Kamis, 02 Mei 2013

Menjadi Apakah Anak ini Kelak?

“MENJADI APAKAH ANAK INI KELAK?”
*Fr. Ramses Nainggolan, OFMCap.
   
Catatan Awal

Menurut para Psikolog, proses pembentukan tingkah laku seorang anak dimulai dengan proses imitasi (meniru). Oleh karena itu lingkungan sangat menentukan apakah seorang anak berkembang ke arah yang baik, atau sebaliknya menuju tingkah laku yang kurang baik. Setuju atau tidak, tampaknya proses ini juga menjadi patron dalam proses pembentukan hidup kita dalam persaudaraan. Kita membutuhkan figur-figur teladan, yang dapat mempengaruhi dan mengarahkan para saudara ke arah yang lebih baik, termasuk dalam hal pelayanan.

Ketika diminta membuat tulisan ini, saya tidak mempunyai bayangan akan pelayanan jenis apa yang akan saya tuliskan di sini. Maka saya mencoba menelusuri pengalaman hidup bersama dengan saudara, yang mendorong saya untuk berefleksi dan bertanya diri. Untuk itu saya membukanya dengan pertanyaan: “Menjadi apakah anak ini kelak?”. Pertanyaan ini saya kutip dari ungkapan orang-orang yang menyaksikan keajaiban seputar kelahiran Yohanes Pembaptis (bdk. Luk 1:65-66). Untuk saya saat ini pertanyaan ini mempunyai arti. Saya sadar bahwa saya adalah seorang ‘anak’ dalam persaudaraan ini. Saya perlu  belajar dari pengalaman-pengalaman para saudara, yang barangkali hanya sederhana, tetapi memberi sedikit warna baru dalam hati saya. Pengalaman itulah yang akan saya coba bagikan dalam tulisan ini.

Sederhana namun Indah: sebuah Kisah Sederhana

Sederhana namun indah dan menarik, demikian ungkapan orang yang tidak terlalu suka akan hal-hal yang norak dan menonjol. Cerita ini juga sebenarnya sederhana, namun indah dan menarik perhatian saya. Seorang saudara, yang adalah seorang imam dan berkarya di Paroki mendapat kunjungan dari salah seorang umat dari stasi. Seperti biasa umat/pengurus Gereja yang datang ke paroki tentu membawa sejumlah persoalan (unek-unek) yang sering hanya menambah pekerjaan bagi sang imam. Namun tidak seperti biasa yang terjadi, pastor ini tidak lebih dulu bertanya ini dan itu menyangkut alasan dan tujuan kedatangan sang tamu. Beliau segera mempersilahkan sang tamu duduk di ruang tamu, lalu pergi meninggalkan tamu tersebut. Sebentar kemudian pastor tersebut kembali ke ruang tamu dengan membawa dua gelas teh manis, dan memberikannya kepada umat tersebut. Dari raut wajah sang tamu, tampak bahwa umat tersebut merasa segan, karena ‘menurutnya’ adalah tidak pantas dia dilayani oleh seorang imam. Saya yakin rasa segan itu akan berubah menjadi kekaguman, yang membawa pengaruh dalam hidup orang tersebut.

Untuk saya ini adalah barang langka. Sangat jarang saya temukan pengalaman jenis ini. Tentu penilaian ini belum cukup berdasar. Seperti saya katakan di atas, saya adalah seorang ‘anak’ yang belum banyak mengalami hidup dalam komunitas kita. Mungkin saja hal-hal seperti itu sudah biasa dilakukan oleh saudara-saudara kita di komunitas. Akan tetapi untuk saya ini sesuatu yang baru, sehingga mendorong saya untuk bertanya, apa alasan di balik semua itu. Jawaban yang sederhana dan masuk akal untuk saya: “Ketika kita berkunjung ke stasi atau ke rumah umat, kita selalu dilayani dengan baik. Tidakkah wajar jika kita balas melayani mereka, saat mereka datang ke rumah kita?”

Jawaban ini menarik sekaligus menantang untuk saya. Memang, “membuatkan segelas teh manis”, tampaknya bukan perkara sulit, bahkan sebenarnya sangat mudah dan sederhana. Saking sederhananya, kita sering merasa kurang ‘pantas’ untuk pekerjaan itu. Tokh… kita bisa hanya memberi perintah agar orang lain (mis. karyawati) yang membuatkannya. Saya melihat bahwa di sini bukan terutama alasan membalas perbuatan, tetapi lebih pada nilai yang lebih tinggi “kesanggupan untuk melayani”.  

Sanggup Melayani: Belajar dari Spiritualitas Pelayanan Sang Guru

Saya pernah membaca suatu ungkapan dalam bahasa Inggris bunyinya demikian: “You are what you dress”, kamu adalah apa yang kamu pakai. Memang orang sering menilai orang dari pakaian yang dikenakannya. Pakaian menjadi penanda identitas, karakter, dan status sosial dalam masyarakat. Situasi yang sama berlaku juga untuk kita. Kaum biarawan-biarawati sering disebut dengan kaum berjubah. Jubah adalah pakaian, yang menjadi identitas, yang tampaknya juga menentukan status sosial kita di masyarakat. Jubah mengangkat kita ke tempat yang lebih tinggi, sekurang-kurangnya di mata mereka yang beragama Kristen. Dalam konteks ini mereka tidak mempermasalahkan apakah dia seorang pastor, bruder, frater, atau suster. Untuk mereka semua itu adalah kaum berjubah, yang harus dihormati, dilayani dan diperlakukan dengan baik. Inilah fakta yang tak tersangkalkan dan kita cukup menikmati hal itu. Kita merasa nyaman dan aman, ketika ada orang yang menghormati, melayani dan memberi perhatian untuk kita. 

Dalam Injil Yesus berkata: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Spiritualitas pelayanan Yesus inilah yang menjadi pedoman untuk kita. Kita menyebut diri sebagai orang yang secara khusus mengikuti Kristus, yang datang untuk melayani, bukan untuk dilayani. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan dalam Konstitusi Ordo Kapusin. Dalam Konstitusi dikatakan “Waktu upacara kaul pertama, diberikan jubah religius, juga bila sebelumnya sudah diserahkan pakaian percobaan. …, pakaian yang kita kenakan harus merupakan tanda pengabdian kita kepada Allah dan juga merupakan tanda persaudaraan dina kita ….” (Kons. No. 33). Dengan ini jelas dikatakan bahwa jubah bukan membawa kita ke tempat yang lebih tinggi, sebaliknya membawa ke tempat yang lebih rendah, menjadi seorang pelayan. Jubah adalah pakaian seorang pelayan, bukan pakaian orang yang harus dilayani. Bagi saya contoh kecil yang diberikan seorang saudara dalam cerita di atas menjadi teladan yang pantas ditiru, sebagai gambaran pelayanan seorang saudara berjubah. Pelayanannya tidak muluk-muluk, tapi sederhana dan menyentuh hati.  
   
Catatan Akhir

Suatu ketika menjelang akhir tahun, seorang pembimbing berkata kepada saya: “Coba telusuri kembali pengalamanmu sepanjang tahun ini. Jejak apa yang sudah kau tinggalkan sepanjang tahun, yang berkesan bagi orang-orang di sekitarmu?” Spontan saya berpikir dan mencari hal-hal besar apa yang sudah saya buat sepanjang tahun. Namun hasilnya: “Nihil”. Memang tidak ada hal-hal besar yang sudah saya buat, namun saya yakin bahwa banyak hal yang sudah saya kerjakan dengan tulus dan sepenuh hati.

Tak dapat disangkal, semua orang mengharapkan bahwa ia mampu meninggalkan suatu hal yang berkesan di suatu tempat, dimana ia pernah tinggal. Tak terkecuali saya sendiri. Ada keinginan kita untuk selalu diingat/dikenang dan dikagumi. Akan tetapi seperti dikatakan orang-orang bijak, hal-hal besar dan mengagumkan selalu bermula dari hal-hal kecil, yang sederhana dan memikat. Semoga kita dalam pelayanan mampu memberi daya pikat bagi orang lain, dan akhirnya mampu memikat dan menghantar orang pada kebaikan.

*Fr. Ramses Nainggolan, OFMCap., adalah seorang saudara muda Kapusin Propinsi Medan. Dia juga mahasiswa Post S-1, STFT St. Yohanes, Sinaksak, Pematangsiantar.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar