Minggu, 26 Mei 2013

Renungan Harian: Rabu, 29 Mei 2013

Renungan Harian: Rabu, 29 Mei 2013

Sir 36:1.4.5a.10-17; Mrk 10:32-45

Arti Penderitaan

 

                Setiap orang yang diminta untuk memilih salah satu dari dua situasi yakni Penderitaan dan Kebahagiaan secara spontan pasti akan memilih kebahagiaan daripada penderitaan. Ini menandakan bahwa penderitaan itu tidak pernah diinginkan dan diperjuangkan oleh manusia. Mengapa demikian? Dan apakah penderitaan itu sesuatu yang buruk dan harus dihindari manusia?

                Melalui bacaan Injil hari ini, Yesus mau menegaskan apa artinya sebuah penderitaan hidup kita dalam ajaran-Nya yang terkadang sulit diterima orang. Yesus yang meramalkan penderitaan bagi diri sendiri, sampai tiga kali, membuat para murid-Nya bingung dan sulit menerimanya. Pada saat Yesus mengatakan bahwa Ia harus menderita membuat para murid cemas, takut dan hanya berjalan mengikutinya dari belakang. Rupanya para rasul takut, bungkam dan hanya Yesus yang berani untuk menerima penderitaan.

                Sikap Yesus ini mau menunjukkan bahwa ajaran tentang penderitaan dan kerelaan-Nya untuk menerima penderitaan itu bukan karena kehendak-Nya tetapi karena kehendak Bapa-Nya yakni demi keselamatan umat manusia. Penderitaan Yesus merupakan salah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dengan pelayanan-Nya di dunia. Begitu pula dalam hal mengikuti Yesus bukan kemauan dan ambisi pribadi tetapi harus dihasilkan oleh “tarikan” Yesus sendiri.  Salah satu bukti adalah bahwa setelah kedatangan Roh Kudus sikap dan semangat para rasul berubah dengan drastis. Mereka berani tampil keluar, tidak lagi memperhitungkan jerih payah  demi pelayanan umat, tidak takut tantangan, penganiayaan, dan lain sebagainya.

                Semua kita dipanggil oleh Allah untuk berpartisipasi dalam pelayanan tetapi apakah kita juga terbuka kepada Roh Kudus yang akan memperbaharui hidup kita sehingga mau berani menderita demi kebahagiaan sesama? Beranikah kita mau menderita, dicemoohkan karena menegakkan kebenaran dan keadilan? Semoga kita tidak hanya mengandalkan kekuatan kita tetapi membangun sikap pasrah kepada Tuhan sehingga hidup kita menjadi bermakna di hadapan-Nya (Dom).

 

Pelita Hati: Mengikuti Yesus bukanlah kemauan dan ambisi pribadi tetapi harus dihasilkan oleh “tarikan” Yesus sendiri. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar