Kamis, 17 Januari 2013

Renungan harian: Senin, 21 Januari 2013

Renungan harian: Senin, 21 Januari  2013

Ibr 5:1-10; Mrk 2:18-22

Pembaruan Nilai Puasa

 

Ajaran dan perbuatan puasa bagi orang Farisi tidak sama, bahkan bertentangan dengan pandangan Yesus dan praktik, yang diandaikan nanti akan dilakukan para murid-Nya. Maka Yesus membawa pembaruan.

Orang Farisi senang menjumlahkan doanya, puasanya, perbuatan-perbuatan baiknya untuk meninggikan diri di hadapan Tuhan sebagai orang beragama yang tertib dan rajin. Tuhan tentu harus berkenan kepadanya, dan akan 'jasa-jasanya". Puasa itu suatu ritual, upacara agama, di mana manusia dapat menguji kekuatannya, berlombap-lomba untuk memenangkan penghargaan dari Tuhan. Praktik seperti ini timbul dari latar belakang keagamaan, yang bersemboyan "do ut des": saya memberi sesuatu kepada Tuhan, hingga Ia harus juga memberikan sesuatu... yang kukehendaki! Inilah faham lama, yang justru ingin diakhiri oleh Yesus, yang menginginkan orang menyembah Tuhan dalam roh dan kebenaran, bukan prestasi tetapi penyembahan dalam kerendahan hatilah, yang berkenan kepada Tuhan.

Hidup orang kristiani diarahkan untuk ikut serta dengan kehidupan Yesus. Makna puasa hanya partisipasi dalam peristiwa Yesus. Berpuasa atau tidak bukan tujuan tersendiri, tetapi sarana untuk lebih erat menghayati hidup bersama Yesus. Yesus sebagai pusat hidup: itulah anggur baru dalam kantong yang baru (HN).

 

Pelita Hati: Puasa harus mengantar kita semakin dekat dengan Tuhan dan bukan menonjolkan prestasi diri   sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar