Rabu, 20 Februari 2013

Renungan Harian: Minggu, 24 Februari 2013 - PRAPASKA II

Renungan Harian: Minggu, 24 Februari 2013  - PRAPASKA II

Kej 15:5-12.17-18; Flp 3:20-4:1; Luk 9:28b-36

Berani menjadi Hina

 

            Gereja pada masa awal diganggu oleh aliran doketisme yang menyatakan bahwa Yesus tak sungguh wafat di kayu salib. Kayu salib dianggap terlalu hina untuk dikaitkan dengan Yesus. Karena itu, pengikut aliran ini menganggap bahwa ada orang lain yang menggantikan peran tersalib di kayu salib.

                Injil hari ini berkisah tentang Yesus dimuliakan di atas gunung. Yesus tampak mulia, bercahaya berkilau-kilauan dan rupa-Nya pun berubah. Peristiwa ini hadir sebelum Ia menjalani masa sengsara dan kematian-Nya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa Yesus sungguh Mesias Putra Allah. Masa sengsara yang akan Ia jalani memang sebuah prosesi yang hina, namun dalam itulah tampak kemuliaan Yesus yang sungguh Anak Manusia dan sungguh Putra Allah. Inilah yang akhirnya dapat mematahkan pandangan aliran doketisme itu.

                Dalam keagungan-Nya Yesus tidak tampil di atas takhta megah yang penuh dengan kemewahan. Ia justru tampil dalam kesederhanaan yang sungguh bersahaja. Dan dalam keadaan ini pulalah kemuliaan-Nya semakin bersemarak. Pantaslah kita bersyukur bahwa Raja yang kita junjung, yakni Yesus Kristus, adalah Raja yang Mulia dalam kesederhanaan-Nya. Sebagai pengikut-Nya pantaslah kita juga meneladani-Nya dalam kesahajaan. Kesederhanaan yang Ia tunjukkan mesti juga menjadi semangat yang kita nyalakan selalu dalam hidup. Dalam masa tobat ini, marilah kita berjuang untuk sungguh menjadi saudara bagi sesama dalam Kasih, bukan malah berlomba untuk meninggikan diri dalam kata dan perbuatan. Abraham, yang kepadanya Allah menjanjikan keturunan dan tanah yang melimpah, tetap berkenan tunduk dan taat pada Allah bahkan mau memberi kurban bagi-Nya (bdk. Kej 15:5-6). Kita pun dalam setiap anugerah yang kita miliki, mesti tetap tampil rendah hati dan tidak lupa bersyukur atas pemberian Tuhan bagi kita (HS).

 

Pelita Hati: Marilah kita berjuang untuk sungguh menjadi saudara bagi sesama dalam Kasih, bukan malah berlomba untuk meninggikan diri dalam kata dan perbuatan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar