Jumat, 26 Oktober 2012

Renungan Harian: Senin 29 Oktober 2012

Renungan Harian: Senin 29 Oktober 2012

Luk 13:10-17

Pada suatu hari Sabat Yesus mengajar dalam salah satu rumah ibadat.

Di situ ada seorang wanita yang telah delapan belas tahun dirasuk roh.

Ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak. Ketika Yesus melihat wanita itu dipanggil-Nyalah dia. Lalu Yesus berkata,"Hai ibu, penyakitmu telah sembuh." Kemudian wanita itu ditumpangi-Nya tangan, dan seketika itu juga ia berdiri tegak dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat itu gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat. Lalu ia berkata kepada orang banyak, "Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat." Tetapi...

CINTA MENDASARI HUKUM

Beragama dan beriman berbeda satu sama lain. Orang beragama belum tentu beriman, sebaliknya orang beriman belum tentu beragama. Alangkah indahnya jika beragama sekaligus beriman! Apa yang terjadi akhir-akhir ini perihal kekerasan agama yang dilakukan oleh oknum atau kelompok tertentu cukup menarik dan memprihatinkan. Atas nama agama menyakiti orang lain itulah yang terjadi, entah itu disadari sepenuhnya oleh pelaku atau tidak, atau pelaku hanya sekadar 'wayang' yang dimainkan oleh dalang tertentu. 

Sabda Yesus hari ini mengkritik orang-orang munafik, di mana orang berpegang teguh pada peraturan tanpa dijiwai oleh iman dan cinta kasih. Menurut hukum taurat, pada hari Sabat setiap orang harus istirahat dari kerja. Maka ketika Yesus menyembuhkan pada hari Sabat, kepala rumah ibadat itu gusar. Namun, Yesus sering menentang hukum yang demikian itu dengan alasan bahwa hukum yang menekan hidup tidak dikehendaki Tuhan. Inilah usaha Yesus untuk melepaskan ikatan yang membelenggu manusia. Nilai keselamatan lebih tinggi daripada hukum, karena itu manusia harus dilepaskan dari belenggu ikatan hukum. Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat. Dialah yang menetapkan hari Sabat untuk menghidupkan dan membina hubungan mulia antara Tuhan dan manusia.

Kita semua mungkin mengakui diri sebagai umat beriman, namun apakah menghayati iman dengan benar masih merupakan pertanyaan. Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, sehingga hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan yang utama adalah perintah untuk saling mengasihi satu sama lain. Cinta kasih mendasari aneka peraturan dan kebijakan atau tata tertib, sekaligus menjadi sasaran pelaksanaan peraturan, kebijakan atau tata tertib. Dengan kata lain, cinta kasih mengatasi dan mendasari aneka peraturan, kebijakan, dan tata tertib (MM).

 

Pelita Hati: Kehendak Tuhan yang utama adalah perintah untuk saling mengasihi satu sama lain.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar