapat dijual bila sudah gemuk atau
dipotong, umpamanya pada pesta hari ulang tahun anaknya.
Tidak jarang kita dengar ada
dermawan dan penyantun yang sering menyediakan dakan besar untuk beraneka ragam
tujuan umat, tetapi menjadi sombong (bdk. 1 Tim 6:17-19). Mereka mendiktekan
penggunaan dan penyaluran dana yang mereka sumbangkan. Terhadap sikap seperti
ini, Yesus mengingatkan kita untuk tidak mencanangkan pemberian yang kita
berikan di hadapan orang banyak; sebaliknya, hendaklah kita memberi dengan
berpedoman pada: janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan
kananmu (bdk. Mat 6:1-4). Perlu diperhatikan juga bahwa orang-orang Katolik
kaya yang terus-menerus didekati untuk menjadi sponsor, mulai merasa dirinya
diperas dan mulai timbul perasaan “segala sumbangan mewah itu melampaui
kemampuan mereka”. Kiranya pedoman ini menjadi dasar dan berlaku untuk semua
lapisan masyarakat, agar memberi sesuai dengan kemampuan masing-masing.
4.5. Memberi dengan Murah Hati
Kata sifat ini (murah hati)
menggambarkan pemberian dengan berkelimpahan. Anggota-anggota jemaat Makedonia
dan Akhaya juga tergolong di antara mereka yang memberi dengan “melampaui
kemampuan” (2 Kor 8:3, 7; 9:5,11). Paulus mengajak jemaat misinya untuk memberi
dengan murah hati, karena mereka begitu unggul dalam segala hal rohani sehingga
mereka juga unggul dalam hal mendukung pelayanan kasih. Berbeda dengan nasihat
“memberi sesuai dengan kemampuan”, Paulus dengan sekuat tenaga mempromosikan
pengumpulan dana untuk Yerusalem agar jumlahnya lumayan besar. Hal ini sesuai
dengan ucapan Yesus, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, daripadanya
akan banyak dituntut” (Luk 22:48). Jemaat-jemaat Paulus menuruti nasihat
Paulus. Mereka yakin bahwa upaya-upaya dan kesungguhan mengumpulkan sumbangan
bagi orang-orang yang menderita tersebut “membuktikan juga kekayaan kasih
karunia yang telah diterima” (2 Kor 8:2).
Dalam banyak gereja dikenal
persembahan persepuluhan. Dasar teologisnya diambil dari praktik persembahan
yang dilakukan oleh umat Israel dalam Perjanjian Lama. Memberi persepuluhan
sepenuhnya dan dengan tertib menyediakan suatu jumlah uang yang lumayan besar
sambil memungkinkan suatu pelayanan umat yang sungguh baik. Secara rohani, kita
boleh menganggap persembahan persepuluhan sebagai suatu ekspresi iman
kepercayaan yang teguh. Tetapi, itu bukanlah suatu norma untuk kekatolikan dan
bukan pula sesuatu yang dilakukan dengan paksaan. Siapa yang memberi dengan
berkelimpahan akan mengalami berkat Tuhan yang berlimpah. Pendermaannya menjadi
“suatu bukti kemurahan hatinya” (2 Kor 9:2). Sebaliknya, orang yang menggenggam
hartanya secara kikir dan hatinya tidak terbuka untuk menolong sesama akan
senantiasa dicekam oleh “kecemasan” dan “kekhawatiran” akan masa depan.
“Janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai
kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari” (Mat 6:34).
4.6. Memberi dengan Tulus Ikhlas
Memberi dan mengelola dana
dengan tulus ikhlas adalah suatu tuntutan mutlak dalam gereja dan masyarakat. Meskipun
demikian, cara memberi ini tetap menuntut pengelolaan keuangan yang baik.
Pengumpulan dana untuk Yerusalem cukup banyak (2 Kor 8:20-21) dan perlu
dipertanggungjawabkan. Untuk itu, ditugaskan dua orang saudara yang bonafide untuk turut mencegah kecurigaan
yang mungkin timbul dalam jemaat Korintus yang beranggapan bahwa sebagian dari
dana yang terkumpul telah disisihkan untuk kepentingan pribadi Paulus. Kedua
teman seiman itu hendak memproklamasikan bahwa dana yang sudah terkumpul
dikelola dengan tertib. Bagi Paulus, hal ini sangat penting: usahanya harus
dapat dinilai oleh “Tuhan dan manusia”, sehingga tidak ada alasan untuk
mencelanya. Memang, “Allah yang menguji hati kita” (1 Tes 2:4), tetapi juga di
hadapan umat perlu ada pembuktian.
4.7. Memberi dengan Tekun
Untuk dapat memberi dengan
tekun, diperlukan tiga hal: kesungguhan kasih (2 Kor 8:8), kehendak yang bulat
(2 Kor 8:9), dan tekad yang bulat untuk melaksanakan usaha sampai tuntas (2 Kor
8:6,10-11). Pelaksanaan pengumpulan sumbangan yang diprakarsai oleh Paulus
cukup lama macet karena adanya perselisihan dalam jemaat Korintus. Persoalannya
sudah dipecahkan, kegiatan untuk melanjutkan dan menyelesaikan aksi pengumpulan
perlu dimulai kembali. Pada mulanya, kegiatan itu dirancang dengan sangat baik
dan penuh semangat, tetapi lama-kelamaan tertunda dan akhirnya berhenti. Namun,
ketika kasih bergerak (2 Kor 8:24) dengan “perbuatan dan dalam kebenaran” (1
Yoh 3:18), maka kesungguhan memberi akan tepat sasaran. Jikalau ada tekad bulat
untuk mewujudkan apa yang pernah dirancang, maka hasil pun akan dicapai.
Kegiatan pengumpulan sumbangan itu menuntut ketekunan, apalagi karya itu
berlangsung selama kurang lebih 1,5 tahun!
Untuk itu, kita dapat belajar
dari cara Paulus yang sanggup “menghidupkan kembali” aksinya. Meskipun
pengumpulan sumbangan untuk jemaat di Yerusalem sangat lambat, tetapi Paulus
tidak menyerah. Dia menghimbau jemaat-jemaat untuk tidak mengenal lelah dan
melanjutkan aktivitas itu dengan semangat yang semula sambil mengutus beberapa
teman seiman yang ia percayai untuk turut mempercepat pelaksanaan aksi itu!
Orang Katolik yang memberi
dengan tekun tidak usah bingung mengenai perbelanjaan esok hari. Seorang
penyokong yang memberi dengan tetap, tidak akan menghadapi kekurangan, sebab:
“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya
dalam Kristus Yesus” (Filp 4:19). Siapa memberi kepada Allah dengan tekun dan
sukacita akan mendapati bahwa Tuhan tidak membiarkan orang itu hidup dalam
kesukaran. Adapun ketakutan ini, kita diingatkan pada pertanyaan Yesus kepada
murid-murid-Nya, setelah mereka hidup bersama selama tiga tahun. “Ketika Aku
mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu
kekurangan apa-apa?” Jawab mereka, “Suatu pun tidak” (Luk 22:36). Dari
kemurahan Bapa-Nya, Yesus selalu menyediakan kelimpahan. Ribuan orang
dikenyangkan, malah sisa roti masih dua belas bakul penuh (bdk. Mat 14:20).
Tamu-tamu perayaan perkawinan mendapat kira-kira 240 liter anggur kualitas
tinggi untuk pesta di desa Kana itu (bdk. Yoh 2:1, dst). Tanpa Bapa di surga
memberi dengan tekun, hal itu hanya sekedar tugas wajib. Dengan Tuhan kita,
pemberian yang dilakukan dengan tekun akan menjadi salah satu pengalaman orang
Katolik yang berbahagia.
4.8. Memberi Diri Sendiri
Orang-orang Kristen Makedonia
“memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian ... juga kepada
kami” (2 Kor 8:5). Mereka tidak menyubangkan sekedar sesuatu jumlah uang,
“habis perkara”; mereka melibatkan diri sepenuhnya dalam aksi yang mendesak
itu, mereka mengidentifikasikan diri dengan suatu tugas yang erat hubungannya
dengan misi Paulus. Jemaat-jemaat misi menyerahkan dirinya kepada tugas
tersebut sebagai orang Kristen baru yang ingin mengikuti Yesus yang telah
menyerahkan diri kepada manusia yang menderita. Jadi pemberian-pemberian mereka
yang unggul boleh disebut sebagai suatu korban tulen yang terutama diserahkan
kepada Tuhan, kemudian kepada umat seiman di daerah yang jauh, yaitu Yerusalem.
Kesungguhan memberi diri sendiri menjadi suatu teladan yang pantas ditiru oleh
jemaat-jemaat lainnya, khususnya di Korintus. Hasilnya, jauh lebih besar
daripada yang diharapkan.
4.9. Memberi dengan Teratur dan Tertib
Pengumpulan pemberian tidaklah
dilaksanakan Paulus seorang diri. Rasul itu menjalankan misi tersebut bersama dengan
Titus dan dua utusan yang dipilih dan ditugaskan oleh jemaat-jemaat yang
memercayainya. Ketiga teman seniman Paulus itu merupakan utusan-utusan andalan
yang imannya kuat, menjiwai tugas pelayanan kasih dan mandiri dalam upaya
mengawasi pelaksanaannya. Mereka senantiasa waspada agar seluruh urusan yang
berkenaan dengan pengumplan sumbangan itu berlangsung dengan teratur dan
tertib. Oleh karena itu, Paulus memberi suatu gelar atau penghargaan yang
sangat istimewa kepada utusan-utusan jemaat Yunani, yaitu “doksa Tuhan”, “suatu
kemuliaan bagi Kristus” (2 Kor 8:23).
Sekilas, tugas pelayanan
mereka sebenarnya sederhana saja, tetapi diberi suatu kualifikasi rohani yang
luar biasa. Meskipun mereka jemaat biasa, namun mereka setia dan bertanggung
jawab sehingga patu dihargai dengan martabat rohani yang mulia. Kesetiaan dan
rasa tanggung jawab itu mereka lakukan atas dasar prinsip utama: persembahan
yang dipercayakan jemaat merupakan suatu “harta benda” yang harus dihargai.
Sebab itu, pemanfaatan dana-dana tersebut berjalan dengan tertib sehingga tidak
menimbulkan keragu-raguan bagi umat.
4.10. Memberi dengan Ucapan Syukur dan Puji-pujian
“Syukur kepada Allah karena
karunia-Nya yang tak terkatakan itu!” (2 Kor 9:15). Paulus mengakhiri kedua
surat pengumpulan sumbangannya dengan ucapan syukur. Baik para dermawan, maupun
para penerima terdorong untuk mengucap syukur dan terimakasih atas kasih
karunia Allah yang tidak terkatakan. Tetapi, kita melihat juga kenyataan bahwa
syukur sering tanpa tindak lanjut, sehingga tidak menjadi konkret dalam
dedikasi kepada sesama.
Ada satu fenomena yang dapat
kita lihat dalam dunia modern sekarang ini. Manusia tidak puas atas hidup
mereka, karena mereka telah memisahkan pemberian dari Pemberi, yaitu Tuhan.
Siapa yang tidak menghormati Sang Pemberi, tidak menghargai pemberian-Nya.
Karena itu, sangat perlu menghubungkan kembali segala kebajikan yang orang
terima, bahkan sering dengan kelimpahan, dengan Sang Pencipta. Melalui rasa dan
ucapan syukur terwujudlah kontak dengan Pemberi, yaiut Allah dan sesama
manusia. Rupanya sikap berterimakasih kepada Tuhan harus dipelajari ulang,
mulai dengan doa makan sampai sharing
kebutuhan sesama!
Paulus yakin bahwa pelayanan
kasih jemaat Kristen Yunani untuk jemaat Yahudi di Yerusalem turut “melimpahkan
ucapan syukur kepada Allah” (2 Kor 9:12b). Kalau jemaat-jemaat kita sadar bahwa
persembahan mereka mendatangkan puji-pujian akan Tuhan, maka mereka mendahului
apa yang akan dilakukan seluruh ciptaan padamasa eskatologis. Allah menciptakan
kita untuk menjalankan hidup menjadi puji-pujian akan nama-Nya. Siapa yang
memberi dengan motivasi rasa syukur, akan menjalankan hidup yang penuh berkat
dan sukacita yang Tuhan karuniakan kepada-Nya.
Apa yang terjadi dalam
pemberian antara Allah dan manusia, tidak mengikuti logika do ut des, tetapi logika “kami memberi karena Engkau telah beri”.
Inilah dasar dan tujuan ucapan syukur dan terima kasih yang mempermuliakan
anugerah Allah yang tidak terkatakan!
5. KESIMPULAN
Dari uraian di atas kita dapat
menyimpulkan beberapa hal. Pertama, pesta panen adalah tradisi gereja dan
masyarakat yang sudah lama dirayakan. Pesta panen merupakan suatu perayaan
ucapan syukur atas segala anugerah Tuhan kepada manusia.
Kedua, bentuk perayaan pesta
panen bervariasi dari daerah dan zaman yang berbeda. Waktu pelaksanaan pesta
panen berbeda juga sesuai dengan kebiasaan setempat. Tetapi baik di desa,
maupun di kota, baik dulu maupun sekarang inti dari peryaan ini tetap sama,
yaitu bersyukur dan berterimakasih atas pemberian anugerah hidup dan hasil bumi
yang boleh dinikmati manusia.
Ketiga, ada beberapa sikap
yang perlu dalam hal memberi, dan menyampaikan pemberian. Sikap-sikap itu mau
menggambarkan bagaimana penghayatan dan sikap batin seseorang dalam
menyampaikan pemberian dan persembahannya. Sikap yang baik tentu akan
memperoleh hasil yang berlimpah.
Panguruan, 09 September 2014
RP. Herman Nainggolan, OFMCap.