Senin, 26 November 2012

Renungan Harian: Rabu 28 Nopember 2012

Renungan Harian: Rabu 28 Nopember 2012

Luk 21: 12-19

Pada waktu itu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Akan datang harinya kalian ditangkap dan dianiaya. Karena nama-Ku kalian akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat, dimasukkan ke dalam penjara, dan dihadapkan kepada raja-raja dan para penguasa. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetap teguhlah di dalam hatimu, jangan kalian memikirkan lebih dahulu pembelaanmu, Aku sendirilah yang akan memberi kalian kata-kata hikmat, sehingga kalian tak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Dan kalian akan diserahkan juga oleh orangtuamu, saudara-saudaramu, ....

 

Bersaksi dalam derita

Segala derita, kesusahan, secara normal tidak dicari, tidak didambakan oleh manusia yang normal. Kita merindukan ketenteraman, kedamaian, dan kesejahteraan. Namun, dalam kenyataan hidup, malah kebalikannya yang sering kita alami. Kita menghindari kesusahan, namun tanpa kita undang derita itu datang dan selalu hadir dalam perjalanan hidup kita. Oleh karena itu, kalau memang itu suatu keharusan, maka kita perlu mengambil sikap terhadapnya.

Dalam Injil hari ini Yesus mengajak kita untuk memanfaatkan kenyataan derita itu sebagai kesempatan untuk bersaksi. Kita ambil contoh misalnya, saya sedang menderita penyakit yang menurut dokter tak dapat disembuhkan. Apa yang dapat disaksikan dalam derita itu, bagaimana saya dapat bersaksi? Pertama-tama dapat dikatakan: bila saya sungguh berusaha dengan tabah menerima kenyataan itu dan tetap makan dan minum dengan gembira hati, termasuk obat serta 'pesan-pesan' yang dianjurkan dokter, maka pengalaman derita itu telah kumanfaatkan untuk memberi kesaksian bahwa hidup itu sungguh berharga.  Dan ditujukan untuk hidup lain yang jauh lebih berharga dan mulia. Karena begitu berharga, maka harus kupelihara dengan baik, entah bagaimanapun kondisinya, atau sesingkat apa pun (menurut pengetahuan para ahli). Lalu saya juga memberi kesaksian bahwa hidup itu ada di tangan Tuhan. Artinya, walau dokter mengatakan bahwa penyakit saya tidak dapat disembuhkan dan mungkin sudah 'divonis beberapa bulan lagi', (begitulah menurut apa yang dia tahu) tapi dengan sikap saya tadi kuberi kesaksian bahwa hidupku bukan di tangan siapa pun, termasuk dokter yang paling ahli, tapi di tangan Tuhan.

Sikap dan kesaksian seperti itu dapat kumiliki berdasarkan kepercayaan saya pada Dia yang menderita dengan hebatnya di jalan salib-Nya bahkan sampai wafat. Bukan masalah suka-tidak suka, ini kehendak Bapa, maka diterima-Nya dengan tulus: tidak berontak, tidak bersungut... maka kepala serdadu berkata: "Sungguh Dia ini Anak Allah!" (MS).

 

Pelita Hati: Rahmat baru ditawarkan dalam setiap peristiwa.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar