Sabtu, 10 November 2012

Renungan Harian: Selasa 13 Nopember 2012

Renungan Harian: Selasa 13 Nopember 2012

Luk 17:7-10

Yesus bersabda kepada para murid,"Siapa di antaramu yang mempunyai seorang hamba, yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu waktu ia pulang dari ladang: Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai aku selesai makan dan minum!  Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena ia telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikianlah juga kalian. Apabila kalian telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kalian berkata: Kami ini hamba-hamba tak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan."

Tuan dan hamba

Dalam masa Perjanjian Lama dan juga pada masa Yesus, hubungan antara tuan dengan hamba sungguh merupakan hubungan ketergantungan yang sangat ketat: seorang hamba bergantung total pada tuannya dalam segala hal. Karena itu, seluruh hidup hamba melekat seutuhnya hanya pada tuannya.

Dalam dua ayat, yang mendahului Injil hari ini (17: 5-6) Yesus berbicara mengenai iman. Inti iman yang kita akui, bagaikan hubungan hamba dengan tuan tadi, yakni relasi ketergantungan total. Sebagaimana seorang hamba terhadap tuannya, demikian pula segenap diri kita bergantung total pada Tuhan yang kita imani. Segala karya yang kita kerjakan dapat berjalan melulu karena Dia. Dia memberi kita pikiran untuk merencanakan dan kesehatan serta kekuatan untuk melaksanakannya dengan baik. Karena itu, bila kita mengerjakan sesuatu dengan baik, kita harus tetap sadar akan ketergantungan diri kita pada Tuhan: tanpa Dia kita tak dapat berbuat apa pun. Jadi, tak ada alasan untuk merasa diri 'berguna', atau berbangga, apalagi sombong, atas yang kita lakukan karena semua itu berkat kuasa Tuhan. Diriku baru 'berguna, berarti', bila aku yakin dan menghayati bahwa diriku tak berarti di hadapan Tuhan.

Godaan terbesar yang mengancam manusia dengan segala pengetahuannya yang semakin canggih ialah merasa diri begitu mampu. Hal ini membuat manusia tak sadar bahwa kemampuan yang ada pada dirinya itu bersumber dari kebenaran dasar  bahwa dirinya telah diciptakan Allah dari tidak ada menjadi ada. Karena itu, manusia mesti bergantung total pada PENCIPTAnya (MS).

 

Pelita Hati: Hanya pada Tuhan hatiku tenang.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar