Sabtu, 11 Agustus 2012

Renungan Harian: Senin 13 Agustus 2012

Renungan Harian: Senin 13 Agustus 2012

Mat 17:22-27

Sekali peristiwa Yesus bersama murid-murid-Nya ada di Galilea. Ia berkata kepada mereka, "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia; mereka akan membunuh Dia, tapi pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." Maka hati para murid itu pun sedih sekali. Ketika Yesus dan para murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah seorang pemungut pajak bait Allah kepada Petrus dan berkata, "Apakah gurumu tidak membayar pajak dua dirham?" Jawab Petrus,"Memang membayar."

Ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan,

"Bagaimana pendapatmu, Simon? Dari siapa raja-raja di dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?" Jawab Petrus,"Dari orang asing!" Maka kata Yesus kepadanya,"Jadi bebaslah rakyatnya! Tetapi agar kita jangan menjadi batu sandungan bagi mereka,

Pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu."

 

JANGAN MEMBUAT SANDUNGAN

Penjelmaan Yesus utuh dan Ia menjalani itu seutuh-utuhnya, lengkap sebagai anggota umat. Ia bersama umat pendosa minta dipermandikan oleh Yohanes Pembaptis. Ia tidak mengistimewakan diri dalam pergaulan, tetapi dekat pada para pembea, pendosa, wanita tunasusila. Ia seorang guru yang berbicara dengan wanita Samaria, Ia menerima ibu-ibu dengan anak-anaknya yang mohon berkat. Semua itu kekecualian di Israel! Justru karena Yesus berbuat "begitu biasa", merendahkan diri sebagai rabbi, sehingga ditunjuk oleh para musuh banyak cacat-cela-Nya.

Yesus yang begitu biasa, sederhana, murah hati terhadap pendosa, lembut kepada orang sakit dan menderita, berkali-kali menjadi "sandungan" bagi para pemegang hukum Taurat, para ahli kitab dan kaum Farisi: kalau Ia melanggar hukum Sabat, kalau Ia membiarkan para murid makan tanpa membasuh tangan, tidak mengindahkan larangan makanan.

Di sini sikap Yesus menjadi jelas dalam garis-garis perutusan-Nya sebagai Putera Bapa yang menjelma: Ia diutus untuk menyembuhkan orang yang remuk-redam: maka Ia mendekati para pendosa, ikut dibaptis bersama mereka, yang butuh pengampunan. Ia mau biasa dalam makan-minum, pergaulan sampai membayar pajak. Tetapi di mana kehormatan Bapa dilanggar, Ia bisa mengusir orang berjualan dari bait suci. Tetapi terutama, bila gambaran dan kebaikan Bapa dinodai oleh peraturan sia-sia, dan umat tak berdaya dijauhkan dari pengalaman cinta kasih Allah dalam agama, maka hal itu ditentang oleh Yesus mati-matian: Ia menjadi sandungan! (HN).

 

Pelita Hati: Jangan kita menjadi sandungan bagi Tuhan dengan berdalih mempertahankan aturan.

.

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar