Rabu, 21 November 2012

Renungan Harian: Kamis 22 Nopember 2012

Renungan Harian: Kamis 22 Nopember 2012

Luk 19:41-44

Pada waktu itu, ketika Yesus mendekati Yerusalem dan melihat kota itu, Ia menangisinya, kata-Nya, "Wahai Yerusalem, alangkah baiknya andaikan pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, musuhmu mengelilingi engkau dengan kubu, lalu mengepung dan menghimpit engkau dari segala jurusan. Dan mereka akan membinasakan dikau beserta semua pendudukmu. Tembokmu akan dirobohkan dan tiada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain. Sebab engkau tidak mengetahui saat Allah melewati engkau."

 

Yesus menangisi Yerusalem

Sebagai manusia yang normal dengan emosi-emosi-Nya, Yesus menangis; Ia menangisi Yerusalem. Mengapa Yesus menangisinya? Ia menangisi Yerusalem pertama-tama, sebab Yerusalem tak mengetahui saat Allah melawat Yerusalem, malah Yesus ditolak dan dibunuh di Yerusalem tidak lama sesudah Yesus menangisinya. Kemudian, Yerusalem akan dihancurkan sebagai kota kebanggaan Israel dengan serangan tentara Romawi thn 70 AD di bawah pimpinan Jenderal Titus. Akan tetapi, kehancuran Yerusalem yang paling utama bukanlah kehancuran materiil, tapi kehancuran rohani. Yerusalem kehilangan peranannya sebagai pusat keagamaan (kerohanian) dan kota zaman mendatang. Yerusalem tidak lagi kota yang penuh kedamaian, seperti arti kata itu, namun menjadi kota penuh pertentangan, bahkan sampai sekarang Yerusalem tak pernah lepas dari peperangan, percekcokan...'betapa baiknya, jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu', demikian isi tangisan Yesus.

Yerusalem (baca: penghuni Yerusalem) tidak mengerti bahwa Raja Damai telah datang mengunjunginya, karena itu Yesus mereka gantung pada salib. Namun, sebagai Raja Damai, dari salib-Nya Yesus mendambakan damai dengan berkata: Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang dilakukannya. Dalam menangis, menderita, mati-Nya Yesus tidak mengingat diri-Nya, tapi demi kebahagiaan segenap manusia dengan memperdamaikannya kembali dengan Bapa.

Dalam golongan masyarat tertentu ada kebiasaan, melarang anak kecil menangis, apalagi anak laki-laki. Kini disadari bahwa menangis itu bukan sesuatu yang terlarang, malah baik pada waktunya. Apakah Anda pernah menangis? Bila pernah, apa penyebabnya dan demi siapa Anda menangis? (MS).

 

Pelita Hati: Bila ingin menangis, menangislah seperti Dia

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar