Sabtu, 25 Januari 2014

Renungan Harian: Senin 27 Januari 2014

Senin 27 Januari 2014

Bacaan I : 2 Sam 5:1-7.10

Mazmur : 89:20.21-22.25-26

Bacaan Injil : Mrk 3:22-30

 

Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: “Ia kerasukan Beelzebul,” dan: “Dengan penghulu setan Ia mengusir setan.” Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: “Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis? Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan, dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan. Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya. Tetapi tidak seorang pun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan. Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal.” Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.

MELIHAT DENGAN HATI

Dalam sandiwara “Fransiskus makan kue bolu” yang pernah kami mainkan saat berada di Seminari Menengah, ada hal yang sangat menarik. Dikatakan bahwa dalam diri manusia terdapat dua pribadi. Yang satu kita tunjukkan kepada orang lain sementara yang lain kita sembunyikan. Pribadi yang kita tunjukkan itu senang berdoa, berpantang dan berpuasa sampai badan kering kerontang, suka melakukan amal dan berkhotbah dengan suara semanis madu. Sementara pribadi yang tersembunyi itu tertawa diam-diam, senang dipuji, mengumpat dan menghina orang lain, bermalas-malasan, serta memberi cap yang kotor terhadap orang lain.

Melalui serangkaian tanda heran dan mukjizat yang dikerjakan Yesus, karya Allah demi kebaikan dan keselamatan manusia ditampilkan. Motivasi terdalam seluruh karya Yesus ialah kasih, yang tidak mungkin dipersatukan dengan kejahatan yang merupakan karya iblis. Celakanya, para lawan Yesus yaitu ahli-ahli Taurat, melihat semua mukjizat Yesus sebagai perbuatan yang dikerjakan dengan kuasa Beelzebul, penghulu setan. Para oposan Yesus selalu melihat perbuatan Yesus yang begitu mengagumkan dari sudut negatif dengan kacamata lalat. Ketika mereka melakukan itu, mereka justru menutup diri terhadap keselamatan.

Kita juga kerap tergoda untuk langsung memberi cap atau tuduhan-tuduhan yang buruk kepada orang lain karena iri hati, benci, dan dendam. Orang yang menyatakan kebenaran kita anggap sebagai penghalang. Prasangka buruk adalah buah bibir setan. (MES)

Pelita Hati: Dalam doa Bapa Kami, kita mengalami keintiman dengan Allah sebagai Bapa yang baik dan benar.

@ Pelita Hati, Penerbit Bina Media Perintis Medan, 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar