Selasa, 13 November 2012

Renungan Harian: Sabtu 17 Nopember 2012

Renungan Harian: Sabtu 17 Nopember 2012

Luk 18:1-8

Pada suatu ketika Yesus menceritakan suatu perumpamaan kepada murid-murid-Nya untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemunya. Ia berkata, "Di suatu kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapa pun. Di kota itu ada pula seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati siapa pun, namun karena janda ini menyusahkan daku, baiklah aku membenarkan dia, supaya ia jangan terus-menerus datang dan akhirnya menyerang aku." Lalu Yesus berkata, "Camkanlah perkataan hakim yang lalim itu! Bukankah Allah akan membenarkan para pilihan-Nya, yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera menolong mereka. Akan tetapi jika Anak Manusia datang, adakah Ia menemukan iman di bumi ini?"

 

Berdoa dengan tidak jemu-jemu

Jika sepintas dibaca Injil hari ini dapat membuat orang tersandung: sepertinya Yesus menghargai hakim jahat itu, yang tak takut pada Allah dan tak menghormati siapa pun. Hal itu sama sekali tidak benar, sebab Yesus tak mungkin menghargai yang jahat. Mari kita coba mencermatinya. Perikop ini merupakan suatu perumpamaan, yang diambil Yesus dari hidup sehari-hari. Perumpamaan diberikan untuk menyampaikan suatu pesan penting. Hal itu dengan jelas dikatakan dalam teks: 'untuk menegaskan bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu'. Tokoh yang mau diikuti dalam perumpamaan ini bukanlah hakim yang jahat itu, melainkan janda miskin dengan sikapnya: berkemauan keras, tak mau putus asa dalam usaha memperoleh kebahagiaannya, meskipun harus menghadapi orang-orang yang jahat. Dengan itu Yesus mau memesankan: sebagai orang beriman kita mencari kebahagiaan kita dengan berdoa. Maka dalam berdoa itu, manusia harus mempunyai kerinduan yang kuat, tidak bosan-bosan memohon dengan penuh penyerahan diri.

Sering terjadi bahwa manusia memohon kepada Tuhan seolah 'menuntut': bila permohonannya tidak dikabulkan pada waktu dan seperti yang dikehendakinya, maka ia mulai beralih dari Tuhan.  Atau malah menuduh: Tuhan tidak adil. Sebagai pemohon sepatutnya kita rendah hati, tekun dan penuh penyerahan diri. Dengan demikian, Tuhan akan menganugerahkan kepada kita kebahagiaan menurut cara dan kebijaksanaan-Nya sendiri, yang sering di luar dugaan kita. Sebab kenyataan membuktikan bahwa sering kuperoleh kebahagiaan yang besar dalam bentuk dan cara yang selama ini tidak pernah kudoakan, kumohonkan (MS).

 

Pelita Hati: Meminta dengan sikap berserah diri.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar