Minggu, 21 Oktober 2012

Renungan Harian: Selasa 23 Oktober 2012

Renungan Harian: Selasa 23 Oktober 2012

Luk 12:35-38

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala. Hendaklah kalian seperti orang yang menanti-nantikan tuannya pulang dari pesta nikah, supaya jika tuannya datang dan mengetuk pintu, segera dapat dibukakan pintu. Berbaha-gialah hamba, yang didapati tuannya sedang berjaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu: 'Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilahkan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka. Dan apabila ia datang di tengah malam atau pada hari dinihari, dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah para hamba itu."

SIAGA DAN SETIA MENANTI-NYA

Yesus mengajarkan kepada para murid agar dalam menantikan kedatangan Tuhan hendaklah selalu waspada, siap siaga untuk bergerak dan bertindak menjalankan setiap tugas perutusan. Tidak hanya itu, Yesus juga meminta murid-murid untuk selalu menyalakan "pelita". Artinya, supaya mereka memiliki arah dan pegangan yang dapat digunakan untuk menerangi kegelapan di waktu malam atau menghadapi tantangan dan kesulitan hidup. Itulah orang bijaksana yang hidupnya dapat diandalkan dan dipercayai. Ketika Tuhan datang dan mengetuk pintu segera dibukakan bagi-Nya. Kesiapsiagaan dilambangkan sebagai pinggang yang selalu berikat.

Hamba-hamba yang siap sedia, setia, penuh tanggung jawab, dan rela berkurban disebut yang berbahagia. Mengapa? Karena tuan yang disambut kedatangannya adalah tuan yang istimewa, tuan yang jauh lebih besar dari segala tuan-tuan yang ada. Karena tuan yang satu ini setelah menyaksikan hambanya dengan gembira hati berkenan menempatkan diri sebagai hamba yang mengikat pinggangnya dan melayani para hambanya dengan penuh sukacita menikmati makanannya. Sangat membahagiakan. Tuan yang seharusnya dilayani, dihormati, dan ditaati justru berkenan memerankan diri sebagai hamba. Itulah tuan yang sangat murah hati; tuan yang begitu mudah tersentuh hatinya oleh perbuatan baik hambanya yang sebetulnya telah menjadi kewajiban mereka. Di dalam suasana hidup semacam itu, hubungan hamba-tuan tidak terasa lagi. Yang dialami adalah relasi personal, relasi dua pihak yang saling mengasihi, memperhatikan, dan melayani.

Tuan mana yang begitu murah hati, yang begitu besar kasihnya, kalau bukan Tuhan kita sendiri, bukan? Karena itu, sebagai murid Tuhan, kita hendaknya selalu siaga dan setia mengikuti Yesus di dalam perjalanan-Nya (MM).

 

Pelita Hati: Sebagai murid Tuhan, kita hendaknya selalu siaga dan setia mengikuti Yesus di dalam perjalanan-Nya.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar