Rabu, 04 September 2013

Renungan Harian: Sabtu, 07 September 2013

Renungan Harian: Sabtu, 07 September 2013 

Kol 1:21-23; Luk 6:1-6

Hukum Hanyalah Sarana

            Seorang teman yang berpastoral di Banda Aceh pernah bercerita bahwa gerakan-gerakan karismatik dari pihak gereja-gereja Kristen kadang kala menciptakan kejengkelan pada mereka yang bukan beragama Kristen. Mereka menginjili semua orang tanpa memandang orangnya, dengan mengutip kata-kata Yesus untuk membenarkan diri, seperti: “Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus”. Tindakan seperti ini dapat menciptakan pertentangan dan merusak keharmonisan serta kerukunan antarumat beragama. Hal yang lebih fatal lagi adalah beberapa gereja harus ditutup dan dilarang beribadat.

                Pertentangan yang dialami oleh Yesus dengan orang-orang Farisi dan ahli Taurat bukan terletak pada pewartaan Sabda-Nya, tetapi pada koreksi Yesus terhadap tindakan orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Dalam perikop ini terjadi kesalahpahaman antara Yesus dengan dua kelompok ini. Inti persoalannya adalah Hukum Sabat. Di sini Yesus tidak bermaksud untuk memperkosa hukum Sabat. Ia sebagai Tuhan atas Hukum Sabat sangat menghargai martabat hukum Sabat itu sendiri. Yang dikoreksi oleh Yesus adalah kekakuan mereka dalam melaksanakan hukum sabat itu sendiri. Maka dengan tindakan Yesus ini, Ia ingin memulihkan kembali hukum Musa yang semula. Yang mutlak perlu ditumbuhkan oleh hukum ialah kemungkinan hubungan bebas orang beriman dengan Allahnya. Orang tidak boleh tertekan dalam berkomunikasi dengan Tuhan.

                Ajaran Kitab Suci itu sangat kaya dan dapat memberikan inspirasi, daya kekuatan bagi hidup kita. Maka setiap orang kristiani sangat dianjurkan untuk hidup sesuai dengan Sabda itu sendiri. Dalam bagian lain, Yesus mengatakan, siapa yang mendengar dan melakukan Sabda-Ku, ia menjadi murid-Ku. Warta Kitab Suci tidak boleh dipaksakan kepada orang lain. Sabda itu sendiri yang akan menyentuh, menggerakkan, dan mendorong orang untuk hidup sesuai dengan kehendak Sabda itu. Hendaknya kita tidak mempergunakan warta Sabda Tuhan atau Sabda Tuhan itu sendiri untuk membenarkan diri (MN).

 

Pelita Hati: Sabda Tuhan memberi inspirasi dan menggerakkan orang untuk datang pada-Nya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar