Minggu, 21 Oktober 2012

Renungan Harian: Rabu 24 Oktober 2012

Renungan Harian: Rabu 24 Oktober 2012

Luk 12:39-48

Pada suatu ketika berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya, "Camkanlah ini baik-baik! Jika tuan rumah tahu pukul berapa pencuri akan datang, ia tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Hendaklah kalian juga siap-sedia. Karena Anak Manusia akan datang pada saat yang tidak kalian sangka-sangka." Petrus bertanya, "Tuhan, kami sajakah yang Kaumaksud dengan perumpamaan ini ataukah juga semua orang?" Tuhan menjawab, "Siapakah pengurus rumah yang setia dan bijaksana yang akan diangkat oleh tuannya menjadi kepala atas semua hambanya untuk membagikan makanan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba yang didapati tuannya sedang melakukan tugasnya, ketika tuan itu datang. Aku berkata kepadamu: Sungguh., tuan itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Tetapi...

HIDUP: PERSIAPAN UNTUK MATI

Seorang atlet (bulu tangkis, voli, sepak bola, dsb.) bertanding hanya untuk beberapa menit atau beberapa jam, tetapi mereka selama berbulan-bulan mempersiapkan diri. Seorang petinju setelah berlaga di ring tinju selama 10 atau 12 ronde x 3 menit (30 menit atau 36 menit) baru boleh berlaga lagi paling cepat setelah tiga bulan. Selama tiga bulan tersebut seluruh waktu dimanfaatkan untuk penyegaran kembali alias persiapan. Persiapan atau kesiap-siagaan memang penting sekali dan mutlak dilaksanakan jika orang mau sukses dalam 'pertandingan' atau 'penampilan'. Kiranya yang harus bersiap-siap tidak hanya para atlet saja, melainkan kita semua.

Pesan Injil saat ini memberi peringatan bagi kita semua bahwa masing-masing dari kita sewaktu-waktu, kapan saja dan di mana saja, dapat meninggal dunia alias dipanggil Tuhan. Hal itu sebagaimana sering terjadi masa kini, entah karena kecelakaan lalu lintas, serangan jantung, bencana alam, dst. Siapkah kita jika sewaktu-waktu dipanggil Tuhan? Takutkah kita jika sewaktu-waktu dipanggil Tuhan? Jika kita senantiasa hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan, maka kita tidak takut jika sewaktu-waktu dipanggil Tuhan dan siap sedia kapan saja maupun di mana saja. Hidup ini merupakan persiapan untuk mati, belajar persiapan untuk ujian atau 'menjadi orang' yang kelak dapat berfungsi dalam karya penyelamatan dunia. Mati adalah peralihan hidup dari dunia ini ke dunia yang lain atau 'perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan'. Maka tidak ada alasan untuk takut mati jika dalam hidup sehari-hari kita terbiasa 'bergaul dan berjumpa dengan Tuhan', dalam kesibukan mengurus hal-hal kecil dan sederhana sampai besar dan berbelit-belit. Dengan kata lain, 'hidup sebagai persiapan untuk mati' berarti mampu 'menemukan Tuhan dalam segala sesuatu' atau 'menghayati segala sesuatu dalam Tuhan' (MM).

 

Pelita Hati: Mati adalah peralihan hidup dari dunia ini ke dunia yang lain atau 'perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan'.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar