Selasa, 04 September 2012

Renungan Harian: Minggu 9 September 2012

Renungan Harian: Minggu 9 September 2012

Mrk 7:31-37

Pada waktu itu Yesus meninggalkan daerah Tirus, dan lewat Sidon pergi ke Danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang tuli dan gagap dan memohon supaya Yesus meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Maka Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian. Kemudian Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya, "Effata," artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu, dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang, dan berkata, "Ia menjadikan segala-galanya baik! Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berbicara."

Agar tidak Tuli (secara) Rohani

Dalam Injil dikisahkan bagaimana Yesus menyembuhkan seorang yang tuli dan gagap bicara. Dia hanyalah salah satu dari begitu banyak orang yang menderita tuna runggu. Ada banyak orang memiliki telinga dengan sehat, tetapi mereka tidak mampu mendengar karena tidak mau mendengarkan. Mendengar dan mendengarkan adalah aktifitas yang sama tetapi berbeda. Persamaannya, keduanya menerima bunyi atau suara yang sampai di telinga. Perbedaannya, mendengar hanya sampai di telinga saja, tidak sampai ke dalam hati. Sedangkan mendengarkan, suara yang sampai di telinga diresapkan dalam hati. Dengan mendengarkan seseorang sungguh memberi hati kepada orang yang didengarkannya.

Hidup keluarga akan menjadi lebih baik kalau dalam seluruh anggota keluarga saling mendengarkan. Berbicara dan mendengarkan secara tepat akan sangat menolong setiap anggota keluarga untuk saling mengungkapkan isi hati, pengalaman, dan perasaan satu sama lain. Di sana masing-masing orang berusaha untuk mendengarkan apa yang dikatakan dan dirasakan oleh teman bicara kita. Anak harus mendengarkan orangtua, dan orangtua juga mendengarkan anak-anaknya. Seorang siswa harus mendengarkan gurunya, dan guru juga harus mendengarkan muridnya.

            Kalau hari ini Yesus menyembuhkan orang tuli sehingga bisa mendengar kembali, kita pun mohon supaya disembuhkan tapi bukan dari ketulian fisik melainkan dari ketulian rohani, agar kita semakin mampu mendengarkan sesama. Karena itu, kita perlu melatih seni dalam mendengarkan ini. Kita bermohon semoga Tuhan memberikan kita kemampuan dan kesabaran untuk bisa mendengarkan orang lain. Semoga! (BS).

 

Pelita Hati: Berbicara dan mendengarkan secara tepat akan sangat menolong setiap anggota keluarga untuk saling mengungkapkan isi hati, pengalaman, dan perasaan satu sama lain.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar