Senin, 26 November 2012

Renungan Harian: Jumat 30 Nopember 2012

Renungan Harian: Jumat 30 Nopember 2012

Mat 4:18-22

Pada suatu hari, ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka itu penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Yesus. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

 

Menjadi Penjala manusia

Dengan mempergunakan kata yang sama, penjala, beberapa hal yang menarik dapat kita lihat dalam usaha Yesus memanggil para pengikut-Nya yang pertama, termasuk Andreas, yang kita pestakan pada hari ini. Pertama-tama dapat kita lihat, rasanya dengan tetap jadi penjala, para pengikut Yesus itu, termasuk Andreas, tidak dicabut dari akar hidup yang sudah lama dilakoninya. Selama ini, sebagai penjala ikan, Andreas giat bekerja mencari dan mengumpulkan ikan  dari laut yang dalam dan luas, demi kesejahteraannya dan keluarganya. Dengan menjadi penjala manusia, Andreas harus giat bekerja: mencari dan mengumpulkan manusia ke dekat Tuhan. 

Tapi dengan menjadi penjala manusia, ada yang baru, suatu peningkatan dalam tugasnya sebagai penjala. Andreas memang suka yang baru, peningkatan: tadinya dia murid Yohanes Pembaptis. Ketika ditunjuk yang baru, yang lebih tinggi, maka ia mengikuti yang baru itu, yakni Yesus. Apanya yang baru? Kalau menjala ikan, ikan-ikan yang jadi korban demi kebahagiaan penjala, sedangkan sebagai penjala manusia, penjalanya harus berkorban demi kepentingan/kebahagiaan manusia yang dikumpulkannya. Kita tahu di kemudian hari, Andreas mengorbankan hidupnya demi orang-orang lain dengan kerelaan disalibkan dengan salib X, yang kemudian dikenal dengan sebutan salib Andreas.

Dengan menjadi pengikut Kristus, kita semua bertugas menjadi penjala manusia lewat hidup kita yang diwarnai oleh kasih. Bila kehadiran kita di antara orang-orang lain diwarnai oleh kasih, baik dalam kata, sikap dan dalam perbuatan, maka manusia lain akan tertarik untuk berkumpul di sekitar Tuhan tanpa merasa diri dipaksa. Untuk itu, sering dituntut dari kita kerelaan untuk berkorban dalam aneka macam bentuk (MS).

 

Pelita Hati: Marilah kita saling 'menjala'!

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar