Jumat, 25 Januari 2013

Renungan harian: Selasa, 29 Januari 2013

Renungan harian: Selasa, 29 Januari  2013

Ibr 10:1-10; Mrk 3:31-35

Kebangsaan Sejati

 

Persaudaraan Yesus tidak didasarkan pada darah dan daging, yang akhirnya akan terbatas sekali, juga tidak pada keturunan sama dari satu bangsa, melainkan hanya atas dasar kesetiaan pada kehendak Allah, Bapa kita semua.

Kedudukan tidak menjamin sesuatu ikatan istimewa. Di jalan keselamatan, ibu, sanak saudara belum dibedakan di antara mereka yang duduk di sekeliling Yesus. Ia melihat-lihat di antara mereka, karena mungkin di antara mereka ada yang lebih tepat menyandang sebutan saudara-saudari Yesus, dipandang dalam hubungan dengan Bapa.

 

Beberapa orang merasa bangga, bisa menjalin persaudaraan karena pernikahan dengan keluarga bangsawan, pejabat tinggi? Hartawan juga bisa menambah kedudukan! Betapa mesranya diakui "masih saudara" oleh orang yang terpandang di mata kita. Yesus mengarahkan mata kita pada kebangsawanan sejati yang dari Bapa. Di situ jalannya bukan lewat darah dan keturunan, tetapi inilah suatu yang bisa diusahakan. Orang dapat menjadi saudara-saudari Yesus dengan berbagai semangat dan jiwa dengan-Nya, dengan mengenakan Roh-Nya, yang mengarahkan langkah-langkah pada pelaksanaan kehendak Bapa. Perbuatan lebih berarti daripada kata-kata mesra, kesatuan Roh dalam ikatan cinta dengan Bapa, lebih menentukan daripada suara darah dan daging, yang belum mengangkat jiwa manusia (HN).

 

Pelita Hati: Siapa melakukan kehendak Bapa, itulah anak Allah, saudara Yesus, Sang Putra.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar