Selasa, 04 Juni 2013

Renungan Harian: Rabu, 05 Juni 2013

Renungan Harian: Rabu, 05 Juni 2013

Tb 3:1-11a.16-17; Mrk 12:18-27 – Pw Santo Bonifasius, Uskup dan Martir

 

Sesat karena Tumpulnya Iman

 

“Orang beriman, bahkan imam, biarawan-biarawati dapat menjadi dangkal dalam pengetahuan, kalau ia tidak tekun merenungkan Sabda Tuhan dalam Terang dan kekuatan Roh

 

“Han kedan, mate lahodi”  artinya “makan memang, mati tidak bawa”, adalah satu istilah yang sering diucapkan orang  pada tahun 80-an di salah satu darerah di NTT (Nusa Tenggara Timur). Terhadap istilah ini muncul banyak penafsiran dan semuanya bergantung pada situasi yang terjadi pada setiap saat. Kalimat sederhana ini entah dimengerti, disadari atau tidak oleh orang yang mengucapkannya tetapi sebenarnya ada satu nilai iman yang terkandung di dalamnya yakni bahwa apa yang terjadi di dunia ini akan berbeda dengan dunia sesudah kematian.

Kisah orang-orang Saduki yang mempertanyakan siapakah suami sah sesudah kebangkitan bagi istri yang telah bersuami tujuh selama hidupnya mau menunjukkan dalam tidaknya iman sesorang akan Tuhan sang pemilik kehidupan dan kematian. Pertanyaan yang disampaikan orang Saduki kepada Yesus berawal dari satu kedangkalan iman akan adanya kebangkitan. Mereka tidak memikirkan alam lain, di mana manusia tidak kawain dan dikawinkan. Pemikiran tentang adanya malaikat Allah tidak masuk dalam pemikiran mereka. Iman mereka begitu tumpul, tidak memiliki ketajaman untuk membedakan yang rohani dan yang jasmani, mana yang kebenaran dan mana yang dugaan. Iman menjadi dangkal, untuk dapat menyelami yang dalam, yang menuntut ketinggian budi atas dasar kemurnian hati. Karena itu, terhadap pertanyaan mereka Yesus memberikan satu jawaban pendek yang bernuansa menyerang ajaran sesat yang mereka sebarkan tentang tidak adanya malaikat Allah, kebangkitan dan kehidupan sesudah kematian. Tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam cerita tetang semak duri bagaimana firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Isak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Artinya Ia melihat Abraham, Isak dan Yakub hidup di hadapan-Nya. Maka kita pun akan berada di hadapan Allah sesudah mati, untuk selama-lamanya.

Bagaimana dengan kita, percayakah kita bahwa Allah akan membangkitkan kita untuk hidup di hadapan-Nya? Atas dasar iman akan adanya kebangkitan, mari kita mengarahkan hati dan pikiran kita kepada Allah dengan berusaha meningkatkan kehidupan rohani melalui berbagai cara  di dalam hidup kita (Dom).

 

Pelita Hati: Maka kita pun akan berada di hadapan Allah sesudah mati, untuk selama-lamanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar