Selasa, 18 September 2012

Renungan Harian: Sabtu 22 September 2012

Renungan Harian: Sabtu 22 September 2012

Luk 8:4-15

Banyak orang datang berbondong-bondong dari kota-kota sekitar kepada Yesus. Maka Yesus berkata dalam suatu perumpamaan, "Adalah seorang penabur keluar menaburkan benih. Waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak-injak orang dan dimakan burung-burung di udara sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan tumbuh sebentar, lalu layu karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, sehingga terhimpit sampai mati oleh semak-semak yang tumbuh bersama-sama. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, lalu tumbuh dan berbuah seratus kali lipat." Sesudah itu Yesus berseru, "Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah mendengar." Para murid menanyakan kepada Yesus maksud perumpamaan itu. Yesus menjawab, "Kalian diberi kurnia mengetahui Kerajaan Allah, tetapi hal itu diwartakan kepada orang lain.

 

LAHAN YANG SUBUR

Kehidupan para petani bergantung pada cuaca serta hasil pertanian. Situasi itu membuat mereka selalu mengharapkan cuaca yang baik selesai menanam agar tanaman tumbuh dan berkembang serta membuahkan hasil yang baik. Selain itu, mereka juga mengharapkan panen yang baik dengan harga yang mahal. Namun kenyataannya, harga sering tidak menentu, kadang-kadang melambung tinggi dan bahkan sering anjlok sama sekali. Kendati demikian, mereka tidak pernah berhenti mengolah tanah dan menanaminya dengan harapan bahwa kelak akan mendapat cuaca dan harga yang baik.

Derita petani ini agak mirip dengan Injil hari ini. Dalam Injil Penginjil Lukas menceritakan kisah penabur dengan lebih menonjolkan kesulitan-kesulitan yang dapat mengganggu pertumbuhan benih tersebut di lahan hati manusia. Kesulitan itu ialah bahwa hati manusia sangat mudah dikuasai oleh kejahatan, sehingga Sabda Allah tidak mendapat tempat. Manusia tidak tahan menghadapi cobaan, sehingga Sabda itu layu dan mati saat godaan datang. Hati manusia gampang tergiur oleh kuasa dan kenikmatan dunia, sehingga kenikmatan dan harta kekayaan menghimpit Sabda itu dan tidak sampai membuahkan hasil yang matang. Namun, walau bahaya kegagalan besar, benih tetap ditaburkan dengan harapan bahwa benih Sabda Allah akan menemukan tanah yang subur dan mendapat penghargaan yang tinggi dari orang yang mendengarkannya.

Perumpamaan ini mengajak kita untuk menyiapkan hati menjadi lahan yang subur bagi pertumbuhan Sabda Allah serta tidak gampang putus asa bila menghadapi masalah dan kegagalan demi kegagalan dalam kehidupan ini. Sebab, lahan yang subur akan membuahkan kesabaran (AP).

 

Pelita Hati: Hati manusia gampang tergiur oleh kuasa dan kenikmatan dunia, sehingga kenikmatan dan harta kekayaan menghimpit Sabda itu dan tidak sampai membuahkan hasil yang matang.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar