Jumat, 05 Oktober 2012

Renungan Harian: Minggu 7 Oktober 2012

Renungan Harian: Minggu 7 Oktober 2012

Mrk 10:2-12

Sekali peristiwa datanglah orang-orang Farisi hendak mencobai Yesus. Mereka bertanya kepada-Nya, "Bolehkah seorang suami menceraikan istrinya?" Tetapi Yesus menjawab kepada mereka, "Apa perintah Musa kepadamu?" Jawab mereka, "Musa memberi izin untuk menceraikan istrinya dengan membuat surat cerai." Lalu Yesus berkata kepada mereka, "Karena ketegaran hatimulah Musa menulis perintah itu untukmu. Sebab pada awal dunia Allah menjadikan manusia laki-laki dan perempuan; karena itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya, dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia." Setelah tiba di rumah, para murid bertanya pula tentang hal itu kepada Yesus. Lalu Yesus berkata kepada mereka, "Barangsiapa menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap istrinya itu. Dan jika istri menceraikan suaminya lalu kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah." Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menjamah mereka. Tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Melihat itu, Yesus marah dan berkata kepada mereka,...

Setia Selamanya

Hidup adalah anugerah. Tapi bagi banyak orang khususnya yang telah berkeluarga, hidup sering terasa sebagai musibah. Katanya hidup ini indah, tetapi yang terasa hanyalah bebannya yang tak pernah berkesudahan. Namun, bagaimanapun beratnya beban hidup itu mesti dijalani dan disyukuri.

Cerita tentang suka dan duka hidup berkeluarga tak bisa habis diurai dalam lembaran yang ada di dunia ini. Namun, justru dalam suasana seperti itulah perkawinan mendapat maknanya yang paling dalam.

"Apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia." Sabda Yesus ini hanya dapat dimengerti dan dipahami dalam konteks iman. Lepas dari iman dan tanggung jawab nilai dibalik ungkapan ini akan kehilangan makna. Lewat ungkapan Yesus ini, mau dijelaskan bahwa janganlah kita mengejar kebahagiaan palsu dengan bersandar pada kesenangan nafsu semu, status sosial dan tinggi rendahnya kedudukan. Dampak dari pengejaran akan kebahagiaan palsu itu adalah munculnya sikap melulu mementingkan diri sendiri, memburu kenikmatan badani, keserakahan, kesombongan, kepelitan, kekerasan, dan penindasan. Dan bila disadari kebahagiaan seperti ini hanya bersifat temporal dan terbatas waktunya. Yesus mengajak pasangan suami istri menikmati kebahagiaan abadi. Kebahagiaan abadi itu hanya dapat dibangun dengan kemauan saling berbagi dan mengerti perasaan pasangan hidup (MES).

 

Pelita Hati: Menjadi tua itu pasti, tetapi menjadi bijaksana adalah pilihan. Itu artinya butuh perjuangan dan iman yang teguh.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar