Selasa, 28 Agustus 2012

Renungan Harian: Kamis 30 Agustus 2012

Renungan Harian:  Kamis 30 Agustus 2012

Mat 24:42-51

Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, "Berjaga-jagalah, sebab kalian tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini:

Jika Tuan rumah tahu pada waktu mana pencuri datang waktu malam, pastilah ia berjaga-jaga dan tidak membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu hendaklah kalian selalu siap siaga, sebab Anak Manusia datang pada saat yang tidak kalian duga. Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberi makan kepada mereka pada waktunya? Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya sedang melakukan tugasnya itu, ketika tuannya datang. Aku berkata kepadamu: Sungguh, tuan itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi jika hamba itu jahat, dan berkata dalam hatinya, 'Tuanku tidak datang-datang,' lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama para pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak ia sangka, dan pada saat yang tidak ia ketahui. Maka hamba itu akan dibunuhnya dan dibuatnya senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.'

Syukur

Syukur selalu berhubungan dengan kasih karunia dan kesetiaan. Seorang anak tiba-tiba mengatakan, "Aku tak bersyukur atas kelahiranku". Lantas ia dibilang orang anak yang tak setia. Mengapa ia berkata begitu? Karena ia merasa, ia bukan buah dari kasih karunia orangtuanya. Kita adalah buah kasih karunia Tuhan. Maka kita patut bersyukur pada-Nya. Sebab semua yang kita peroleh adalah hasil pemberian dan anugerah-Nya. Inilah tanda kesetiaan kita, bila kita mampu menunjukkan tanda syukur kita.

Hamba yang setia dalam Injil hari ini mengungkapkan rasa terima kasihnya dengan melaksanakan tugasnya. Ia memelihara para hamba yang dipercayakan kepadanya. Sebab ia tahu bahwa kedudukan yang didapatnya sekarang ini hanyalah pemberian mandat sementara. Syukur bahwa dia pernah diberi kesempatan untuk belajar memimpin orang lain.

Sayangnya pada masa kita sekarang ini jarang orang tahu bersyukur. Setelah menjadi pejabat atau memperoleh pangkat, sering orang mulai bertindak semena-mena. Ia tidak menyadari lagi bahwa itu hanyalah pemberian dari rakyat atau orang-orang yang mempercayakannya. Kasih karunia dan usaha memang beda tipis. Tetapi kalau tidak mau melihat ada karunia di dalamnya, maka kesombongan menanti di sana. Itulah yang akan merusak citra kita. Sebab itu bersyukurlah pada pemberi  kasih dan damai sejahtera itu supaya tetap indah citra kita (MARS).

 

Pelita Hati: Kita merupakan buah kasih Tuhan sehingga patut bersyukur kepada-Nya.

 

Diambil dari Nyalakanlah Pelita Hatimu, Renungan Harian 2012, Penerbit Bina Media Perintis, Medan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar