Rabu, 26 Desember 2012

Renungan Harian: Jumat 28 Desember 2012

Renungan Harian: Jumat 28 Desember 2012

Mat 2:13-18

Setelah orang-orang majus yang mengunjungi Bayi Yesus di Betlehem itu pulang, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi. Malaikat itu berkata, "Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya! Larilah ke Mesir, dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Raja Herodes akan mencari Anak itu untuk dibunuh." Maka Yusuf pun bangunlah. Malam itu juga diambilnya Anak itu serta ibu-Nya, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana sampai Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan lewat nabi-Nya: "Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku." Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah dipedayakan oleh orang-orang majus itu,sangat marahlah ia. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu. Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh Nabi Yeremia: Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat memilukan; Rahel menangisi anak-anaknya, dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.

 

HATI HERODES

Mass media mengisahkan nasib pahit yang dialami sejumlah pemimpin dunia yang telah berkuasa selama puluhan tahun. Mereka telah mengakibatkan penderitaan bagi banyak orang dengan menggunakan kesempatan selama berkuasa untuk memperkaya diri dan keluarganya serta membangun dinasti yang sulit digoyang. Masyarakat yang menjadi korban kelaliman para penguasa itu tidak ingin memperpanjang nasib malang. Mereka mengadakan perlawanan, demonstrasi, dan pemberontakan. Injil mengisahkan kegelisahan dan kegeraman hati Herodes. Berita tentang kelahiran Yesus membuatnya gelisah, cemas, dan terancam. Herodes ingin segera menyingkirkan dan menghabisi calon yang dianggap bakal jadi saingan yang merusak dinastinya. Ia sama sekali tidak mengerti kerajaan apa yang diperjuangkan oleh Yesus. Herodes menumpas siapa saja yang dianggap sebagai lawan termasuk anak-anak di bawah usia dua tahun. Baginya, nyawa manusia tak ada bandingannya dengan takhtanya.

Hati gelap Herodes kerap juga mewarnai hidup kita. Kita bukan membela kebaikan bersama, tetapi keinginan pribadi. Kita kerap kalap dan gelisah karena kehadiran orang lain. Andaikan kita tergolong pejuang kebenaran dan kebaikan, kita tidak akan terusik oleh kehadiran orang lain (FS).

 

Pelita Hati: Kita kerap kalap dan gelisah karena kehadiran orang lain.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar