Rabu, 26 Desember 2012

Renungan Harian: Sabtu 29 Desember 2012

Renungan Harian: Sabtu 29 Desember 2012

Luk 2:22-35

Ketika genap waktu pentahiran menurut hukum Taurat, Maria dan Yusuf membawa kanak-kanak Yesus ke Yerusalem untuk menyerahkan Dia kepada Tuhan, seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: "Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah." Juga mereka datang untuk mempersembahkan kurban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh hidupnya, yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya, dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan. Atas dorongan Roh Kudus, Simeon datang ke Bait Allah. Ketika...

 

PERSEMBAHAN DIRI

Setiap suku bangsa di dunia ini mengenal tradisi persembahan. Persembahan itu disampaikan kepada ilahi, yang diyakini sebagai pengatur hidup manusia, yang mendatangkan berkat atau malapetaka. Masyarakat animis, membawa persembahan mereka ke tempat-tempat yang keramat, yang diyakini memiliki kekuatan magis. Ritus mesti diikuti dengan teliti. Persembahan yang dibuat secara asal-asalan akan membawa bala. Persembahan kadang diyakini sebagai upaya menenteramkan penguasa alam. Upacara itu biasanya dilakukan oleh tokoh tertentu yang mempunyai karisma untuk mengantarai dunia fana dan dunia baka.

Bangsa Israel juga mempunyai tradisi mempersembahkan buah-buah pertama dari hasil bumi. Bahkan setiap anak sulung mereka mesti dipersembahkan kepada Tuhan. Bangsa itu yakin bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan dan mesti dikembalikan kepada-Nya. Lukas menceritakan perihal Yesus yang dipersembahkan di kenisah untuk menegaskan kedudukan dan peranan Yesus sebagai pembaru kehidupan religius. Simeon melihat dalam diri Yesus Kristus terang bagi bangsa-bangsa dan kebangkitan bagi seluruh umat Israel. Tapi, Yesus juga sekaligus akan menjadi tanda perbantahan. Berhadapan dengan Yesus, orang mesti menentukan sikapnya: menerima atau menolak, dan keselamatan bergantung dari keputusan yang diambilnya.

Pada masa muda-Nya, Yesus dipersembahkan di kenisah. Pada akhir hidup-Nya, Ia akan mempersembahkan diri di kayu salib sebagai kurban pelunas atas dosa manusia. Persembahan diri Kristus senantiasa dihadirkan dalam Ekaristi, kurban keselamatan kita. Bersama dengan kurban Kristus kita juga mempersatukan kurban kita sebagai tanda dan kepercayaan akan kepemilikan dan pemeliharaan Allah atas diri kita. Sejauh mana persembahan diri kita merupakan buah persatuan kita dengan Tuhan? (FS).

 

Pelita Hati: Keselamatan kita bergantung dari keputusan yang kita ambil masing-masing

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar