Jumat, 17 Agustus 2012

Renungan Harian: Rabu 22 Agustus 2012

Renungan Harian: Rabu 22 Agustus 2012

Mat 20:1-16a

Sekali peristiwa Yesus mengemukakan perumpamaan berikut kepada murid-murid-Nya, "Hal Kerajaan Surga itu seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah sepakat dengan para pekerja mengenai upah sedinar sehari ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula, dan dilihatnya ada orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka, 'Pergi jugalah kalian ke kebun anggurku, dan aku akan memberimu apa yang pantas.' Dan mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga sore ia keluar pula, dan berbuat seperti tadi.  Kira-kira pukul lima sore ia keluar lagi dan mendapati orang lain pula; lalu katanya kepada mereka, 'Mengapa kalian menganggur saja di sini sepanjang hari?' Jawab mereka, 'Tidak ada orang yang mengupah kami.' Kata orang itu, 'Pergilah kalian juga ke kebun anggurku.' Ketika hari sudah malam berkatalah tuan itu kepada mandornya, 'Panggillah sekalian pekerja dan bayarlah upahnya, mulai dari yang masuk terakhir sampai kepada yang masuk terdahulu.' Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima sore, dan mereka masing-masing menerima satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu. Mereka mengira akan mendapat upah yang lebih besar. Tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya, 'Mereka yang masuk paling akhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau...

 

Kemurahan Hati Allah

Para pekerja yang dipanggil pemilik kebun anggur pada pukul lima sore, menerima upah yang sama seperti para pekerja yang dipanggil pagi-pagi. Para pekerja yang pertama-tama dipekerjakan, merasa dirugikan oleh tuan kebun. Sama seperti anak sulung merasa dirugikan ayahnya, setelah adiknya yang hilang pulang ke rumah. Sama seperti Yunus merasa dirugikan Allah, karena Allah mengampuni penduduk kota Ninive yang kafir itu!

Allah memanggil semua manusia. Ia mempekerjakan mereka langsung setelah Ia berjumpa dengan mereka. Masuk akalkah, bila orang kecewa, bahwa Allah ingin memberi upah yang memuaskan kepada mereka semua? Cara Allah bertindak tidak bertentangan dengan keadilan manusiawi. Tetapi cara itu secara total melampaui keadilan manusiawi, sebab didasari oleh kasih dan kemurahan Allah.

Perumpamaan ini mengundang kita merenungkan tindakan Allah yang penuh kemurahan hati itu dengan melupakan cara biasa kita berpikir. Sebab kita biasa berpikir secara picik. Segala sesuatu kita nilai dalam rangka keadilan yang kita alami di bumi dan dalam rangka perjanjian-perjanjian timbal balik yang mengatur hubungan antarmanusia (HN).

 

Pelita Hati: Cara Allah bertindak tidak bertentangan dengan keadilan manusiawi. Mari kita meneladan kasih dan kemurahan hati-Nya.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar