Minggu, 21 Desember 2014

Madah Kemuliaan dalam Liturgi



Madah Kemuliaan dalam Liturgi


Sdr. Emmanuel J. Sembiring OFMCap.

Artikel kecil ini saya tulis bagi Saudara dalam semangat berbagi. Mudah-mudahan menambah informasi kepada Saudara, khususnya dalam rangka persiapan Natal dan perayaan liturgi umumnya.


Gloria in excelsis Deo, lagu dari PS 456, PBN dan BETK 444, PMD 233, di beberapa tempat dinyanyikan sebagai pengganti Madah Kemuliaan sesudah Kyrie eleison. Alasannya barangkali agar perayaan Natal lebih meriah dari perayaan biasa, lagu itu amat populer, dicintai, cocok mencipta suasana, dst. Bila sedikit dicermati ternyata lagu dalam keempat buku nyanyian itu dimaksudkan sebagai lagu Masa Natal, bukan bagian Ordinarium. Dengan demikian, pastilah penyusun buku-buku tersebut tidak merancang lagu “Gloria …” itu akan dinyanyikan menggantikan Madah Kemuliaan.

Praktek mengganti Madah Kemuliaan dengan lagu “Gloria …” itu sudah lama berlangsung di Keuskupan Agung Medan, mungkin pun terjadi di tempat lain. Kebiasaan ini bagi sejumlah orang tidak menggembirakan, mengingat peraturan yang ada. Perasaan yang sama meliputi banyak orang bila lagu “Gloria …” tidak menggantikan Madah Kemuliaan yang tiap Minggu dan pesta telah dinyanyikan. Mana yang benar? Jawaban: ini benar, itu salah, terkesan rubrikistis yang telah ditinggalkan oleh Konsili Vatikan II. Konsili berharap agar nilai-nilai rohani yang terbungkus dalam aturan (norma) liturgi diterangkan kepada umat beriman. Sehubungan dengan Madah Kemuliaan, Gereja menetapkan norma yang selanjutnya perlu dijelaskan kepada umat misalnya dalam katekese.

Ketetapan Resmi Gereja

Madah Kemuliaan yang dimuat dalam TPE 2005 merupakan teks resmi Indonesia yang diterjemahkan dari bahasa Latin. Teks ini dapat diberi melodi sesuai dengan musik daerah namun kata-katanya jangan diubah, ditambah atau dikurangi, tanpa refren (ulangan). Penegasan ini dinyatakan dalam PUMR No. 53, “Teks madah ini tidak boleh diganti dengan teks lain”. Penegasan larangan ini bukanlah hal baru dalam Gereja. Paus Pius V telah menyatakannya pada tahun 1570. Larangan yang telah dipelihara berabad-abad pastilah memiliki alasan kuat, mendasar dan otentik tentang iman, bukan karena sikap tertutup Gereja akan perkembangan (pembaruan).

Ketika penegasan ini disosialisasikan di Indonesia terjadilah pro dan kontra dengan argumen masing-masing. Beberapa “Madah Kemuliaan” dalam Puji Syukur atau Madah Bakti seyogianya tidak lagi dipakai, namun masih beredar menunggu kedua buku itu direvisi. Penegasan PUMR No. 53 itu, perlulah disampaikan kepada umat alasan mendasarnya. Katekese liturgi!

Lahirnya dalam Liturgi

Madah Kemuliaan yang resmi kita kenal sekarang ini, lahir pada masa penganiayaan orang-orang kristen pertama, abad ke-2. Teks yang luar biasa indah ini (puitis) mengungkapkan kesaksian iman orang-orang kristen di masa penganiayaan. Teks aslinya digubah dalam bahasa Yunani, bahasa Gereja waktu itu. Syair awal dikutip dari Injil Luk 2:14, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya”. Karena itu Madah Kemuliaan ini juga disebut Hymnus Angelicus (Madah Malaikat). Terhadap kata-kata malaikat ditambahkan beberapa aklamasi yang terinspirasi dari Kitab Suci, “Kami memuji Dikau, kami meluhurkan Dikau, kami menyembah Dikau, kami memuliakan Dikau, kami bersyukur kepada-Mu karena kemuliaan-Mu yang besar; dan selanjutnya permohonan-permohonan lain, “Ya Tuhan Allah, Anak Domba Allah, Putra Bapa, yang menghapus dosa dunia …”.

Pada mulanya Madah Kemuliaan ini bukanlah digunakan dalam Misa melainkan pada akhir doa yang dimulai dari tengah malam sampai subuh (pagi). Saat ini orang-orang kristen bertemu; mereka melambungkan nyanyian pujian kepada Kristus seperti kepada Allah. Madah ini menjadi bagian integral dalam doa pagi orang-orang kristen kuno.

Adalah Paus Telesphorus (128-139) yang mengaturkan pertama kali Madah Malaikat ini dimasukkan ke dalam Perayaan Ekaristi pada Malam Natal sebelum persiapan persembahan. Ketika teks ini diterjemahkan ke bahasa Latin oleh St. Hilarius dari Poitiers (sangat mungkin pada tahun 360), ia menambahkan: Karena hanya Engkaulah kudus dan bersama dengan Roh Kudus. Dengan demikian Madah Kemuliaan ini menjadi doksologi trinitaris. Teks resminya diumumkan oleh Konsili Laodicea (antara tahun 343-381).

Sampai abad ke-6 Madah Kemuliaan dinyanyikan hanya bila Paus yang memimpin Misa yakni pada Malam Natal.

Selanjutnya Madah Kemuliaan diresitir bukan hanya pada Malam Natal, tetapi juga pada hari Minggu (aspek Paska) dan pesta para Martir (aspek kelahiran baru). Perluasan pemakaian Madah ini ditetapkan oleh Paus Symmachus (498-514). Ia juga mengizinkan Uskup meresitirnya segera setelah Kyrie eleison. Pada abad ke-6 imam hanya bisa meresitirnya pada Malam Paska dan saat tahbisan. Menjelang akhir abad ke-11 pemakaian Madah Kemulian diperluas lagi untuk pesta-pesta orang Kudus, tetapi tidak untuk Adven dan Puasa; juga dapat diresitir oleh imam (bukan lagi hanya pada Paska dan tahbisan). Demikianlah Madah Kemuliaan menjadi satu bagian dalam Misa seperti sekarang ini kecuali Masa Puasa dan juga Adven sebab Adven dihayati memiliki aspek puasa.

Pada abad pertengahan menjamur kreativitas seputar Madah Kemuliaan ini. Misalnya ayat-ayat tertentu dimasukkan ke dalam teks ini untuk kesempatan khusus, misalnya dalam pesta-pesta Santa Perawan Maria. Ada penambahan.  Ide Madah itu menjadi kabur. Rubrik liturgi saat itu telah mencatat, bila Madah Kemuliaan dinyanyikan, baiklah tanpa ada tambahan. Aturan ini tidak ditaati di beberapa tempat, tambahan pada Madah ini tetap ada sampai Konsili Trente. Sesudah konsili ini Paus Pius V pada tahun 1570 meminta agar Misale Romawi direvisi. Pada tahun itu dalam bulla Quo primum Paus ini melarang ada penambahan teks lain pada Madah Kemuliaan atau mengubahnya. Jadi, teks dari zaman kristen kuno-lah yang tetap dipakai.

Memuat Rencana Penebus yang Lahir dan Bangkit

Madah Kemuliaan diyakini memuat rencana Penebus bagi manusia: Kristus turun ke dunia. Dia menjadi manusia. Dia naik ke salib dengan tujuan ganda: mengembalikan kemuliaan kepada Bapa-Nya yang sempat dirusak oleh dosa; mendamaikan manusia dengan Allah dan membawa damai bagi manusia. Jadi, kemuliaan Allah dan damai bagi manusia merupakan tujuan seluruh penebusan dan juga tujuan Gereja serta tujuan kita; semuanya dirangkum dalam Misa. Kita merayakan kurban kudus untuk memuliakan Tuhan serentak memohon damai bagi kita yakni pengampunan dosa dan rahmat penebusan. Demikianlah isi doa yang indah ini, Kidung Malaikat yang berkata,  “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya”.

Atas rencana Penebus itu disampaikan pujian serentak syukur kepada Bapa surgawi. Kita beri perhatian utama pada ayat berikut, “Kami bersyukur kepada-Mu, karena kemuliaan-Mu yang besar”. Umumnya kita bersyukur setelah kebaikan kita terima. Dalam Madah Kemuliaan terjadi sebaliknya, kita bersyukur agar dapat ambilbagian dalam kebesaran dan keluhuran Allah, kita bersyukur karena bisa memuji-Nya (bagian pertama Madah ini).

Pada bagian kedua, pujian serentak permohonan diarahkan kepada Putra Ilahi. Dia yang adalah Anak Domba telah menghapus dosa-dosa dunia dengan mengurbankan Diri sehingga damai diberikan kepada kita. Permohonan ini kita panjatkan tiga kali kepada Tuhan yang duduk di sisi kanan Bapa. Kita akhiri bagian kedua ini dengan sebuah pujian kepada Kristus: hanya Dialah yang kudus dan mahatinggi.

Pada akhir (bagian ketiga) secara singkat disebut Roh Kudus dan secara tepat mengungkapkan hubungan dengan dua pribadi ilahi (Allah dan Yesus). Jadi, Madah Kemuliaan ini adalah penghormatan terhadap Tritunggal yang Mahakudus. Dengan menyanyikannya, kita mengungkapkan sukacita penebusan yaitu kemuliaan bagi Allah dan damai di bumi.

Merangkum apa yang sudah disebut di atas, menariklah mengutip katekese Paus Benediktus XVI pada tgl 27 Desember 2006. Madah Kemuliaan menjadi bagian liturgi sekarang ini terarah kepada kelahiran Yesus. Dimasukkan pada awal Perayaan Ekaristi, Madah Kemuliaan berperan untuk menekankan kontinuitas antara kelahiran dan kematian Kristus, antara Natal dan Paska, aspek yang tak terpisahkan dari misteri keselamatan.

Kembali ke tradisi

Natal terarah kepada Paska. Ajaran ini dimuat dalam Madah Kemuliaan yang sangat dihormati dari zaman kristen kuno (PUMR No. 53), secara indah memuat pernyataan iman. Para ahli berpendapat bahwa Madah ini merupakan nyanyian kristen yang paling antik, paling indah dari madah yang ada, paling populer, dihormati setara dengan Mazmur, doksologi utama dan teragung; sarat dengan muatan Natal dan Paska yang keduanya menyatu sebagai jantung iman Katolik. Kesatuan Natal dengan Paska (disebut juga jantung utama Tahun Liturgi) mengharuskan liturgi juga mengekspresikan misteri Paska dalam liturgi hari Natal seperti terlihat dalam bacaan kedua pada Misa tengah malam, ”Yesus Kristus... menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik (Tit 2:14).

Penjelasan di atas membuat kita semakin dapat memahami mengapa nyanyian liturgis lebih mengutamakan syair ketimbang melodi, lebih lagi atas teks resmi (yang baku) seperti Madah Kemuliaan. Kemeriahan melodi sebagai alasan mengganti Madah Kemuliaan (sesudah Kyrie eleison) dengan lagu lain, kiranya tidak setara dengan hakekat Madah tersebut. Apa lagi di saat Natal! Awal masuknya ke dalam Perayaan Ekaristi justru pada Malam Natal. Lupa akan hal ini membuat kita cenderung memilih suasana meriah yang diiringi dentang lonceng gereja dan gong. Suasana itu dapat mengaburkan kata-kata Madah Kemuliaan. Sayang! Mungkin lebih baik kita kembali lagi ke teks tradisional itu, setia dengan teks resmi. Di dalamnya termuat nilai-nilai rohani baik dari Kitab Suci maupun dari tradisi serta ajaran resmi Gereja yang menjadi sumber iman kita. ***


Nagahuta, 20 Desember 2014

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar