Senin, 05 November 2012

Renungan Harian: Minggu 4 Nopember 2012

Renungan Harian: Minggu 4 Nopember 2012

Mrk 12:28b-34

Pada suatu hari datanglah seorang ahli Taurat kepada Yesus, dan bertanya, "Perintah manakah yang paling utama?" Yesus menjawab, "Perintah yang utama ialah: 'Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita itu Tuhan yang esa! Kasihanilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatanmu. Dan perintah yang kedua, ialah: Kasihilah sesamamu sepertidirimu sendiri.' Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini. Berkatalah ahli Taurat itu kepada Yesus, "Guru, tepat sekali apa yang Kaukatakan, bahwa Dia itu esa, dan tak ada Allah lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati, dengan segenap pengertian, dan dengan segenap kekuatan serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri, jauh lebih utama daripada semua kurban bakar dan persembahan." Yesus melihat betapa bijaksananya jawaban orang itu. Maka Ia berkata kepadanya, "Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah." Dan tak seorang pun masih berani menanyakan sesuatu kepada Yesus.

 

PERINTAH KASIH

Apakah kamu termasuk kelompok manusia yang selalu mencintai? Pertanyaan ini sering atau bahkan selalu terusik di hati dan pikiran banyak orang bahkan mungkin kita salah satu di antaranya. Secara teori kita atau bahkan orang banyak akan menjawab dengan mengatakan, ya, saya termasuk bagian dari kelompok manusia yang selalu mencintai. Namun, dalam praktiknya hal itu tidaklah selalu gampang diwujudkan.

Di mana-mana orang selalu mencari cinta, karena setiap orang yakin bahwa cinta dapat menyelamatkan dunia. Dengan cinta hidup akan lebih bermakna dan berharga. Namun demikian, betapa sedikit orang yang memahami apa makna cinta sesungguhnya dan bagaimana cinta itu tumbuh dalam hati manusia. Cinta itu bersumber dari kesadaran. Bila kamu  telah mampu menyadari orang lain dan diri sendiri, kamu  akan mengetahui apa makna cinta. Kamu akan sampai pada budi dan nurani yang waspada, bening, peka. Cinta yang lahir dari kepekaan mempunyai bentuk yang tidak bisa diperkirakan karena ia menanggapi realitas konkret.

Keluarga dilihat atau dipahami sebagai paguyuban yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Keluarga katolik dilihat dan dipahami menjadi basis pendidikan iman dan sekaligus menjadi unsur terkecil dalam Gereja. Hal ini berarti bahwa dalam pendidikan keluarga katolik inilah hendaknya terjadi proses pendidikan iman bagi seluruh anggota keluarga, khususnya penyadaran diri akan keberadaan dan perutusannya sebagai anggota Gereja Katolik, baik keterlibatannya dalam mengembangkan Gereja itu sendiri maupun dalam masyarakat di sekitarnya (MM).

 

Pelita Hati: Cinta itu bersumber dari kesadaran

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar