Rabu, 06 Juni 2012

Renungan Harian: Minggu 10 Juni 2012

Renungan Harian: Minggu 10 Juni 2012

Mrk 14:12-16.22-26

Pada hari pertama dari Hari Raya Roti Tidak Beragi, pada waktu orang menyembelih domba Paskah, murid-murid berkata kepada Yesus, "Ke tempat mana Engkau kehendaki kami pergi untuk mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?" Lalu Yesus menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan, "Pergilah ke kota! Di sana kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia, dan katakanlah kepada pemilik rumah yang dimasukinya: Guru berpesan: Di manakah ruangan yang disediakan bagi-Ku untuk makan Paskah bersama dengan murid-murid-Ku? Lalu orang itu akan menunjukkan kepadamu sebuah ruangan yang besar, yang sudah lengkap dan tersedia. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!" Maka berangkatlah kedua murid itu. Setibanya di kota, mereka dapati semua seperti yang..

 

TUBUH KRISTUS

 

Pesta Tubuh dan Darah Kristus bukanlah perayaan yang sangat tua, juga bukan perayaan yang baru. Pesta Tubuh dan Darah Kristus dimulai sekitar abad ke-13. Namun, tidak diketahui dimulai dengan tradisi apa. Ketika itu, tindakan yang sangat populer di kalangan orang Katolik adalah menatap hosti dan piala ketika imam mengangkatnya. Bahkan ada kebiasaan saat itu, bahwa pada hari Minggu, orang berlari dari satu Gereja ke Gereja lain, hanya untuk menatap hosti yang diangkat pada saat konsekrasi. Mereka percaya, jika mereka melihat hosti yang diangkat saat misa, dan pada saat yang sama memanjatkan permohonan, maka permohonan tersebut akan dikabulkan. Mereka tidak menerima komuni. Yang penting bagi mereka adalah melihat hosti yang diangkat di saat misa.

Pada tahun 1800-an, Paus Pius X melakukan reformasi di dalam Gereja. Ia mempopulerkan bahwa anak-anak kecil sudah dapat menerima komuni pertama. Dengan mempopulerkan komuni pertama pada anak-anak, Paus tersebut mengajarkan bahwa ekaristi bukan dimaksudkan hanya untuk dilihat atau ditonton. Tubuh Kristus harus disambut, diterima, dimakan. Sementara Paus Yohanes Paulus II, dalam sebuah dokumen, mengatakan tidak cukuplah hanya melihat atau memandang hosti yang diangkat. Tidak cukup juga hanya menerima Tubuh Kristus. Yang terpenting – kata Paus Yohanes Paulus II – adalah bahwa kita harus menjadi Tubuh Kristus sendiri.

Di mana posisi kita sekarang? Apakah kita sudah puas dengan hanya melihat Yesus? Dapatkah kita melangkah satu langkah lebih jauh? Setelah menerima tubuh Kristus, kita lebih mencintai, lebih rendah hati, berteman dengan orang-orang miskin dan kecil. Dengan begitulah kita dapat berkata, "Saya tidak hanya menerima Tubuh Kristus. Saya telah menjadi Tubuh Kristus sendiri." (DES)

 

Pelita Hati: Ekaristi bukanlah dimaksudkan hanya untuk dilihat atau ditonton melainkan disambut, diterima, dimakan, dan diaplikasikan dalam hidup nyata sehingga kita menjadi Tubuh Kristus sendiri

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Sabtu 9 Juni 2012

Renungan Harian: Sabtu 9 Juni 2012

Mrk 12:38-44

Pada suatu hari Yesus dalam pengajaran-Nya berkata, "Waspadalah terhadap ahli-ahli Taurat. Mereka suka berjalan-jalan dengan  pakaian panjang dan suka menerima penghormatan di pasar. Mereka suka menduduki tempat-tempat terdepan dalam rumah ibadat dan tempat terhormat dalam perjamuan. Mereka mencaplok rumah janda-janda sambil mengelabui orang dengan doa panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat." Pada kali lain sambil duduk berhadapan dengan peti persembahan Yesus memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda miskin. Ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka Yesus memanggil para murid-Nya dan berkata kepada mereka. "Aku berkata kepadamu, Sesungguhnya janda miskin itu memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda itu memberi dari kekurangannya: semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."

 

MENCINTAI DAN MEMBERI

Jika esensi dari kekristenan adalah mencintai, maka esensi mencintai adalah memberi. Karena itu, kita tidak dapat menjadi seorang Kristen tanpa mencintai dan tanpa memberi. Bagaimana mencintai dan memberi itulah pesan Injil hari ini. Pesan Injil ini diambil dari cerita tentang persembahan seorang janda miskin.

Ada tiga pelajaran yang dapat ditarik dari kisah Injil hari ini tentang memberi. Pertama, janda miskin itu memberi dengan diam-diam. Tidak seperti orang-orang kaya di Bait Allah, janda miskin itu memberi dengan diam-diam, tanpa gembar-gembor. Sikap diam janda miskin itu menarik karena kita adalah orang-orang yang suka perhatian. Kedua, janda miskin itu memberi dengan gembira. Dia memberi dengan gembira, tanpa mengomel, tanpa mengharapkan balasan, tanpa mengeluh. Dia tidak mencoba mendramatisir kemiskinannya dalam memberi. Ketiga, janda miskin itu memberi secara total. Orang miskin bukanlah orang yang tidak memberi apa pun. Orang miskin adalah orang yang mempertahankan segala sesuatu. Bukanlah kemiskinan yang terberkati bila kita mempertahankan segala sesuatu. 

Menurut Santo Yohanes dari Salib, di pengadilan terakhir kepada kita akan ditanya seberapa besar kita mencintai sesama. Saat itu yang dilihat bukanlah berapa banyak kita memberi, tetapi berapa banyak kita mempertahankan sesuatu sehingga membatasi kemurahan hati kita. Maka mari kita memberi dengan diam-diam, tanpa gembar-gembor, dengan gembira dan disertai senyum dan secara total, tanpa menghitung-hitung besarnya (DES).

 

Pelita Hati: Berilah sesuatu dengan diam-diam tanpa menggembor-gemborkannya pada orang lain.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Jumat 8 Juni 2012

Renungan Harian: Jumat 8 Juni 2012

Mrk 12:35-37

Pada suatu hari Yesus mengajar di bait Allah, kata-Nya, "Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan, bahwa Mesias adalah anak Daud? Daud sendiri berkata dengan ilham Roh Kudus, "Tuhan telah bersabda kepada Tuanku: Duduklah di sisi kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Jadi Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia sekaligus anaknya?" Orang yang besar jumlahnya mendengarkan Yesus dengan penuh minat.

 

PENGAJARAN YANG MEMBEBASKAN

Mengapa orang-orang mendengarkan Yesus dengan penuh minat? Untuk mengetahuinya kita perlu melihat pengalaman kita sendiri. Pernahkan seseorang datang kepadamu dan berkata: "Engkau hebat!" Karena engkau yakin dia mengatakan dengan tulus, maka engkau mendengarkan perkataannya dengan penuh minat.

Pernahkah terjadi ketika engkau mengatakan hal yang sama pada seseorang, engkau melihat wajah orang tersebut berbinar-binar? Pernahkah kita menyaksikan kerumunan orang yang bergembira ria sambil menari karena mereka bebas dari penindasan diktator atau penindasan orang asing?

Banyak orang mendekati Yesus dan mendengarkan pengajaran-Nya. Penyebabnya karena pengajaran-Nya sungguh membebaskan. Orang banyak terkagum-kagum atas pengajaran-Nya karena Yesus mampu membuat mereka merasa diri mereka berharga dan mulia. Yesus tidak merendahkan mereka. Yesus tidak menunjuk dosa-dosa mereka, tetapi Ia berbicara tentang Tuhan yang Mahapengampun. Dia menerangkan bahwa Tuhan mencintai mereka tanpa syarat. Dia mengajarkan bagaimana membangun relasi satu sama lain (DES)

 

Pelita Hati: Yesus tidak pernah merendahkan dan menunjuk dosa-dosa setiap orang melainkan mengasihinya.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Kamis 7 Juni 2012

Renungan Harian: Kamis 7 Juni 2012

Mrk 12:28b-34

Pada suatu hari datanglah seorang ahli Taurat kepada Yesus, dan bertanya, "Perintah manakah yang paling utama?" Yesus  menjawab, "Perintah yang utama ialah: 'Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita itu Tuhan Yang Esa! Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan perintah yang kedua, ialah: Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.' Tidak ada  perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini." Berkatalah ahli Taurat itu kepada Yesus, "Guru, tepat sekali apa yang Kaukatakan, bahwa Dia itu esa, dan tak ada Allah lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati, dengan segenap pengertian, dan dengan segenap kekuatan serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri, jauh lebih utama daripada semua kurban bakar dan persembahan." Yesus melihat betapa bijaksananya jawaban orang itu. Maka Ia berkata kepadanya, "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah." Dan tak seorang pun masih berani menanyakan sesuatu kepada Yesus.

 

MENGASIHI DAN MENCINTAI SESAMA

Hukum manakah yang paling utama? Ini merupakan pertanyaan yang paling sering disampaikan di dalam agama Yahudi, khususnya di dalam Talmud, komentar-komentar tentang hukum agama Yahudi. Yesus menjawab dengan mengutip Shema, doa Yahudi didaras tiga kali dalam sehari. Cinta akan Tuhan harus menjadi tujuan setiap orang–dengan hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan. Pada titik ini, Yesus dan agama Yahudi sepakat.

Yesus tidak memberi jawaban tunggal. Dengan mengutip Leviticus, Yesus melangkah lebih jauh. Hukum utama dan pertama ditambah dengan sebuah hukum kedua, yakni mengasihi sesama. Hukum ini bukan dua, tetapi satu. Yesus mengidentifikasi cinta kepada Tuhan dengan cinta kepada sesama. Dengan demikian, untuk menunjukkan cinta kepada Tuhan, seseorang harus mencintai sesamanya juga. Demikian pula dalam mencintai sesama, seseorang menunjukkan cinta kepada Tuhan. Kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan.

Kesatuan kedua hukum ini adalah sesuatu yang baru. Umumnya, dalam agama Yahudi dipahami bahwa seseorang dapat mencintai Allah tanpa harus perhatian kepada orang lain dan dirinya sendiri. Demikian pula, seseorang dapat mencintai orang lain tanpa cinta yang besar terhadap Allah. Dengan melangkah lebih jauh, Yesus menyatakan bahwa apa yang diyakini orang Yahudi pada umumnya adalah salah. Tidak ada hukum yang lebih besar daripada hukum cinta tersebut, karena hukum cinta tersebut menyimpulkan semua hukum yang lain (DES).

 

Pelita Hati: Untuk menunjukkan cinta kepada Tuhan, seseorang harus mencintai sesama demikian pula dalam mencintai sesama, seseorang menunjukkan cinta kepada Tuhan.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Senin, 04 Juni 2012

Renungan Harian: Rabu 6 Juni 2012

Renungan Harian: Rabu 6 Juni 2012

Mrk 12:18-27

Pada suatu hari datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya, "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita, 'Jika seorang yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang isteri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya.' Ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang wanita, lalu mati tanpa meninggalkan keturunan. Maka yang kedua mengawini dia, tetapi juga mati tanpa meninggalkan keturunan. Demikian juga yang ketiga. Dan begitulah seterusnya, ketujuh-tujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Akhirnya wanita pun mati. Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami wanita itu? Sebab ketujuh-tujuhnya telah beristerikan dia." Jawab Yesus kepada mereka, "Kalian sesat, justru karena kalian tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab di masa kebangkitan orang mati, orang tidak kawin atau dikawinkan; mereka hidup seperti malaikat di surga. Mengenai kebangkitan orang mati, tidakkah kalian baca dalam kitab Musa, ...

GODAAN

Injil hari ini adalah tentang seorang wanita yang menikah tujuh kali. Semua suaminya berusaha mendapatkan keturunan dari wanita tersebut, tetapi tidak seorang pun berhasil. Pertanyaannya, pada hari kebangkitan siapakah dari ketujuh bersaudara itu yang beristrikan wanita tersebut?

Jawaban Yesus sangat menarik, "Apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga." Kita semua akan menjadi milik Tuhan; bukan suami, istri, orangtua, anak, atau anggota keluarga lain yang dapat memiliki kita lagi. Saat itu merupakan kegembiraan sempurna. Kita tidak membutuhkan orang lain untuk memiliki diri kita, karena diri kita secara total dan sempurna dimiliki oleh Tuhan. Itulah kebahagiaan sempurna. Itulah kegembiraan sempurna. Itulah kedamaian kekal.

Pada titik tertentu, wanita itu (dengan tujuh suami) berpikir bahwa dirinya dikuasai oleh problem-problemnya. Problem-problem tersebut meliputi dirinya. Kita juga menghadapi kesulitan-kesulitan yang sama, tantangan atau masalah yang sangat berat, bahkan lebih dari tujuh kali. Kadang-kadang di dalam kehidupan, kita mungkin berpikir bahwa masalah sedang mematikan kita secara perlahan-lahan.

Jangan pernah terjerumus dalam godaan seperti itu. Karena kita adalah milik Tuhan. Mari kita persembahkan kepada Tuhan semua hal yang kelihatan menekan kita, yang kelihatannya menghancurkan hidup kita. Mari kita menyerahkan kepada Tuhan rasa sakit, kemarahan, kebencian, dan kekhawatiran yang sepertinya mencengkram kita (DES).

 

Pelita Hati: Kita adalah milik Tuhan maka mari kita persembahkan kepada-Nya segala hal yang menekan dan menghancurkan hidup kita

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Minggu, 03 Juni 2012

Renungan Harian: Selasa 5 Juni 2012

Renungan Harian: Selasa 5 Juni 2012

Mrk 12:13-17

Pada waktu itu beberapa orang Farisi dan Herodian disuruh menghadap Yesus, untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya, "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur. Engkau tidak takut kepada siapa pun, sebab Engkau tidak mencari muka, tetapi dengan jujur mengajarkan jalan Allah. Nah, bolehkah kita membayar pajak kepada kaisar atau tidak?" Tetapi Yesus mengetahui kemunafikan mereka, lalu berkata kepada mereka,"Mengapa kalian mencobai Aku? Tunjukkanlah suatu dinar untuk Kulihat!" Mereka menunjukkan sekeping dinar. Lalu Yesus bertanya,"Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka,"Gambar dan tulisan kaisar." Maka Yesus berkata kepada mereka, "Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi...

 

GAMBAR DAN RUPA ALLAH

Ada orang menyampaikan pertanyaan karena mereka tidak tahu dan mereka ingin belajar. Tetapi ada juga orang mengajukan pertanyaan sekalipun mereka tahu jawabannya. Mereka ingin mencari kesalahan dari jawaban yang diberikan. Orang Farisi di dalam Injil bertanya pada Yesus, bukan karena mereka tidak tahu jawabannya. Mereka tahu jawaban tetapi mereka ingin Yesus melakukan kesalahan. Itulah pertanyaan yang bila dijawab akan salah, dan bila tidak dijawab akan salah juga.

Pada masa itu, Romawi menjajah Israel. Karena itu, ada perasaan sentimen terhadap kaum penjajah. Orang Israel merasa dirampok ketika orang Romawi mengutip pajak. Mereka tahu Romawi tidak punya hak melakukan hal itu. Tetapi di sisi lain, ada sekelompok orang dari antara orang Israel yang senang menjadi bagian dari kekaisaran Romawi. Mereka bersedia membayar pajak dan menghormati Romawi. Karena itu, ketika sebuah pertanyaan disampaikan, "Tuhan, apakah kami harus membayar pajak?" Jika Tuhan menjawab ya, kelompok penentang Romawi akan mengejar-Nya. Jika Dia menjawab tidak, maka kelompok pendukung Romawi akan melakukan hal yang sama. Tetapi Tuhan sungguh bijaksana. Tuhan berkata, "Lihatlah pada sebuah dinar. Gambar dan tulisan siapakah ini? Jika gambar Kaisar terdapat pada dinar tersebut, maka dinar tersebut adalah milik Kaisar, maka kembalikanlah pada Kaisar."

Menurut Kitab Kejadian, setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Oleh karena itu, setiap manusia adalah dinar Allah. Sebagai dinar yang membawa gambar Allah, maka kita harus memberi dinar tersebut kepada Allah. Jadi, persembahkanlah dirimu secara total kepada Allah. Tuhan tidak dapat dipuaskan dengan persembahan atau sumbangan. Tuhan hanya dapat dipuaskan ketika gambar Allah yang tertera pada diri kita dikembalikan secara lengkap kepada-Nya tanpa syarat (DES).

 

Pelita Hati: Setiap manusia adalah dinar yang membawa gambar Allah, maka kita harus memberi dinar tersebut kepada Allah.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Renungan Harian: Senin 4 Juni 2012

Renungan Harian: Senin 4 Juni 2012

Mrk 12:1-12

Pada suatu hari Yesus berbicara kepada imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan kaum tua-tua dengan perumpamaan, kata-Nya, "Adalah seorang membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur, dan mendirikan menara jaga.

Kemudian disewakannya kebun anggur itu kepada penggarap-penggarap, lalu ia berangkat ke negeri lain. Ketika sudah tiba musim panen, ia mengutus seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun. Tetapi hamba itu ditangkap dan dipukuli oleh para penggarap lalu disuruh pergi dengan tangan hampa. Kemudian pemilik kebun anggur itu menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang itu mereka pukuli sampai luka kepalanya, dan sangat mereka permalukan. Lalu pemilik itu menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang itu mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul, dan ada yang mereka bunuh. ....

 

MEMBERI HADIAH

Kita biasa memberi hadiah, misalnya pada pesta ulang tahun, pada Valentine day, atau hari ulang tahun perkawinan. Kita akan merasa gembira bila orang yang menerima hadiah itu memakainya. Sebaliknya, kita akan bertanya-tanya bila hadiah yang kita berikan tidak dipakai oleh yang menerimanya. Pertanyaan kita, "Apakah sahabat saya masih suka padaku?" Atau lebih buruk lagi, kita memberi hadiah kepada seseorang, dan kita melihat orang lain yang mengenakannya.  Maka kita akan merasa kecewa, bahkan mungkin marah. Hal itu normal, sebab ketika kita memberi hadiah, kita berharap orang yang kita beri hadiah itu, menggunakan pemberian kita atau sekurang-kurangnya menyimpan dan menghargainya.

Berbeda ketika Tuhan memberi hadiah. Apabila Tuhan memberi sebuah hadiah pada kita umat-Nya, Dia akan marah bila kita menyimpannya. Bahkan Tuhan tidak senang bila kita hanya menyimpan hadiah itu untuk diri kita. Semua pemberian Tuhan dimaksudkan untuk dibagikan pada sesama. Semua pemberian Tuhan dimaksudkan bukan untuk penerima saja melainkan juga untuk orang lain. Kita hanyalah perantara. Kita adalah saluran yang melaluinya Tuhan membagikan hadiah.

Kita telah menerima banyak berkat, tetapi kita tetap terus menimbun hadiah. Mari kita bertanya pada diri kita, "Dari berbagai macam berkat yang telah saya terima entah dari teman-teman atau dari Tuhan, berapa banyak yang saya simpan, dan berapa banyak telah dibagikan?" Tanda orang Kristen sejati adalah ketika kita membagikan setiap hal yang telah kita terima. Ketika kita telah membagikan yang telah kita terima, saat itulah kita dapat berkata bahwa kita  adalah murid Kristus sejati (DES).

 

Pelita Hati:  Tanda orang Kristen sejati adalah ketika kita membagikan setiap hal yang telah kita terima

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.